Brakkk.....
Seorang wanita melemparkan dengan kasar beberapa buku yang dibawanya ke meja tempat dia dan aku duduk, dia adalah teman perempuan satu kampusku mungkin moodnya sedang tidak bagus hari ini ditambah dengan tugas resensi yang tiba-tiba diberikan dosen saat dikelas tadi dengan deadline besok.
Aku bertaruh siapapun pasti akan merasa kesal juga ketika berada diposisi seperti ini, kulihat dia sedang duduk termenung sesaat entah apa yang sedang dipikirkannya nafasnya memburu dan matanya menatap kosong kebawah kurasakan aura yang tidak mengenakan darinya.
"Kenapa bengong, Sil? Ada apa?" Tanyaku yang khawatir karena perilakunya yang seperti ini
"Capek Syad, lelah dengan semua ini.. tugas-tugas yang menyebalkan dan tidak ada habisnya ini, ditambah manusia menyebalkan bernama dosen itu.. Kerjaannya tiap hari ngerjain mahasiswa terus ngasih tugas bejibun udah gitu deadlinenya gila, kadang juga seenaknya ganti jadwal dan minta masuk dihari libur.. Otakku penat, Syad mending nikah ajadeh"
Sontak mataku membulat sempurna ketika mendengar perkataannya barusan..
"Memangnya kamu ini sudah siap untuk menikah, Sil?"
"Yaa belum begitu sih... Tapikan nikah itu enak, setelah nikah nanti aku akan hidup berdua dengan suamiku.. Melayaninya, merawatnya, dan menjadi istri yang baik untuknya ketika aku sedih aku bisa berbagi dengannya bahkan ketika aku lelah dengan kegiatan kuliahku pun aku bisa berbagi dengannya, dia akan menjadi penyemangat yang baik untukku" sambil tersenyum dia mengatakannya sepertinya moodnya mulai membaik ketika membicarakan ini
"Yahh memang itu indah sih Sil tapii, apa kamu tahu pernikahan tidak semudah itu?"
"Irsyad, pernikahan itu memang tidaklah mudah tapi jika kita dan pasangan bisa menghadapinya bersama-sama kurasa akan terasa mudah" kali ini dia menatapku serius
"Hmm... Kalau begitu bagaimana jika setelah menikah pasanganmu berubah dan tidak seperti yang kamu harapkan?"
"Yah jangan mendoakanku seperti itu dong, Syad"
"Aku tidak mendoakanmu seperti itu, Sil.. Tapi kamu juga harus ingat pasanganmu itu hanya manusia, dan manusia bisa berubah kapan saja apalagi jika diumur yang masih belum matang" aku mulai berbicara serius
"Kalau begitu aku akan cari laki-laki yang sudah dewasa"
Aku menghela nafas panjang sebelum menjawab perkataannya, ini cukup sulit untuk mengubah pemikiran wanita tentang pernikahan.. Yahh mereka memang makhluk perasa jadi akupun harus menghadapinya dengan perasaan..
"Sisil maaf aku harus mengatakan ini.. Lantas apakah laki-laki dewasa akan bersedia untuk menikahimu wanita yang bahkan pada tanggung jawabmu saja kamu menyerah dan memilih untuk mencari jalan pintas lain?"
Sisil terdiam dan perlahan menundukkan kepalanya wajahnya tertutupi oleh rambut panjangnya..
"Sisil pernikahan itu banyak sekali rintangannya juga banyak persiapan yang harus kamu siapkan sebelum melangkah kesana, yang paling penting kamu harus mempersiapkan mentalmu dan membuang ego yang ada didalam dirimu..
Sebab pernikahan bukanlah hanya tentang bersenang-senang berdua atau bermesra ria selalu tapiii, lebih dari itu Sil pernikahan adalah ibadah, kamu tidak boleh mencampurinya dengan tujuan duniawi"
Kulihat Sisil masih tak bergeming, aku jadi merasa bersalah tapi bagaimanapun aku tetap harus menyampaikannya..
"Kamu wanita yang baik, Sil.. Hanya butuh waktu untukmu bisa mempersiapkan segalanya dan kamu akan mendapatkan yang terbaik, kamu mau kan pernikahanmu abadi?"
"Iya, Syad.. Aku ingin hingga ke surga bersama" dia mulai menatapku dan perlahan senyum mulai terukir manis diwajahnya, aku lega melihatnya seperti ini.
"Itu lebih indah dari apapun, Sil.. Sekarang kita hanya perlu memperbaiki diri dan memantaskan hingga waktunya tiba"
"Terima kasih, Syad.. Kamu sangat baik istrimu dimasa depan pasti akan sangat bangga padamu haha" dia tertawa mengatakannya, aku hanya ikut tertawa juga
"Baiklah sekarang, bolehkah kita segera mengerjakannya?" Aku menunjuk pada tumpukan buku-buku yang tadi dilempar olehnya, sesaat mulutnya cemberut pertanda kesal..
"Baiklah, ayo"
Kamipun akhirnya mulai mengerjakan tugas kami..
Sekilas info tentangku..
Namaku Irsyad Putra, seorang mahasiswa tahun ketiga jurusan Seni di salah satu Universitas ternama di Indonesia.
Aku pernah berpikir untuk menyerah pada kehidupan ketika aku mengalami masa-masa sulit, tapi ternyata Tuhan memberiku kesadaran dan kini aku menjadi lebih bijak dalam memandang kehidupan.
Inilah kisah keseharianku dan bertemu dengan banyak orang yang akan mengubah hidupku.
YOU ARE READING
Suatu Hari..
Short Story"Aku lelah dengan semua ini, semua yang ku kerjakan tidak pernah ada habisnya aku ingin berhenti saja" Kata-kata itu pasti seringkali keluar dari mulut kita ketika kita sudah merasakan kelelahan yang teramat dalam pada sesuatu yang kita kerjakan. Sa...
