Bagi Furu, seorang siswa kelas XII di sebuah SMA di Bandung, pintu adalah pembatas antara dua dimensi yang kontras. Setiap kali dia sekolah, maka yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana cara untuk melewati pintu itu sesegera mungkin dari dalam kelas. Keluar untuk menghirup partikel-partikel positif yang mengapung terbawa oleh semilir angin. Tak ada rasa nyaman setitikpun pada emosinya. Karena dia selalu saja ditindas oleh teman laki-laki juga perempuan, sebab Furu memiliki tubuh yang lebih pendek di antara yang lain dan juga memiliki sikap yang agak gemulai. Padahal, setahun terakhir, Furu terus mencoba untuk berjalan sebagaimana lelaki maskulin nan gagah perkasa. Namun apa daya, Furu tetaplah menjadi Furu. Cara jalan yang tetap gemulai walau sudah sedikit memudar.
Suasana kelas begitu ribut. Karena Guru yang mengajar berhalangan hadir kali ini. Terik matahari pagi tak mampu dihadang oleh kaca yang terbalut tabir. Sehingga memantul tepat di dahi Furu yang agak lebih luas dibanding yang lain. "Aduh silau Ru!", seru Tonga dengan gelagat mengejek. "Tutupin dong, tutupin", sambungnya sembari Tonga menyimpan telapak tangannya pada dahi Furu.
Furu hanya bergeming. Seperti sudah tak peduli lagi akan ejekan itu, karena hampir setiap waktu ia diejek macam itu. Seketika Salbi—teman perempuan Furu—yang berada di dekat mereka, berdiri dan melangkah ke hadapan Tonga. "Jangan gitu dong Nga! Memangnya kamu gak puas terus-terusan mengejek Furu?"
"Sudahlah Sal, semuanya akan baik-baik saja", timpal Furu dengan lemah. Mencoba untuk mendinginkan suasana sebelum panas.
"Tapi kan kamu dihina terus!", tegas Salbi.
"Aku sudah katakan, semua akan baik-baik saja. Lagipula bila aku melawan memangnya ada untungnya bagiku dan bagimu? Jika sudah begini, aku memilih bahwa jalan hidupku ini partikelir", jelas Furu.
Tonga tertegun. Pandangannya kosong. "Bila kamu terus diam. Lalu kamu terus memupuk kesedihan dan kesakitan. Maka saat apa kamu akan melawan?", tanya Salbi pada Furu.
"Saat mati akibat diejeknya, maka pusara ku akan abadi dalam pekarangan hatinya", sahut Furu.
Furu berjalan menuju bangkunya yang ada di barisan pertama. Lain dengan Salbi yang tak ingin beranjak dari masalah ini. Karena baginya bahwa perikemanusiaan itu terkadang dikoyak oleh hal yang dianggap kecil, seperti penindasan terhadap teman. Salbi menjulurkan tangannya, menahan tubuh Tonga yang akan beranjak.
Suara Salbi menggetarkan gendang telinga Furu. Melihat Salbi yang terus menaikkan darahnya pada Tonga, Furu bergegas menghampirinya. "Salbi, aku sudah katakan semua akan baik-baik saja", tutur Furu sembari meletakkan tangan kanannya pada bahu Salbi. "Tonga, hina aku sepenuh amarahmu, sepenuh egomu, aku akan menerima itu. Sebab, aku bukanlah dirimu yang bisa menghina raga temanmu sendiri", jelas Furu sembari meletakkan tangan kirinya pada bahu Tonga. Furu melepas senyum yang amat lebar. Tonga mendengus dengan raut wajahnya yang memerah. Lalu seketika meninggalkan Furu dan Salbi.
"Benar kau tidak apa-apa?", tanya Salbi memastikan keadaan Furu.
"Tak, hari-hariku selalu seperti ini, waktu-waktuku selalu seperti ini. Tenang saja", jelas Furu.
Salbi meninggalkan Furu. Furu duduk di kursi yang entah tempat siapa. Dia termenung. Hari demi hari dia selalu saja memiliki waktu untuk termenung. Tapi, teman-temannya tak ada yang mengkhawatirkannya, kecuali Salbi. Sebetulnya, jiwa Furu ini benar-benar luluh lantak. Dahulu dia seringkali menangis di sudut kamarnya sembari membentur-benturkan kepala dan tubuhnya pada dinding. Furu terus saja menyalahkan raganya. Tetapi dia mulai tersadar bahwa jiwa dan raga adalah anugerah Tuhan yang terbaik. Dia menegaskan dalam benang pendiriannya bahwa hinaan ini akan membuatnya semakin baik, semakin tersadar. Dan sebaliknya, bahwa hinaan ini akan semakin memperburuk pengina, merusak penghina. Huft, Furu menghela napas.
Furu beranjak dari kursi. Melangkah menuju pintu. Furu melewati pintu yang dia namai pembatas dua dimensi. Seketika Furu menghirup napas sedalam-dalamnya. Dia duduk pada sebuah kursi yang berada di selasar kelas. Furu mengamati setiap langkah dan cara berbicara setiap orang yang melintas di depan matanya. Tak ada yang lain di benaknya, kecuali bagaimana dia merubah sikapnya agar terbebas dari belenggu penindasan.
Sejurus kemudian, Salbi menghampiri Furu. Lalu, Salbi duduk di sampingnya. "Aku begitu salut padamu, jiwamu begitu kukuh!", jelas Salbi.
"Ah, tak ada yang kamu bisa pelajari dari lelaki gemulai", timpalnya.
"Tetapi aku tak melihat celah dalam jiwamu untuk bertindak gemulai", tutur Salbi. "Memang betul keadaan ini yang membuatmu kuat?"
"Bagiku keadaan ini hanyalah seperti cuaca, yang seringkali fluktuatif. Terkadang kemarau, terkadang hujan, terkadang yang lainnya", jelas Furu.
Salbi mengernyitkan dahi. "Maksudmu? Aku tak begitu paham"
"Ya, terkadang keadaan ini cerah, terkadang mendung. Keadaan ini terkadang berpihak baik, terkadang menindas. Namun yang pasti kuambil itu untuk menguatkan", sahut Furu.
Salbi menyimpan senyum. Pertanda terpukau pada perkataan Furu. Dia ini manusia atau apa? Kuat sekali, kata Salbi dalam hati.
Furu menghadapkan tubuhnya ke arah Salbi. "Satu pelajaran yang ku dapat, bahwa raga terkadang menumbuhkan derai-derai jelaga dalam hati. Dan jiwa adalah asap yang mengepul, tetapi kamu harus membuatnya pekat", jelas Furu.
"Semua akan baik-baik saja, benar?", tanya Salbi sembari tertawa kecil.
Furu mengangguk dengan tertawa.
***
KETERANGAN:
1) fluktuatif/fluk·tu·a·tif/ a bersifat fluktuasi
2) fluktuasi/fluk·tu·a·si/ n 1 Ek gejala yang menunjukkan turun-naiknya harga; keadaan turun-naik harga dan sebagainya; perubahan (harga tersebut) karena pengaruh permintaan dan penawaran; 2 ketidaktetapan; kegoncangan
3) partikelir/par·ti·ke·lir/ a bukan untuk umum; bukan kepunyaan pemerintah; bukan (milik) dinas; swasta
YOU ARE READING
PINTU
Short StoryPintu hanyalah sebuah benda yang memberi ruang pada tiap manusia untuk berinteraksi dengan apa-apa yang ada pada dunia dalam dan luar. Namun berbeda dengan Furu.
