Tok tok tok. Suara ketukan pintu membangunkanku dari mimpi indah. “Bangun putu, hari ini kan hari pertama kamu bekerja!.” Teriak ibuku dari luar pintu. “ Ya, bu!.” Aku pun beranjak dari tempat tidur dengan mata yang masih merah akibat begadang nonton bola. Langsung ku ambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. Sekilas tentang ibuku, ibuku adalah orang yang baik hati, rajin beribadah, dan ibuku mempunyai indera keenam. Tapi, aku belum merasakan bahwa aku mendapatkan indera keenam dari ibuku. Setelah selesai mandi, Aku langsung turun dan sarapan bersama keluargaku tercinta. “ Buatlah yang terbaik di hari pertamamu ini, nak. “ Ucap ayahku seraya menepuk bahuku dengan keras sampai aku tersedak saat sedang memakan mie instan. Sekilas tentang ayahku, ayahku adalah sosok yang tegas dan tentunya baik hati, dia memiliki badan yang atletis, sosok idaman kaum hawa. “ Ya, yah. Aku akan melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuaku.” Ucapku dengan penuh semangat. Aku pun beranjak dari kursi dan menyalami mereka berdua. “ Pergi dulu yah, bu. Assalamu’alaikum.” Ucap ku sembari keluar rumah.
Matahari rupanya sudah memancarkan cahayanya. Kulihat jam tanganku, “ Sudah pukul tujuh nih.” Ucapku sembari berlari menuju ke halte bis. Di halte, saya bertemu dengan wanita yang saya sukai, Astri. Akhirnya bus yang telah kami tunggu sejak tadi datang juga. Kami pun berangkat ke kantor untuk bekerja pada hari pertama. Di perjalanan, saya cuma sedikit basa basi dengan astri. Setibanya di kantor, kami langsung menuju ke lift dan ke ruangan kami masing – masing. Sekilas tentang kantor saya, kantor saya memiliki 7 lantai dan cukup luas. Saya pun langsung duduk di tempat saya dan mulai bekerja. “ Hei kamu tahu, tidak?. Dulu, kantor ini bekas kuburan.” Terdengar seseorang sedang bercerita tentang asal usul kantor ini. Bulu kudukku langsung berdiri mendengar hal itu. Maklum, aku orangnya agak penakut. Tapi, aku tak ambil pusing dan segera bekerja kembali. Menurutku, kantor ini tidak seram dan terdapat sungai di belakangnya menambah kesan tersendiri buat kantor ini. Tapi, sungai tersebut pernah diceritakan oleh satpam di kantor ini bahwa dia pernah melihat sesosok kuntilanak merah di sungai tersebut.
Pundakku terasa seperti ada yang menyentuh. “ Hei, putu. Makan siang bareng yuk. “ Ternyata astri, aku kira setan. “ Boleh juga tuh, yuk. Lets go” Kami pun langsung beranjak meninggalkan ruangan menuju restoran yang terletak di samping gedung kantor ini. “ Bagaimana hari pertamamu di kantor, astri?.” Ucapku sambil mencairkan suasana. “ Alhamdulillah, lancar. Cuma ada sedikit gangguan dari penunggu toilet di kantor ini” Ucap astri sambil tersenyum kepadaku. Aku langsung mendadak merinding. “ Putu, kamu kok pucat?.” Ucap astri sambil tertawa kecil. “ Ah, Tidak apa – apa, kok.” Ucapku spontan, aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku merinding. Setelah selesai makan siang, kami bergegas ke kantor dan kembali menuju ke ruangan kami kembali.
Jam menunjukkan pukul 4 sore saat bos datang ke ruanganku. “ Ada yang bisa saya bantu, pak?” Ucapku sopan. “ Tolong kamu selesaikan ini semua, ya. Saya ada urusan mendadak. Kamu lembur saja hari ini. Itu sebagai ucapan selamat datang dari saya.” Ucap bosku. “ Siap. Saya akan menyelesaikan semuanya, pak.” Ucapku dengan penuh semangat tanpa memperdulikan kisah yang diceritakan tadi pagi. Bosku langsung bergegas keluar ruangan. “ Banyak sekali nih. Tapi, aku harus tetap semangat!.” Ucapku sambil mulai bekerja menyelesaikan tugas dari bosku.
Jam menunjukkan pukul 17:45 sore. Astri datang ke ruangan saya dan mengajak pulang bersama. Tapi, saya menolaknya dengan alasan harus lembur. Astri pun tersenyum dan pergi meninggalkan saya. “ Waduh, gagal pdkt nih.” Ucapku kecewa. Teman – teman seruangan saya satu per satu mulai pulang dan sekarang hanya tersisa saya di ruangan ini. Sayup – sayup terdengar suara adzan maghrib. Saya pun bergegas untuk sholat maghrib di kantor. Saya selalu membawa sajadah saya kemanapun saya pergi. “ Allahuakbar.” Saya pun memulai rakaat pertama. Sepanjang rakaat pertama dan kedua tidak ada hal yang janggal. Tapi, pada saat rakaat ketiga. Sreettt. Terdengar suara pintu ruangan terbuka. Saya pun berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu. Pada saat saya hendak melakukan salam, samar – samar terlihat sosok bayangan hitam di belakang saya. Bulu kuduk saya kembali berdiri. Saya kembali berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu. Akhirnya saya selesai melakukan sholat maghrib. Terlihat pintu terbuka setengah bagian. Pikiranku mengatakan angin yang melakukan hal ini. Saya pun menutup pintu dan kembali bekerja.
Saya pun berusaha untuk tidak memikirkan apa yang barusan terjadi dan bekerja dengan tenang. Tidak ada gangguan pada saat saya bekerja. Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu. “ Masuk.” Rupanya, satpam yang datang. “ Mau ditemani, kang?. Sudah jam 10 loh.” Saya baru sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. “ Tidak usah, pak. Saya berani, tenang aja.” Ucapku bohong, padahal aku sedang merinding disko. “ ya sudah. Saya kembali ke bawah lagi ya pak. Lampunya jangan lupa dimatikan ya, pak. “ Ucap pak sumanto, nama satpam tersebut. Dia pun pergi setelah saya menganggukan kepala. Suasana bertambah mencekam ketika waktu menunjukkan pukul 23.45 malam. Akhirnya, pekerjaan pun selesai dan saya bergegas membereskan peralatan. Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu. “ Masuk” ucapku. Namun, tidak ada jawaban. Tok tok tok. Terdengar lagi suara ketukan pintu. Bulu romaku kembali berdiri. Tapi, aku memberanikan diri dan membuka pintu itu. Tidak ada siapapun di luar, sunyi. Angin dingin melewati tubuhku seolah ada sesuatu yang menembus tubuhku. “ Mulai tidak beres nih.” Langsung kututup pintu dan segera merapikan peralatan sambil berharap tidak ada yang mengganggu. Harapanku tidak terkabul. Krek.. krek. Terdengar suara garukan di dinding. Aku mulai merinding dan segera merapikan tasku. Akhirnya, saya sudah selesai merapikan tas. Tapi, pada saat saya membalikkan badan dan bergegas ingin pulang, ada satu sosok mencegatku di pintu keluar. Sesosok yang menggunakan daster merah dan rambut terurai panjang. Badanku langsung terasa tidak bisa digerakkan. Hihihihihihi suara cekikikan dari kuntilanak merah tersebut. Saya langsung membaca ayat kursi dan berharap kuntilanak tersebut pergi. Kuntilanak tersebut malah tertawa dan terbang menembus langit – langit kantor. Akhirnya badan saya kembali bisa digerakkan dan saya bergegas keluar ruangan. “ Waduh, pengen buang air kecil.” Saya langsung berlari menuju toilet lantai 4 ini. Sesampainya di toilet, perasaan saya kembali tidak enak. Syur... syur... terdengar seperti seseorang yang sedang menyiram kloset tepat di samping toilet saya. “ Waduh, apa lagi ini.” Pikirku dalam hati. Saya pun keluar toilet dan mencari tahu siapa yang ada di samping toilet saya. Kriett.... suara pintu toilet terbuka. Keluarlah sesosok nenek – nenek yang sedang membawa gayung sedang menatap saya dengan wajahnya yang penuh luka. Langsung saya melarikan diri dari toilet angker tersebut dan segera menuju ke lift. Ketika sampai di lift, saya menekan tombol untuk membuka pintu lift. Namun, tidak terbuka. Alhasil saya harus menuruni tangga yang gelap di samping lift tersebut. “ Mampus saya.” Saya pun segera berlari menuruni anak tangga. Lantai 3 dan 2 berhasil kulewati. Namun, di lantai pertama saya menemukan sebuah bantal guling yang besar di ujung tangga. Tapi, saat kudekati ternyata itu adalah Pocong!. Langsung ku ambil langkah kaki seribu dan keluar dari kantor yang menyeramkan ini.
Di tempat satpam, pak sumanto heran melihat saya sedang berlari seperti atlet lari jarak pendek. “ Akhirnya saya keluar!.” Teriakku senang setelah keluar dari gedung berhantu ini. “ Sudah kenalan, ya?. Hahahahaha” Ledek pak sumanto. “ Ngeri pak. Ini kantor atau kuburan sih.” Ucapku kesal. Pak sumanto pun menceritakan bahwa kuntilanak merah tersebut adalah korban pemerkosaan dan bunuh diri di sungai yang berada di belakang kantor. Sementara pocong dan nenek tersebut memang penunggu di kantor ini. Saya pun lega setelah keluar dari kantor. Jam menunjukkan pukul 12 malam. “ Apa ada angkot atau bis jam segini?” pikirku. Saya pun berjalan pulang. Tapi, dalam kegelapan muncul angkot dan berhenti tanpa aku minta. Aku langsung naik angkot tersebut tanpa pikir panjang. Tidak ada yang aneh dari angkot itu kecuali cuma ada sesosok wanita yang terus menunduk tepat di depanku. Angkot itu berhenti di depan kuburan. Wanita tadi pun turun dengan langkah lunglai. Angkot kembali berjalan. “ Untung saja, ku kira aku bakal mampus lagi.” Aku melihat ke belakang dan melihat wanita tersebut sudah menghilang di telan kegelapan malam. Angkot tersebut berhenti tepat di depan rumahku tanpa ku beritahu. Aku turun dari angkot dan hendak membayar angkot. Tapi, sesosok pastur tanpa kepala yang menjadi supir angkot tersebut. Langsung ku ambil langkah kaki seribu dan masuk ke rumahku. Orang tuaku yang mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras terbangun dan keluar kamar. “ Kamu kenapa, putu?. Kayak habis dikejar setan “ Tanya ibuku heran. “ Kau seperti atlet maraton, putu. Hahahahaha” Ledek ayahku. “ Tidak apa – apa yah, bu. Saya tidur dulu ya.” Saya langsung bergegas ke kamar. Kuhempaskan badanku ke kasurku yang empuk untuk melupakan segala kejadian yang terjadi hari ini. Mataku terasa berat dan aku pun terbawa ke awang – awang dan akhirnya terlelap.
YOU ARE READING
Kumpulan cerpen semua genre
Short StoryKUMPULAN CERPEN SEGALA GENRE. SELAMAT MEMBACA. SALAM LITERASI.
