prlog

42 5 0
                                        


Tubuhku bergetar di hadapan cermin. Tanpa sengaja butiran kristal jatuh di pelupuk mataku. Kuelus perlahan wajahku yang kian hari rautnya kian menjadi penegas kondisiku. Yah! Hatiku bersorak hari ini.  Cukup sudah luka mempermainkanku, bahkan aku tidak lagi mengingat bagaimana aku begitu mengutuk diriku agar terleburkan bersama kobaran api. Sebab aku sudah menemukan jalan pulang.

Disudut ruangan kutemukan ia duduk bersandar dengan kecemasan. Aku mencoba merasukinya yang telah terbawa arus imaji. Kuraih pergelangan tangannya penuh pinta namun ia tak bergeming. Bahkan genggamanku tidak mampu mengeluarkan pikirannya dari belenggu yang ia ciptakan sendiri. 
“Kemarin aku bermimpi tentang kebahagiaan.” ucapnya pelan.
Ditimpanya genggamanku dengan kedua tangannya. Aku terpaku pada keganjilan suasana ini.
“Semua orang pernah mengalaminya.”
“Tokoh utamanya sama dengan hari ini. Kamu dan aku.” ujarnya.
Aku tersenyum. “Saat ini kamu hanya mencoba menyelaraskan segalanya.”
“Aku tidak paham. Semua ini bukan aku yang menginginkannya.”
“Jika bukan kamu, lalu siapa?” tanyaku.
“Perasaanku padamu.”

Sebuah pernyataan yang kunanti sedang menenangkanku. Kuamati ia dibalik helaian rambutnya yang panjang. Bola matanya memancarkan ketulusan, kecintaannya padaku begitu mendalam dan aku tahu itu sudah ada sejak dulu.

Sepasang mataku berkerjap haru tatkala sebuah tubuh menyentuh erat punggungku. Aku mencoba tidak menangis, namun sayangnya kelopak mataku kembali memproduksi cairan bening. Aku tidak bisa meruntuhkan pertahanannya dengan keputus-asaan. Perasaannya terlalu kuat, bahkan membiusnya dengan kabar buruk sekalipun tidak akan mampu meluluhkannya.

“Sebenarnya apa yang kamu takutkan?”
“Rasa cintaku.” jawabnya.
“Kamu tahu? Hanya dengan kamu mengatakan aku mencintaimu, iblis dalam diriku menyesal telah menjadi jahat.” aku tersenyum kearahnya.
“Jangan meninggalkanku sekalipun Tuhan mencabut nyawamu.”
Ia mengelus pipiku. Ucapannya begitu mengklaimku, sewajarnya luapan perasaan seorang pria pada wanita. Kuberanikan diri memandang sepasang matanya, disana begitu banyak penjelasan yang tidak ia utarakan. Salah satunya mengenai ketidaktakutannya pada segala keburukan yang akan terjadi. Dia hebat. Aku tidak menyesal telah mengaguminya.

“Aku akan hidup lebih dari yang kamu bayangkan.”
Pria ini tidak lagi berbicara. Perkataanku menghilangkan kegundahan yang bergayut di wajahnya. Dia mendesah kemudian mendekapku. Hati kami saja yang semakin asyik saling menyelami.


#NEXT

He Is LoveStories to obsess over. Discover now