GADIS cantik dengan surai coklat terang itu baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia mengerjapkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya disekitarnya. Ia tak menyangka jika langit sudah menunjukan senja. Setelah mengumpulkan nyawanya, ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang beberapa menit ia sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe berwarna putih yang menutupi tubuh polosnya.
Drrrttt.. Drrrttt..
'Papa..' gumamnya saat melihat nama yang tertera pada ponsel pintarnya.
"Halo baby! Gimana kabarnya?" sapa orang diseberang sana.
"Halo pa, baik, papa sendiri gimana?" ucapnya seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Baik juga. Bunda sama David kangen sama kamu. Apalagi bunda. Bunda lagi sakit, kamu nggak mau jenguk gitu?" gadis itu berhenti sejenak.
"Kalau gitu Lysta pindah ke Indonesia aja ya, pa? Lysta betah sih disini. Tapi sekarang kayaknya bunda lebih butuh Lysta. Nanti Lysta sekolah disana aja. Lysta juga bingung, dulu kenapa ya Lysta pengen banget ke London,"
"Kalau kamu maunya gitu nggak pa-pa kok. Papa, bunda, sama David pasti bakal seneng dengernya. Yaudah ya, ini papa banyak berkas yang harus dikerjain dulu. Bye sweety!" Lysta memutuskan sambungan telponnya setelah membalas salam.
Gadis itu bernama Callysta Deodora Edgina. Umurnya sudah menginjak delapan belas tahun. Ia juga lebih suka dipanggil Lysta. Lysta itu blesteran Jerman dan Indonesia, Indonesia ayahnya, Jerman bundanya. Lysta memiliki paras rupawan seperti bundanya. Rambut coklat terang yang mewarisi sang bunda, mata hitam teduh dari sang ayah. Ia sekarang bersekolah di London. Ia di London sebenarnya untuk melupakan seseorang, usahanya berhasil dengan dukungan sahabatnya.
Lysta memiliki sifat yang unik. Manja, sensitif, ceria, dan cengeng merupakan sifatnya yang mewarisi kedua orang tuanya. Lysta bisa mengerikan ketika lagi dapet, dan kakaknya yang biasa dijadikan pelampiasan olehnya.
Sekarang Lysta sedang mengemas barang-barang yang akan dibawa. Setelahnya, dia berbaring diatas kasur ukuran king size miliknya itu. Memikirkan bagaimana ia akan berbicara kepada sahabatnya itu. Tak lama matanya terasa berat, dan tanpa ia sadari, ia tertidur pulas.
***
"Monic maafin gue, maaf baru ngasih kabar. Sore ini gue bakal balik ke Indonesia, dan bakal pindah kesana," tutur Lysta dengan nada penyesalan.
Dari seluruh orang yang ada di sekolahnya, —mungkin—hanya Monic yang bisa bahasa Indonesia, atau bisa jadi masih banyak yang bisa, tetapi Lysta belum bertemu dengan orang tersebut. Jadi, mereka bisa tenang untuk mengobrol, dan bercanda.
Monik mengangguk pelan. "Nggak pa-pa kok. Gue titip salam ya sama bonyok lo. Kalau udah lulus gue nyusul deh,"
"Yaudah, gue ke bandara dulu ya! Takutnya macet nanti di jalan. Bye!" Lysta melambaikan tangannya dan berjalan menuju mobil yang akan ditumpanginya.
Lysta memandang keluar jendela untuk menikmati pemandangan sebelum ia berangkat ke Indonesia. Ia sedang asik bernostalgia bagaimana pertama kalinya ia disini, bertemu dengan Monic, sampai ia pernah salah orang yang ia kira adalah Monic. Lysta terkekeh pelan mengingat kejadian itu. Namun senyumannya hilang, ia masih ingin bersama Monic, tapi ia tak boleh egois, bundanya membutuhkannya. Memang sulit meninggalkan kota indah ini, tapi lebih sulit jika ia tidak akan lagi bertemu dengan orang kesayangannya.
Sekarang Lysta sudah sampai di lobby bandara, ia menuju ke meja resepsionis. Setelah check-in. Lysta menuju ke ruang tunggu, menunggu beberapa menit untuk mendengar kalau pesawatnya akan melakukan penerbangan.
Tak perlu menunggu lama, ternyata beberapa menit kemudian pengumuman tersebut sudah dikumandangkan. Lysta menaruh kopernya ke bagasi, berjalan kearah pesawat, dan mencari tempat duduknya. Beruntungnya Lysta mendapat tempar duduk dekat jendela, jadi ia dapat merilekskan diri dengan pemandangan luar jendela.
"Excuse me?"
***
Aloha gaes! aku lagi iseng nih buat cerita.
Kalian jangan bosan nunggu aku update yah. Dan jangan males vote and comment.
👇
YOU ARE READING
First Impression
Teen FictionMungkin nggak ada salahnya gue nyoba buat ngebuka hati ini buat lo. Moga aja lo tau diri. -Callysta Deodora Edgina Pertemuan pertama kita memang mengesalkan, tapi dibalik itu semua, gue rasa itu pertemuan yang mengesankan dan mendebarkan buat gue. ...
