Jackson baru saja memacu sepeda motornya menjauhi area sekolahan. Sekitar lima menit yang lalu bell pulang sekolah berdering nyaring ke seluruh penjuru ruangan, dan setelahnya seorang Jackson Maverick Andaclause mengemas barang - barangnya dan berjalan keluar kelas untuk pulang karena tidak ada kegiatan lain yang menghambat kepulangannya untuk hari ini.
Jackson adalah tipe cowok dingin yang kadang bikin orang lain dongkol karenanya. Tapi di sisi lain, ia punya wajah ganteng bin manis yang bikin banyak cewek kesengsem dan curi - curi pandang kearahnya dengan tatapan memuja.
Cowok dingin yang bersekolah di SMA MULAWANGSA itu menghentikan laju sepeda motornya ketika sampai di pelataran sebuah klasik berlantai dua, rumah ibunya, Nathalia Andaclause. Indra penciumannya seketika dipenuhi semerbak wangi yang dihasilkan dari tanaman - tanaman bunga milik ibunya di pelataran rumah.
"Assalamu'alaikum... " ucap Jackson datar begitu memasuki rumah itu.
Lalu ia berjalan menuju tangga ke arah kamarnya yang berada di lantai dua, tapi sebelum kakinya menaiki tangga , ada sebuah tangan yang memegang lengannya lembut dan mencegah Jackson untuk berjalan lebih jauh, itu ibunya. Jackson berbalik dan langsung mendapati sang ibu tepat berada di hadapannya, sedang tersenyum dan tertawa kecil. Tapi senyum dan tawa itu selalu terlihat ganjil dan mengiris perasaan Jackson, menimbulkan sayatan tipis yang terus terulang di tempat yang sama di hatinya, perasaanya.
"Assalamu'alaikum mama.. mama sudah makan?"
Jackson mengucapkan itu dengan lembut dan tulus sehingga siapapun yang mendengarnya akan merasa sangat di sayangi, begitupula yang dirasakan Nathalia sekalipun jiwanya sedang terganggu.
"Hhahaha.. anak mama sudah besar.. anak mama sudah pulang.. hahaha.." kata Nathalia sambil terus tertawa.
Tapi seperkian detik kemudian ia termenung dan berubah menjadi murung, wanita itu kemudian meringkuk didekat tangga sambil menggumamkan sesuatu dan terisak hingga benar - benar menangis. Ia terlihat ringkih dan tak berdaya.
" Tapi mama akan ditinggal lagi.. anak mama akan pergi.. anak mama akan meninggalkan mama sendiri seperti yang dilakukan papa... mama akan sendiri.. mama akan sendiri lagi.. mama takut... "
Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut ibunya di sela - sela tangisnya yang kian tak terbendung. Hal ini semakin mengiris hati Jackson, menikamnya hingga menimbulkan perih dan luka yang pasti akan terus membekas. Jackson mendekat dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya lalu ia merengkuh ibunya kedalam pelukan hangatnya. Setidaknya ia bisa memberi ibunya kenyamanan dan ketulusan kasih sayangnya.
"Mama jangan khawatir, Jackson akan selalu ada buat mama dan tinggal sama mama, sekarang mama istirahat ya, biar Jackson yang anter ke kamar" ucap cowok itu penuh perhatian.
Ia lalu merangkul dan menuntun ibunya ke dalam kamar wanita itu dan menunggu hingga ia terlelap. Setelah itu, barulah Jackson pergi ke kamarnya di lantai dua rumah ini.
***
Di semester kedua kelas 11 terasa jauh lebih berat dari semester pertama yang lalu, hal ini karena banyaknya tugas - tugas kelompok semesteran yang langsung dilimpahkan bahkan sejak di minggu pertama masuk semester dua. Lebih berat lagi jika ditempatkan di satu kelompok bersama dengan orang yang tidak disukai dan ingin selalu dihindari. Hal ini seperti yang dialami oleh Jackson. Entah kenapa ia selalu di tempatkan satu kelompok dengan seorang Calisea Fadhiyas, cewek ceria yang secara terang - terangan mengaku menyukai Jackson. Cewek itu selalu saja memandang Jackson dan sering mengganggunya sehingga cowok itu risih dan menambahkan cewek itu ke dalam daftar orang - orang yang di hindarinya dan masuk kedalam daftar blacklistnya.
"Jack, jackson.. liat gue please... ck, atau setidaknya lo baca naskah drama bahasa indonesia yang gue bikin kek, ini naskah udah gue revisi kok, nggak kayak kemaren.. setidaknya lo hargain kerjaan gue.. " bujuk Calisea.
Sedari tadi cewek itu memang membujuk Jackson untuk tidak hanya diam saja seperti patung, paling tidak cowok itu menerima naskahnya. "Berasa setor naskah ke penerbit" batin Calisea mengeluh
"Udah, baca aja Jack, setelah gue baca, isi ceritanya udah bagus nggak kayak kemaren" ucap Ragaf.
Cowok yang sedari tadi hanya menyimak, kini memilih bersuara daripada Calisea terus - terusan ribut dan membuat kelompok ini mendapatkan pelototan dari sang guru. Selain Ragaf, yang lain lebih memilih diam karena tidak berani. Dan akhirnya Jackson mau menerima sodoran naskah dari Calisea dan mulai membacanya.
Saat Jackson mulai membaca kata demi kata naskah itu, Calisea terus menatapnya dengan mata yang berbinar senang dan terus melengkungkan bibirnya ke atas hingga membentuk senyum tulus dan puas.
Setelah membaca naskah itu, Jackson merasa setuju dengan perkataan Ragaf yang menyebutkan bahwa isi naskah itu sudah jauh lebih bagus daripada naskah yang sebelumnya cewek menyebalkan itu buat yang hanya tentang perasaan cewek itu kepada Jackson. Bahkan naskah itu melenceng jauh dari ketentuan tema yang di tentukan Bu Winda, yaitu tema nasehat kemasyarakatan.
"Gimana? Baguskan? Itu khusus gue bikin buat lo, supaya lo bersyukur punya temen sekelompok yang jago nulis kayak gue, siapa tau lo jadi suka" ucap Calisea begitu Jackson meletakan naskah itu ke meja sekolahan.
Calisea mengucapkan itu dengan nada senang dan bersemangat. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa kecewa karena tanggapan yang di berikan Jackson selalu saja negatif untuknya, diam atau menolak. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, ia mengharapkan Jackson lebih dari sekedar diam atau menolak kepadanya, mengharapkan setidaknya cowok itu mengindahkan eksistensinya. Jackson dan orang - orang pasti mengira ia menyukai cowok itu karena parasnya. Tapi bukan itu yang sebenarnya, ia merasa ada sesuatu yang lain yang membuatnya betah dan nyaman berada di sekitar cowok itu sekaligus merasa senang.
