Berdiri, tak melakukan apa-apa. Itulah yang dilakukan oleh namja bersurai blonde itu. Entah sejak kapan dia berdiri di situ. Yang pasti itu sudah lama dilakukannya.
"Tae, apa kau tak mau pulang? Sudah sekitar tiga jam aku menemanimu yang hanya berdiri di sini" ujar namja lain yang sedang berjongkok di belakang namja tadi.
"Aku tak memintamu menemaniku hyung. Kau sendiri yang ingin ikut kan?" ucapnya tegas. Memang apa yang diucapkannya itu benar. Tapi, hey, dia hanya khawatir jika yang lebih muda melakukan hal konyol diluar pemikiran manusia normal.
"Itu kulakukan karena aku khawatir kau akan melakukan hal yang buruk pada dirimu sendiri" Jeda beberapa detik lalu namja yang lebih tua setahun darinya melanjutkan perkataannya. "Tae.. Ini sudah terjadi dan bukan salahmu. Kematiannya sudah menjadi takdir. Takdir tidak bisa di hentikan"
"Tapi seandainya aku jujur padanya, ini tak akan terjadi hyung.. Kematiannya tidak akan datang secepat ini.. Ini salahku.. Hiks.. Hiks.. Ini.. Hiks.. Salah.. Ku... "
Liquid yang sudah di tahannya sejak tadi akhirnya jatuh juga. Ia tak tahan mengingat kebodohan yang dilakukannya malah membuat orang yang di sayanginya meninggal. Cairan bening itu turun membasahi pipi putih yang terasa dingin.
Hoseok, namja yang lebih tua memeluk tubuh bergetar didepannya. Ia turut sedih melihat salah satu dongsaeng kesayangannya sedih. Ia merupakan salah satu saksi bagaimana perasaan dongsaengnya itu pada hyung tertua mereka.
"Tae, sudahlah kau jangan menangis lagi ne. Ayo kita pulang saja, tubuhmu menggigil Tae" Hoseok berusaha menghangatkan tubuh Taehyung dengan menggosok lengan Taehyung.
Melihat Taehyung mengangguk pasrah, ia segera menuntun tubuh dingin itu menuju mobil. Tapi baru beberapa langkah tubuh Taehyung ambruk.
"Taehyung.. Tae.. Ugh... " Buru-buru Hoseok menggendong Taehyung dan memasukkan tubuh lemas itu kedalam mobil di bantu oleh sopir yang mengantar mereka.
.
.
.
.
.
Mereka tiba di dorm dan disambut kekhawatiran dari member lain. Jungkook membantu Hoseok membawa Taehyung ke kamar. Lalu setelah itu mereka ikut bergabung dengan yang lain di ruang tamu.
"Apa yang terjadi pada Taehyung, hyung? Kenapa anak itu bodoh sekali sih" tanya sahabat Taehyung, Park Jimin.
Ia khawatir pada Taehyung. Meski dia kesal pada Taehyung, tapi bagaimanapun Taehyung adalah sahabatnya sejak kecil. Jimin juga tau bagaimana perasaan Taehyung itu pada hyung tertuanya, Kim Seokjin.
Tidak, bukan hanya dia, melainkan seluruh member BTS termasuk manager mereka pun tau. Kim Taehyung amat mencintai Kim Seokjin, begitu pula sebaliknya. Hanya saja Taehyung malu untuk mengakuinya.
Seokjin adalah alasan mengapa Taehyung ikut bergabung pada kelompok ini. Juga alasan Taehyung untuk tetap hidup bahagia.
Namun sekarang, hyung nya itu telah meninggal dan beginilah akibat yang terjadi pada Taehyung. Dia menjadi kacau. Sangat kacau. Hyung, tak bisakah kau kembali hidup. Ada seseorang yang sangat membutuhkanmu di sini. Batin Jimin parau.
.
.
.
.
.
Empat Bulan kemudian
"Yeobseo, hyung kau dimana? Aku sudah di depan halte bus"
'Ne. Aku masih di jalan. Jangan meneleponku terus. Kalau aku kecelakaan siapa yang mau tanggung jawab?'
"Baiklah, hyung. Aku akan menunggumu"
Tut.
Taehyung mematikan teleponnya dan menggosokkan kedua tangannya kembali. Bodoh sekali dia lupa membawa mantel dan sarung tangan yang sudah disiapkan Jimin di ranjang untuknya. Dia benar-benar bodoh setelah meninggalnya sang 'Hyung tercinta'.
Omong-omong soal Seokjin, Taehyung sudah bisa merelakannya. Tapi ingatan tentang Seokjin masih tersimpan baik. Taehyung berusaha keras untuk melupakan segala kenangannya bersama Seokjin. Tapi setiap kali ia mencoba maka, akan semakin membuat hatinya sesak. Oleh sebab itu dia tidak mau melupakannya. Lagipula ingatan tentang Seokjin terlalu indah untuk dilupakan.
Tinn Tinnn..
Taehyung menoleh ke asal suara. Bis terakhir. Ingin rasanya Taehyung naik bis itu dan segera sampai di dormnya. Tapi mengingat jika leadernya sedang dalam perjalanan dan kemungkinan besar akan marah jika Taehyung tidak ditempat. Dan niatnya itu ia urungkan.
Karena tak ada penumpang yang akan naik, karena di halte ini memang cuma ada Taehyung, sang supir melajukan kembali kendaraannya. Saat bus itu berjalan, Taehyung dikejutkan dengan adanya sosok 'itu'.
Dia
Kim Seok Jin
Taehyung pun berdiri dan berlari mengejar bus itu. Dia yakin yang berada di dalam sana adalah hyung nya. Hyung nya yang ia cintai dan rindukan selama ini.
Namun secepat apapun kemampuan berlari Taehyung, dia tidak akan bisa menyamai kecepatan bus itu. Sehingga dia tertinggal cukup jauh. Dia kelelahan dan udara semakin menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
Akhirnya Taehyung memutuskan kembali ke halte dengan perasaan kacau. Perasaan yang sama menyerang Taehyung seperti saat dia kehilangan Seokjin dulu.
Ketika Namjoon datang, ia tak melihat keberadaan Taehyung di halte. Maka ia menunggu Taehyung di dalam mobil hingga seseorang yang dikenal sebagai visual grup memasuki mobil. Namjoon mengerutkan keningnya karena keadaan Taehyung.
"Kau kenapa? Wajahmu masam sekali. Ceritalah pada hyung" ucap Namjoon tanpa menahan rasa khawatir nya pada Taehyung.
"Aku... Aku tadi melihat-nya" Taehyung menatap lurus. Mengabaikan nada khawatir Namjoon.
"Huh? Siapa yang kau maksud Tae? Katakan yang jelas"
Taehyung menoleh. Ia menatap lurus dan tajam sang hyung. Tangannya mencengkeram lengan sang hyung. "Kim Seokjin. Aku tadi melihatnya di dalam bus hyung"
"Apaa? Mana mungkin. Seokjin hyung sudah meninggal Tae. Dia tidak bisa hidup lagi. Kau mungkin kelelahan hari ini sampai melihat bayangan Seo-" ucapan Namjoon diputus oleh Taehyung.
"Aku gak mengigau hyung. Aku benar-benar melihatnya"
"Kalau begitu kemana arah bus itu. Biar kita memastikannya" Namjoon bersiap menyalakan mobil.
"Disana. Lurus terus kearah sana, hyung"
Tanpa menunggu lagi Namjoon melajukan mobilnya dengan kencang. Ia juga berharap apa yang diucapkan Taehyung adalah benar. Melihat bagaimana keseriusan ucapan sang dongsaeng, tidak mungkin kan dia berbohong.
Begitu Taehyung melihat bus yang tadi sedang berhenti di sebuah halte, dia langsung keluar dari mobil. Dan seperti orang kesetanan, Taehyung berlari dan naik ke dalam bus tersebut. Namjoon pun mengikuti di belakang Taehyung.
Mereka meliat ke segala arah untuk mencari Seokjin yang katanya ada di dalam bus. Namun tak ada tanda-tanda kehadiran Seokjin di sana. Akhirnya mereka keluar dari dalam bus dan kembali ke mobil.
Tak jauh dari mobil, ada sosok yang memperhatikan tindakkan mereka. Lebih tepatnya memperhatikan Taehyung. Dia lah sosok yang dicari.
"Maafkan aku, Taehyung. Maafkan aku... Mungkin dengan ini kau bisa hidup tenang dan tidak perlu merasa risih lagi. Aku berjanji tidak akan muncul lagi dalam kehidupanmu. Selamat tinggal Tae. Aku akan selalu mencintaimu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
END
Bagaimana? Mengecewakan kan? Aku sendiri juga ragu mau mempublisnya 😞😞 Tapi aku bener-bener pengen buat cerita aku sendiri 😁
Kalau ada keluhan atau hinaan untuk saya dan cerita bisa kok dikomen.. Saya siap menerima itu ☺
Sekian dan terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca cerita jelek ini...
ESTÁS LEYENDO
The Fate of the Hiddend
Novela JuvenilKeegoisan Taehyung membuatnya kehilangan seseorang yang dicintainya. Dan pada akhirnya hanya tinggallah penyesalan..
