Pagi itu langit menangis membasahi bandung, menunggu langit menghentikan tangisnya aku duduk dengan secangkir kopi hangat dimeja No.14. Tak lama aku melihat Nico datang berjalan kearah ku dengan wajah yang kusut. " eh elu knp? Itu muka disetrika napa?" tanyaku sambil tersenyum. "Ah elu gtu, gua gpp kok" jawabnya dengan senyuman kecil di wajahnya. " dibalik kata gpp pasti ada apa apa" jawab ku dengan ketus. Sontak ia melihat kearah ku " iya deh rara, elu bener" jawab Nico dengan suara yang agak lesu. "Sekarang mending elu cerita ama gua" kataku dengan nada serius.
"Sebenarnyaa... Muka gua kusut gini gara gara gua ga liat elu dari tadi" jawabnya dengan senyum lebar. "Ih sumpah elu ya" jawab ku dengan nada tinggi sambil memukul tangannya.
Tak terasa langit kembali cerah, Rara memutuskan untuk keperpustakaan kota hari ini. "Nic, gua pergi keperpustakaan ya?" pamit ku dengan lembut. "Ih suer ya. Elu ga pernah mau berubah deh, selalu perpustakaan" jawab nico dengan nada yang agak kesal.
" yaudh kalo elu mau ikut gpp"jawabku dengan senyum lebar diwajah ku. "Yeeeeaah" teriaknya kegirangan sambil membawa gitar nya. Kami berangkat dengan mobil Nico.
Sesampainya disana aku dan Nico langsung mencari buku kesukaan ku. Ku lihat disetiap rak. Aku susuri disetiap buku yang tersusun rapi. Dan tiba tiba " Ra!" panggil Nico dengan suara yang pelan. " apa sih Nic" jawab ku cuek. " ini buku kesukaan elu" jawabnya dengan semangat. " ih suer? Setetes hujan kan?"tanyaku penasaran. "Banyak nanyak lu. Sini deh" jawabnya dengan suara yang pelan. Aku berjalan pelan kearahnya. Aku melihat Nico memegang buku biru muda ditangan kirinya. " Nic" panggil ku pelan. " nih ini bukunya" sambil menjulurkan tangannya kearah ku. Sontak aku kaget dan langsung mengambil buku itu. " thanks ya nic" ucapku sambil menatap nya. "Buat loe apa sih yang engga" Nico tersenyum manis kearah ku.
Aku terus memperhatikan buku itu. Aku memutuskan duduk untuk melanjutkan bacaan ku. Nico juga duduk didepan ku sambil melihat ku tanpa jeda. Aku yang merasa diperhatikan langsung melihat kearah Nico. " apaan sih? Ada yang salah di gua?" tanya ku bingung. Nico hanya tersenyum " emang salah gua liat elu?" tanya Nico dengan nada yang sedikit membuat ku kesal. "Iya salah. Kalo elu liatin gua terus ntar diabetes" jawabku tengil. Mendengar hal itu Nico mengerutkan keningnya "iya deh Rara sayang. Ga akan gua liatin lagi deh" jawab Nico dengan senyum misteriusnya itu. Nico menundukkan kepalanya dan fokus ke buku yang dia baca.
Aku mencoba memanggil namanya " Nic " panggil ku dengan suara pelan. " ya Ra" jawabnya singkat. "Eh elu dipanggil liat napa orang yang manggil!" jawab ku kesal. " Ra! Gua ga akan liatin elu lagi" jawabnya dengan nada yang tinggi. Mendengar hal itu aku merasa bersalah "Nic sumpah td itu cma bercanda doang" kata ku dengan wajah yang bebinar binar. "Hahahahahha" tawa nico. "Lah kok ketawa sih" tanya ku heran. " elu ga tahan kan kalo gua ga deket deket ama elu" jawabnya tengil. " ihh apaan" jawab ku cuek.
VOUS LISEZ
Lembaran Berharga
Roman pour Adolescentshanya sebuah kertas usang, rapuh dan tak ternilai. mengingatkan ku tentangnya. Mengingatkan ku tentang bagaimana berakhirnya semua tawa mu, Hilangnya senyum mu.
