Pada awalnya dia adalah pria yang begitu aku kagumi, begitu aku sukai dan begitu aku inginkan. Tapi pada akhirnya, dia tidak pernah menyadari kehadiranku, tidak pernah tahu perasaanku, dan tidak pernah mau tahu bagaimana diriku.
Tidak kusangka, pria itu menyatakan penyesalan akan keegoisannya dulu. Bahkan dia berulang kali meminta maaf dan memohon agar aku kembali padanya, mencintainya seperti dulu. Setelah apa yang dia perlakukan padaku dan perasaanku, dia dengan mudah berucap maaf sembari memintaku kembali padanya.
Sebuah gelas yang telah dipecahkan tidak akan pernah bisa kembali utuh walau kau perbaiki sekalipun. Memang ungkapan yang klise, namun penggambaran itu benar adanya. Walaupun memang egoku masih menginginkan dia, tapi harga diriku menolaknya.
Aku pergi untuk melupakannya, namun siapa sangka bahwa sebuah takdir kembali mempertemukan kami di dalam situasi yang kian rumit. Situasi yang lebih rumit daripada kisah cinta seorang gadis SMA. Bagaimana aku akan menghadapi situasi baru ini? Akankah takdir indah ataukah sebaliknya?
🌼🌼🌼
Seharusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan, namun tidak untuk seorang pria bertuxedo putih yang terlihat termenung di atas sofa kamarnya sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Sorot matanya begitu dingin pertanda tidak adanya kebahagiaan yang menjalar pada pria berperawakan atletis itu. Hari ini, cincin ini akan tergantikan oleh cincin yang baru, dan hari ini mungkin akan menjadi sejarah untuk semua orang yang menginginkannya.
Beralih ke keadaan yang lain, dimana ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Amelia, sang pengantin wanita, karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Axal. Dia sudah siap dengan gaun pengantinnya yang mewah dan tampak begitu elegan apalagi gaun tersebut dipakai oleh seorang yang juga memiliki paras cantik. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kini hatinya berdebar menanti sang mempelai pria datang lalu mengucap ijab qobul di depan semua orang terutama kedua orang tuanya, lalu ia akan turun dari lantai atas dan menyalimi orang yang telah menjadi suaminya itu dan hidup bahagia.
Pikiran Amelia sudah mengarah terlalu jauh, sepertinya dia sudah tidak sabar untuk melihat betapa tampannya suaminya nanti, dengan tuxedo berwarna putih yang melekat di tubuh atletisnya, menuntunnya untuk duduk di atas kursi pernikahan mereka dengan bahagia. Ah, Amelia sudah tidak sabar, hingga pipinya terlihat begitu merona membayangkannya.
Berbeda dengan Axal, dia memang sudah mengenakan tuxedo warna putih dan berpenampilan rapi dan tampan. Tapi, hatinya kini sangat gelisah. Dia hanya bisa duduk dan merenung di atas sofa, sementara yang lainnya sibuk dengan persiapan untuk pergi ke gedung pernikahan mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa kini Axal memang terlihat tampan dan juga menarik, namun tidak bisa dipungkiri juga jika wajahnya yang tampan itu menyiratkan kesedihan yang mendalam. Terlihat dari tatapan matanya yang meredup.
"Apa kamu masih belum bisa menerima pernikahan ini?" ucap papanya tiba - tiba membuat Axal sedikit terkejut lalu mencoba untuk menetralkannya kembali dengan pura-pura menggosok cincinnya.
"Axal..." papanya bertutur lembut sambil merangkul putra sulungnya yang menunduk.
"Hm?" jawab Axal seadanya. Dia terlalu malas untuk membahas tentang pernikahannya hari ini. Baginya, tidak ada pernikahan hari ini toh dia juga masih kuliah dan masih ada perusahaan yang memerlukan pertanggung jawabannya.
Papanya terlihat mendengus lelah dengan sikap Axal akhir - akhir ini. Biasanya dia selalu terbuka dan menceritakan masalah padanya. Tapi akhir - akhir ini, dia lebih sering melihat Axal merenung sendirian dan sikapnya menjadi sangat dingin walau kepada orang tuanya sekalipun.
KAMU SEDANG MEMBACA
XaLia
RomansaSequel So Far Away❤ Baca dulu So Far Away ya sebelum baca XaLia☺😙 Update setiap hari pukul 12.00 siang❤ "Dulu aku pernah salah memilih, dan untuk kali ini aku tidak ingin salah lagi. Hanya kamu yang ada dihatiku tidak peduli apapun. Hanya kamu yang...
