[15] A Photo.
Bu Ayu sejenak menutup foto tersebut dengan telapak tangannya. “Syahilla ....”
“Saya bahkan nggak kenal dan nggak pernah ketemu sama laki-laki yang ada di dalam foto. Saya hanyalah anak rumahan yang jarang keluar rumah. Jadi, Ibu dan Bapak ingin dengar jawaban seperti apa dari saya? Saya sudah berkata sejujur-jujurnya. Bahwa, orang yang ada di foto, bukan saya.” Walau nada suaranya terdengar lirih, Syahilla mencoba meyakinkan lawan bicaranya.
Jika ditanya, bagaimana perasaan Syahilla saat ini? Syahilla sangat sedih dan merasa hal yang sedang terjadi tidak adil baginya. Semua—sangat—memuakkan baginya. Mengapa Syahilla harus mengalami hari buruk dengan jalan cerita seperti ini?
Begitu melihat mata para guru yang berkumpul di ruang Bimbingan Konseling, Syahilla tahu kalau dia tengah diadili dan telah kehilangan kepercayaan mereka. Meyakinkan para guru kolot, gagap teknologi dan konservatif terlalu sulit jika tak bisa membawa bukti yang dapat mereka lihat secara langsung. Perkataannya saja tidak cukup sebagai bukti. Secarik foto tersebut menghancurkan banyak hal di hidup Syahilla.
“Ibu percaya sama kamu, Sya.” Bu Ayu menepuk pundak Syahilla lembut, memberikan sedikit ketenangan. “Tetapi, ada bukti yang sangat jelas dan meyakinkan. Ibu nggak yakin bisa membantu kamu.” Bu Ayu menghela napas panjang merasa kecewa pada diri sendiri. Merasa gagal tidak bisa melindungi anak didiknya.
Syahilla memejamkan mata erat-erat dan membukanya. Berusaha menahan segala emosi yang tengah menguasai dirinya. “Benaran, Bu. Itu bukan saya. Ini cuma editan. Ibu tahu kan, kalau ini editan? Zaman sekarang memang sudah sangat canggih wajar kalau banyak orang yang tertipu.” Syahilla mengangkat selembar foto tersebut, sejenak melihat dan berdecih ingin tertawa. “Kalau begini, saya juga bisa belajar dan menekuninya. Saya pasti bisa mengedit foto kayak gini sampai membuat banyak orang percaya mengenai keasliannya.”
Seketika Syahilla menunjuk foto yang menampilkan wajahnya dengan laki-laki tidak dikenal. Di dalam foto itu ada—dirinya—bercinta—dengan seorang laki-laki. “Menjijikkan” adalah kata yang pertama kali terlintas di pikiran Syahilla. Bagaimana bisa hasil editan foto menjadi seapik ini? Terutama dari cahaya, warna dan pixel gambar terlihat sangat harmonis. Mungkin Syahilla dapat mengapresiasi kehebatan si pelaku. Jika saja hasil editan tersebut tidak melibatkannya dan membuat kehidupan sekolah Syahilla hancur.
Bu Ayu mendekat pada Syahilla dan mulai berujar, “Ibu ingin membantu kamu, tetapi maaf. Syahilla ... dengan berat hati, kami dari pihak sekolah akan mengembalikan kamu ke orang tua sehubungan dengan masalah yang sedang terjadi.” Bu Ayu menepuk-nepuk bahu Syahilla pelan.
Syahilla berusaha keras menahan air matanya. “Berikan saya waktu untuk membuktikannya, Bu. Saya nggak ada sangkut pautnya sama foto menjijikkan yang sekolah terima.”
“Ibu akan membicarakannya dengan pihak sekolah. Ibu berharap kamu bisa secepatnya membuktikan bahwa orang di dalam foto bukanlah kamu. Kalau semua hanya editan belaka.” Bu Ayu mengusap lembut puncak kepala Syahilla, lagi-lagi mencoba memberikan ketenangan yang tidak berdampak baginya.
“Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi.” Nada suara Syahilla kian melemah.
Dengan langkah gontai, dia keluar ruangan tanpa melihat wajah para guru di ruangan Bimbingan Konseling. Bahkan, Syahilla tidak menyadari bahwa ruang Bimbingan Konseling tidak tertutup rapat.
Tubuh Syahilla hampir limbung dengan pandangan kabur, seakan-akan bisa jatuh kapan pun. Syahilla susah payah menyeret kaki dengan tangan meraba-raba dinding di sekitar dan tiba-tiba saja seseorang merengkuhnya begitu erat. Memberikan kekuatan besar pada dirinya. Membuat Syahilla dapat mengumpulkan segala kekuatan yang tersisa.
YOU ARE READING
Young Luv
Teen Fiction[Semua karakter, organisasi, tempat, kasus, dan insiden dalam tulisan ini fiktif.] Akibat secarik foto tidak senonoh yang sampai ke pihak sekolah, membuat kehidupan Syahilla Almaira mengalami perubahan drastis. Terpaksa menikah dengan Arvel Dhariun...
