21.30
Ini Sudah larut, dan aku masih berkeliaran di jalan pulang yang setiap hari kulalui, seragam sekolah yang masih kukenakan membuat orang yang melihatku pasti berfikiran negatif, ya,, secara logika saja tidak mungkin ada sekolah yang baru memulangkan siswa tengah malam seperti ini.
Langkah kakiku sungguh terasa berat kali ini, tidak hanya kaki ,kedua tanganku juga terasa pegal setelah seharian bekerja paruh waktu,untuk menghidupi diriku sendiri.
Jalanan sangat sepi, hanya beberapa kendaraan yang lewat, bahkan bisa dibilang tidak ada, sepi dari orang-orang bukan berarti senyap bagi telingaku, dari awal aku sudah menyumpal lubang telinga ku dengan sepasang headset agar suara-suara tak wajar itu tersamarkan dengan suara musik yang sedang aku dengarkan.
Aku Sudah hampir sampai perempatan, tapi perasaanku sangat tidak enak, indra pendengaranku bekerja sangat baik, walaupun masih tersumpal headset aku masih bisa mendengar sayup suara langkah kaki yang melangkah bersamaan denganku, walaupun langkahnya bersamaan dengan langkahku aku masih bisa mendengar itu adalah langkah ganda karena terkadang terdengar tak seirama denagn langkah kaki ku.
Langkah kaki itu semakin tak seirama dengan langkah kakiku, hal ini sangat mengusikku, saat itu juga kuhentikan langkahku secara cepat, dan aku benar, suara langkah kaki masih terdengar saat aku berhenti, itu menandakan bahwa memang ada seseorang yang sedang mengikutiku.
Kuhembuskan nafas kekesalan, karena aku yakin dia pasti akan mengusiliku lagi, aku berbalik, bersiap untuk marah, namun aku tak melihat siapapun disana, sekarang aku yakin pasti dia yang mengikutiku.
Seharusnya dari awal aku mengabaikannya, benar benar mengabaikannya. Dan kini aku rasa dia berdiri tepat dibelakangku. Ah aku sangat kesal seandainya aku bisa memukulnya, aku kurontokkan semua gigi tajam itu.
Baiklah aku sudah terbiasa melihat wajah wajah seperti wajahnya jadi aku hanya perlu berbalik kearah ku sebelumnya dan mengabaikannya.
"BAAAAA" dengan spontan aku melayangkan tinjuku kearah pipi kananya, tapi untung saja dapat tertangkis olehnya, jika tidak aku yakin pukulanku akan membuat pipi kanannya membiru.
"Eeettss, dasar preman, kau selalu menggunakan pukulan sebagai spontanitas,"
"Apa yang kau lakukan? Aku menarik pergelangan tanganku dari genggaman tangkisannya.
"Hanya mengikutimu, kenapa?, apa kau fikiir aku adalah makhluk perempatan yang selalu mengusilimu setiap malam?" dia mencondongkan wajahnya ke arah wajahku sambil melemparkan senyum, diikuti dengan alis yang naik turun seperti lift.
"Jauhkan wajahmu itu dariku, berhentilah mengikutiku, dan jangan menghalangi jalanku" aku menatapnya kesal, kemudian kulepas headset yang tadi menyumpal telingaku.
"Hei apa kau marah, aku hanya bercanda" entah ekspresi apa yang ia berikan saat mengucapkan kata-kata itu, tapi aku tak peduli.
"Menyingkirlah" kata singkat dibumbui tatapan yang juga berkata "menyingkirlah"
"Baiklah, tapi kau harus biarkan aku mengantarmu pulang"
"Kau akan memberiku jalan atau aku akan memukulmu"
"Haaah, dasar keras kepala, baiklah aku ganti pernyataanku, aku ingin mengantarkan obat pada nenek kos, jadi bisakah aku kerumah nenek bersamamu?"
"Menyingkirlah" untuk ketiga kalinya
"Lagipula tidak baik jika seorang siswi sepertimu berjalan tengah malam seperti ini sendirian, kau tau ada banyak psikopat yang berburu mangsa dijalanan sepi seperti ini, dan yang lebih parah adalah makhluk-makhluk mengerikan yang akan membegalmu di perempatan, kau pas,,,,"
"Baiklah, baiklah, terserah!!, dan berhentilah menghalangi jalanku" aku terpaksa menyerah kali ini, jika aku terus mengeraskan kepalaku melawannya aku akan berdiri disana sampai gerhana bulan sempurna terjadi.
YOU ARE READING
My insomnia
Mystery / Thriller~Pastikan kau baca setiap part dengan teliti, karena disetiap part pasti kutinggalkan jejak, jika tidak kalian tidak akan pernah menduga bagaimana aku menyelesaika teka-teki ini~ ~axera~ ~Dan jangan salahkan aku jika akhir cerita ini tidak bisa...
