01

39 5 0
                                        

Aku tidak pernah merasa sesakit ini saat menyukai orang lain selama hidupku.

***

Kalau mau tau, keluarga ayahku hanya punya aku sebagai anak mereka. Tapi jangan kira mereka akan memperlakukanku bak putri kerajaan, memberikanku apapun yang kuinginkan, dan membiarkanku melakukan apapun yang kumau. Aku malah harus menjaga toko untuk waktu yang lama —terutama jika aku tidak ada jam kuliah di kampus yang jaraknya cuma lima belas menit naik motor dari rumah.

Asal tau saja, aku bosan. Pak Rizal, pekerja senior di bengkel ayah, sedang sibuk menambal ban-ban mobil yang entah bagaimana bisa bocor sekaligus. Sementara Keanu, satu-satunya anak muda selain aku di rumah ini, tidak bisa diajak bercanda. Entah kenapa, meskipun sudah bertahun-tahun kerja di sini, aku tidak pernah benar-benar bicara dengannya.

"Neng, kalau matanya tiga kakinya satu apaan ya?" Pak Rizal, dari bengkel yang berada di samping toko onderdil mobil, bertanya.

Aku menopang dagu di atas meja kayu, berprofesi sebagai penjaga toko selama lebih dari tujuh jam hari ini, memandang malas ke arah Keanu yang sibuk men-service motorku yang rusak karena kecelakaan minggu lalu dan baru dapat antrian untuk diperbaiki hari ini. "Udah sering, Pak. Fely bosen." Aku menghela nafas panjang.

Tawa Pak Rizal terdengar selama beberapa saat. Tapi kemudian, suasana kembali sepi. Aku sempat ngeh bahwa Keanu sedang mencari-cari sesuatu. "Nyari apa, Nu?"

Keanu tidak langsung menjawab, tapi malah masuk ke dalam bengkel, dan kembali dengan tangan kosong. "Tang," katanya, kembali mencari di dalam kotak peralatan.

Jujur saja, aku tidak berniat membantu. Cuma iseng nanya, dan sama sekali tidak menyangka akan menemukan barang yang Keanu cari di atas meja di hadapanku. "Nih, Nu."

Aku menjulurkan tang itu dengan malas, tidak mau bergerak sedikitpun dari kursi empuk tempatku bertapa. Keanu mendekat, menerima tang dari tanganku, lalu diam untuk beberapa saat.

"Apa lagi?"

"Sekarang jam berapa?"

Aku sudah melirik jam tanganku, sadar kalau jam di dinding toko mati. Tapi belum sempat menjawab, Pak Rizal keluar membawa ban yang sudah diperbaiki. "Kerja, Nu. Jangan modus."

Pak Rizal terkekeh di balik mobil yang disangga dongkrak. Aku sendiri tidak ikut tertawa, itu candaan garing lain milik Pak Rizal yang sama-sama sudah kita ketahui bersama —aku dan kuyakin juga Keanu.

"Jam empat."

Keanu mengangguk, lalu kembali ke pekerjaannya.

"Setengah jam lagi, Nu." Ucapku, mengerti kalau Keanu juga menunggu saat-saat bengkel dan toko Ayah ditutup.

***

Aku bergegas keluar setelah akhirnya mendapatkan izin pinjam motor Ayah selama motorku diperbaiki. Aku terlalu senang karena akhirnya bisa pergi menonton film dengan teman-teman kuliahku malam ini.

Meskipun mengizinkan, Ayah tetap memperhatikan aku sampai aku benar-benar tidak bisa dilihatnya lagi. Ayah berdiri di depan pintu rumah yang terbuka, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Yah, Fely berangkat."

"Fely," Ayah memanggilku sekali lagi. "Ayah serius, ya. Kalau itu motor pulang-pulang lecet..." Ayah menggeser dua jari di depan lehernya dengan lidah yang terjulur.

Aku terkekeh sambil memakai helm. "Iya, Ayah. Tenang aja. Fely nggak pulang kurang dari jam dua belas."

"Fely! Ayah bilang jam sepuluh!"

Aku tidak lagi mengindahkan ucapan Ayah ketika meninggalkan rumah dengan motor, tapi bukan berarti aku mengabaikannya. Yang tadi itu cuma bercanda. Hubungan aku dengan ayah lebih seperti hubungan pertemanan, dan aku menyayangi Ayah lebih dari apapun di dunia ini.

Yang TerlewatStories to obsess over. Discover now