Hari Pertama SMA

22 0 0
                                        

Bunyi alarm membisingkan kamarku, menandakan pukul 04.30 pagi.

Lebih pagi, biasanya pukul 05.00 karena hari ini adalah hari pertama menjadi siswi SMA.

Hari pertama memakai seragam abu abu ke sekolah. Sebuah kepuasan tersendiri dapat lulus di salah satu sekolah unggulan di kotaku.

Orang bilang, jika masa SMA adalah masa yang paling indah, masa yang paling dirindukan nantinya entah itu sisi buruk atau baiknya.

Dan, aku akan meneliti kebenaran hal itu.

Aku segera mematikan bunyi alarm, mandi, sholat subuh, dan pergi ke lantai bawah untuk sarapan bersama Ayah, Bunda, dan Bang Deri.

"Pagi, Yah, Bun, Bang" aku berjalan menuruni tangga

"Pagi, Sayang" sahut Ayah sedang membaca koran

"Makan, dek. Abang buatin nih" Bang Deri menawarkan roti berisi selai kacang dan coklat kesukaanku

"Wis. Baik banget. Thank you ya" Aku duduk di sebelahnya

"Sudah siap jadi siswi SMA?" Bunda mencium pipiku dari belakang dan memasukkan bekal ke dalam tasku

"Siap dong, Bun. Bismillah" mencuci tangan lalu memegang roti dan memakannya

"Ya udah, cepetan abangmu harus dateng pagi hari ini" Bunda mengelus kepalaku

"Emang mau ngapain, Bang?" Lirik mataku ke arah Bang Deri

"Hari ini kan ospek, dodol. Abang harus meng-handle semuanya." Menghabiskan sisa roti di tangannya

"Hmm iya deh, KETUA BEM"

Perlu kalian tau, Bang Deri, atau Derio Andika Pertama adalah ketua BEM di kampusnya.

Kata Bang Deri, dia adalah kembang kampus. Banyak wanita yang menyukai dia.

Mungkin para perempuan itu akan ilfeel jika mereka mengetahui rahasia rahasianya.

Memakai parfum perempuan. Parfum yang dia pakai lebih mahal dibanding parfum yang aku pakai.

Kadang aku sering memakai parfumnya. Dan, ada satu lagi rahasianya. Rahasia yang sangat besar.

Bang Deri sangat suka pergi ke salon dan facial di sana. Dia sering menemani Bunda ke salon dan ikutan facial. Bang Deri mempunyai muka yang sangat mulus dan fresh setiap harinya. Wajar saja, banyak perempuan yang menyukainya.

"Udah buruan" Bang Deri mengambil tas

"Yah, Bun pergi yaa. Assalamualaikum" berdiri dan mengambil segelas susu

"Walaikumsalam" sahut Ayah dan Bunda serentak

"Hati hati, nak. Kalo sudah pulang telepon, nanti Ayah jemput" Teriak Ayah
.
.
Ramai. Satu kata untuk kondisi sekolahku hari ini.

Banner bertuliskan selamat datang terpasang di plafon atap gerbang sekolah. Halaman parkir luas layaknya satu rumah mewah.

Mobil berdatangan satu per satu ke dalam parkiran sekolah. Entah itu guru yang mengajar atau wali murid yang mengantar anaknya ke hari pertama mereka sekolah.

Gedung yang dilengkapi dengan AC. Kantin bak restoran dan WC yang bersih.

Excited. Satu kata untuk perasaanku hari ini. Hasil dari jerih payah akhirnya aku dapat.

Walaupun hanya masuk SMA unggulan tapi jujur aku benar benar puas akan hasilnya.

"I'll do my best" berkata dalam hati. Tak akan aku sia siakan bisa sekolah di tempat seperti ini.

"Semua siswa kelas 10 diharapkan berkumpul di lapangan belakang sekarang"
Suara toa menyadarkanku dari lamunan.

Aku bergegas ke lapangan belakang. Jujur, sempat bingung dimana letak lapangan belakang. Karena di sini sangat luas. Mungkin cukup untuk membuat satu perumahan.

Diluar dugaan, aku bertemu dengan teman SD ku dulu, Risa. Cukup susah untuk mengenalinya karena sudah lama tidak bertemu.

"Risa ya?" jari telunjuk spontan menunjuk

"Bukan hahah" ketawa kecilnya mengingatkanku masa kecil kami

"Ketawa lo masih sama, Ris"

"Arisa Nandia, gak akan pernah berubah. Kecuali berubah lebih baik"

"Hahah, kangen lo, Ris" Kupeluk Risa

"Hahah nanti aja reuni nya pas pulang sekolah. Sekarang kita ke lapangan belakang, yuk"

"Hahah yuk yuk"

Penuh, sesak, ramai. Kali ini, tiga kata untuk kondisi lapangan belakang saat ini.

"Tes... Tes... Assalamualaikum, wr. Wb.,"

Semua siswa di lapangan diam memperhatikan orang yang berbicara di depan mereka.

"Selamat datang di sekolah baru kalian. Kakak harap kalian dapat belajar dan mencapai cita cita kalian" seseorang itu memberikan kata sambutan

"Ganteng banget" Risa berbicara pelan

"Siapa itu? Ketos ya?" bisikku pada Risa

"Bukan, dia itu ketua pelaksana MOS sekaligus anggota kesehatan di sekolah. Ganteng ya? Dia itu yang paling ganteng di sekolah ini bahkan di kota ini, baru masuk aja udah lima cewek yang minta foto sama minta nomornya. Nama nya Ario Devansyah dipanggil Kak Deva" Jelas Risa

"Complete Describtion"

"Lo suka ya?" Risa menatap dengan mulut terbuka lebar

"Biasa aja sih" jawabku santai

"Selera lo kurang tinggi" tatap Risa padaku

"Selera gue kayak Adipati Dolken"

"Waw.. Tinggi banget selera lu, yakin bakal nyampe?" celetuk seseorang dari belakang. Ternyata seseorang itu adalah Sani, teman baru kami.

"Allahualam" Jawabku singkat

"Kalo gue sih, cuma seneng aja ngeliat gantengnya. Kalo sampe suka ya ga tau deh"

"Kakak hanya ingin memberitahukan besok diharapkan membawa coklat terhadap orang yang pertama kali membuat kalian kagum. Entah kakak kelas atau seangkatan kalian"

Entahlah, saat ini aku tak memikirkan hal hal lain kecuali rasa syukur saat ini bisa berdiri sebagai siswi di sekolah unggulan ini. Apalagi masalah rasa kagum pada orang lain. Tak ada satu pun orang disini yang membuat aku kagum.
.
.
Setelah berpanas panasan di lapangan akhirnya kami di persilahkan masuk ke kelas.

Alhamdulillah aku sekelas dan sebangku dengan Risa. Aku cukup canggung jika harus berbicara pada orang baru.

Sani, teman baru kami yang duduk tepat di belakang Risa. Sani duduk di kursi paling belakang. "Biar bisa tidur" katanya

Hari pertama sekolah. Tidak ada proses belajar mengajar. Kata Risa, sekitar seminggu kami hanya melakukan MOS, perkenalan sekolah. Waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan teman teman baru.

HijrahHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin