"Haii Bunda Inge..." sapa gadis itu sambil sedikit berlari dan langsung memeluk wanita paruh baya yang berada dihadapannya itu. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Bundanya Aren.
Inge dengan sigap langsung membalas pelukan gadis yang berada dihadapannya saat ini.
"Halo, anak cantiknya Bunda" jawab Inge sambil mengelus rambut Alna dengan penuh kasih sayang. Memang Inge sudah mengganggap Alna adalah buah hatinya sendiri. Fakta selain Alna adalah anak dari sahabatnya sendiri, dan juga Inge memang mengharapkan memiliki seorang anak perempuan. Namun takdir berkata lain, ia malah melahirkan 2 orang anak laki-laki, yaitu Raihan Fahreza yang kini sedang menempuh kuliahnya di Amerika, dan Narendhra Adivigo, atau yang lebih akrab disapa Aren.
"Cih. Anaknya sendiri pulang, yang disapa malah anak tetangga sebelah" gerutu Aren kepada bundanya.
"Sirikan banget sih kamu Ren jadi orang. Nggak baik tau" ucap bundanya memberikan sesajen omelan singkat.
"Tau nih, Aren" ucap Alna ikut-ikutan sambil memeletkan lidahnya.
"Halo, Tante" sapa Iky berikutnya yang diikuti dengan senyuman manisnya.
"Halo juga anak gantengnya bunda" jawab bundanya sambil merangkul tubuh Iky dengan sangat akrab.
Aren hanya memutarkan bola matanya dengan malas. Terkadang ia suka merasa kesal jika bundanya selalu lebih ramah ratusan persen kepada dua sahabatnya ini. Sedangkan dirinya selalu diasingkan seperti anak bawang.
Saat ini memang Alna dan Iky sedang bermain kerumahnya setelah pulang sekolah. Awalnya memang hanya Iky yang ingin bermain kesini, namun tiba-tiba Alna dengan santainya memaksa Aren untuk mengizinkannya ikut. Alih-alih Alna mengancam akan menyebarkan kartu mati yang dimilikinya, jika Aren tidak mengijinkannya ikut. Akhirnya dengan sangat terpaksa Aren pun mengijinkannya.
"Bunda Inge masak apa hari ini?" tanya Alna sambil menggelayut di lengan Inge dengan manja. Alna sangat mengetahui jika Bundanya Aren ini sangat gemar sekali memasak, dan tidak usah diragukan lagi bagaimana rasanya.
"Bunda belum sempet masak sih, Al. Tapi rencananya mau masak udang goreng tepung with mozzarella" jelas wanita itu kepada gadis yang ada disebelahnya ini.
"Wahh, pasti enak banget! kebetulan Alna laper banget. Alna mau bantuin Bunda, boleh kan?" ucap gadis itu dengan penuh semangat.
"Yaudah, lo disini aja ya bantuin nyokap gue. Nggak usah rusuh masuk ke kamar gue. Jangan ganggu gue sama Iky" perintah Aren dengan sangat tegas.
"AREN!" bentak bundanya. "Kamu nggak boleh gitu dong sama anak Bunda" belanya lagi sambil mengelus-elus rambut panjang milik Alna.
"Sekarepmu" jawab Aren sambil meninggalkan bundanya dan juga Alna.
"Tan, aku keatas, ya" pamit Iky yang langsung mengikuti langkah Aren menuju kamarnya.
***
Kini Alna dan Inge sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan masakan mereka. Semua bahan yang diperlukan sudah berada diatas meja lengkap dengan kitchen set nya.
Alna membantu menyiapkan adonan tepung yang nantinya akan dicampurkan dengan udangnya sebelum digoreng. Ia mencapurkan semua bahan yang diperlukan untuk menjadi sebuah adonan yang siap masak. Setelah selesai, ia menyerahkan adonan tersebut kepada Inge. Karena Inge yang akan mencelupkan udang itu kedalam tepung dan menggorengnya.
Namun mata Alna sempat melotot kaget melihat Inge yang menambahkan merica bubuk kedalam adonan tersebut.
"BUNDAAA!" Alna refleks berteriak ketika melihat kejadian tersebut, yang membuat Inge kaget dan menghentikan pekerjaannya sesaat.
YOU ARE READING
FRI.END SHIP
Teen FictionAda yang bilang kalau persahabatan diantara pria dan wanita tidak akan pernah berjalan dengan mulus. Namun Aren, Alna, dan Iky akan membuktikan hal tersebut. Bahwa persahabatan diatas segalanya. Bagaimana rasanya juga, jika kalian sudah bershabat s...
