Chapter 1

105 7 2
                                        

" Wooooooyyyy bocah kumeeel mainan gelembung mulu lu!" Teriak seorang wanita sambil mendekat ke arah di mana Odeth duduk saat ini.

Teriakan wanita itu membuat semua mata orang yang berada di dalam Bandara tertuju padanya. Karena sadar dan malu akan teriakannya yang menggangu semua orang yang berada di Bandara tersebut, Nadine dengan reflek menundukkan tubuhnya dengan posisi tangan kanan didada dan mengucapkan kata Maaf layaknya seorang pelayan memberi hormat kepada tamu yang sedang berkunjung. Dan berlalu dengan muka memerah seperti Kepiting rebus akibat tindakan yang dirinya lakukan. Odeth yang sudah berada sekitar 2 jam di Bandara terkejut dengan teriakan suara seorang wanita yang sangat familiar di telinganya, dan mencari sosok manusia yang meneriakinya barusan. Dan matanya tertuju pada sosok wanita yang berjalan sambil membungkuk kepada orang-orang disekitarnya.Tanpa menunggu lama Odeth pun berlari kecil menghampiri sahabat kecil nya yang saat itu juga sedang berjalan sambil menundukkan badannya dengan posisi tangan kanan yang berada didadanya seperti seseroang yang sedang memberi penghormatan tapi wanita itu bukan memberikan penghormatan namun meminta maaf karena teriakan suaranya yang mengganggu banyak orang didalam Bandara yang sedang menunggu keberangkatan mereka masing-masing.

"Nadineeeeeeeeeeee!!!! Kangeeennn ih!" Seru Odeth sambil memeluk erat tubuh sahabatnya yang terkejut tanpa sadar bahwa Odeth sahabat kecilnya itu sudah berlari untuk menghampirinya yang masih fokus dengan permintaan maaf nya kepada para pengunjung di bandara tersebut. Dan pelukan erat Odeth pun langsung dibalas tak kalah erat nya dengan Nadine.

"Bocah kumeeeeelll, really miss you Odethania Putri." Jawab Nadine dengan nada suara seriang mungkin untuk melepas rasa rindu yang menumpuk selama ini.

"Me too din, lu gak tau seberapa sepi nya hidup gue tanpa lu! Lama banget tau ah lu di Aussie nya! Gue disini sendirian egooooo!" Jerit Odeth dengan isak tangis yang pecah di dalam pelukan sahabatnya itu.

"Husssshhh, pake mewek lagi lu ah, cengeng banget dari dulu ampe sekarang masih aja cengeng begini! Udah di lap dulu itu ingusnya, meleber di baju mahal gue nih!" Ledek Nadine seraya melepas pelukan Odeth dan melirik wajah Odeth yang masih basah dengan air mata yang turun dari pelupuk matanya dengan deras layaknya Air Hujan ketika turun membasahi bumi.

Odeth yang mendengar ledekan sahabatnya tersebut pun akhirnya mulai tenang. Hanya Nadine seorang yang dapat membuat tangisan dirinya berhenti secepat itu dan hanya sahabatnya itu yang bisa membuat dirinya jauh lebih tenang dalam segala hal. Mereka berdua sudah bersahabat selama 14 tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mereka saling mengenal pribadi masing-masing, walaupun Nadine harus melanjutkan study nya di Aussie bukan berarti mereka berdua melepas hubungan mereka begitu saja. Odeth yang melanjutkan pendidikan nya di Universitas Sastra di Jakarta dan Nadine yang melanjutkan pendidikan nya di Universitas Hukum di Aussie. Sudah kurang lebih 2 tahun mereka tidak bertemu, dan saat Liburan musim dingin di Aussie adalah kesempatan bagi Nadine untuk berlibur ke Indonesia bertemu dengan keluarganya dan juga sahabatnya saat ini.

"Nih tissue, lap tuh pipi tembem lu yang basah. Sambil lu nge-lap tuh muka, mending sekarang kita jalan keluar atau cari tempat duduk kosong deh. Gue malu barusan di pelototin ama banyak orang gara-gara neriakin lu." Seru Nadine sambil memberikan tissue yang dirinya ambil dalam tas kecil nya dan Odeth langsung menerima tawaran tissue yang diberikan oleh sahabatnya itu sambil berjalan ke arah dimana ada kursi kosong di sudut sana.

"Lu naik apa kesini?" Tanya Nadine sambil menggandeng tangan sahabatnya itu.

"Gue bawa mobil din, tadi nya mau minta dianterin sama Sean tapi dia gak bisa. Mau dianter pulang kerumah lu dulu kan?" Jawab Odeth yang sudah jauh lebih tenang dan sudah tidak terisak-isak seperti pertemuan awal dengan Nadine.

Aku, Kamu dan Masa Lalu kuNhững tác phẩm khiến độc giả say mê. Hãy khám phá bây giờ