Sore ini langit Bogor tidak secerah biasanya. Awan hitam perlahan-lahan menyelimuti cakrawala, dan aku masih bertahan di tempat ini. Di kafe tempat kita sering menghabiskan waktu. Dulu.
Namun, kali ini aku sendiri. Tidak bersamamu, tidak juga bersama bayangmu. Hanya aku sendiri, ditemani bising yang tidak berarti.
Aku merindukanmu, Gentar.
Aku masih bergeming di bangku bagian sudut kafe dekat jendela—spot yang menjadi kesukaan kita. Tempat yang bernama Kafe Kenangan ini memang penuh kenangan. Kenangan tentang kita, dan rasanya aku ingin sekali berkata pada pemilik kafe ini untuk mengganti namanya saja.
Sungguh, aku tidak bisa, Gentar. Aku tidak bisa seperti ini. Tanpamu.
"Punteun, pesanannya, Teh." Seorang pelayan datang menghampiriku seraya meletakkan segelas cappucino dingin pesananku di atas meja.
Aku hanya tersenyum singkat. "Nuhun A."
"Sami-sami, Teh."
Lihat Gentar, aku memesan minuman kesukaanmu. Entah kenapa di saat matahari yang justru sedang bersembunyi, dan udara yang mulai terasa dingin. Aku memilih untuk memesan minuman yang juga dingin, padahal biasanya aku memesan minuman hangat.
Kamu memang sudah membuatku lupa akan diriku sendiri, Gentar.
Suasana di sini tidak terlalu ramai, tidak juga begitu sepi. Beberapa pengunjung lain datang ada yang berdua, bertiga, atau berempat. Entah dengan pasangan mereka atau sekadar teman saja.
Seperti sepasang anak remaja berseragam putih abu yang baru saja masuk ke dalam kafe ini.
Mereka serasi, Gentar. Sama seperti kita waktu itu. Setidaknya begitu di mataku.
Pandanganku tidak terlepas dari dua anak remaja tadi. Mereka mengambil posisi tidak jauh dariku, tepat berselisih satu meja denganku. Mereka duduk berhadapan. Si perempuan yang cantik dengan rambut bergelombang yang jatuh di punggungnya, dan si lelaki yang terlihat manis dengan lesung pipi dan kacamata berwarna hitam kecokelatannya.
Mereka benar-benar membuatku iri, Gentar. Andai saja kamu ada di sini sekarang.
"Kamu mau pesan apa?" Aku mendengar yang lelaki bertanya pada perempuan di hadapannya.
Kalau aku boleh menebak, mereka adalah sepasang kekasih, atau sepasang sahabat yang lama-kelamaan akan menjadi sepasang kekasih. Sama seperti kita, Gentar. Semoga mereka tidak berakhir sama seperti kita.
Maaf, aku masih saja mengingat tentang kita.
"Teh tarik hangat." Yang perempuan menjawab.
Seharusnya aku tidak berada di sini, dan seharusnya aku tidak memerhatikan mereka. Harusnya aku mencari tempat lain. Harusnya aku mendengarkan kata-kata Vanca untuk tidak lagi mengingatmu. Harusnya memang aku melupakanmu, tetapi demi tetesan air yang sebentar lagi jatuh dari langit, aku benar-benar tidak bisa melakukan semua keharusan itu.
Aku butuh kamu, Gentar.
Semakin aku perhatikan kedua remaja itu, aku semakin merasa miris. Aku merasa seperti melihat aku dan kamu yang menjadi mereka. Semacam guntur yang menyapa telingaku dari luar sana. Menjalar ke kepalaku hingga menyentuh memoriku, menyetel kembali kejadian-kejadian yang sudah dua tahun ini berusaha aku abaikan.
"Kenapa kamu pesannya malah minuman dingin? Sekarang kan lagi mendung. Mau hujan." Perempuan itu bertanya pada lelaki di hadapannya setelah pesanan mereka tiba. Ternyata lelaki remaja itu memesan cappucino dingin sama seperti yang aku pesan.
Kamu ingat, Gentar? Aku juga pernah bertanya perihal itu padamu.
Ada jeda sebelum lelaki itu menjawab. "Soalnya, aku nggak butuh minuman hangat. Kalau aku butuh yang hangat, aku cukup liat kamu senyum aja." Entah dia sadar atau tidak ketika berbicara, tetapi jawaban yang lelaki itu lontarkan sukses membuatnya mendapatkan pukulan dari perempuan di hadapannya.
YOU ARE READING
Kafe Kenangan
Short StorySetiap tempat akan menyimpan kenangan. Entah menyenangkan atau menyakitkan.
