"Rina! Rina! Rina!" seru cowok-cowok kelas 10 IPS 4 meramaikan lapangan basket yang kini beralih fungsi menjadi lapangan bola tangan.
Cewek berkuncir kuda itu berlari sambil memantulkan bola tangan dengan lincahnya, hingga akhirnya mencetak gol. Suara tepuk tangan serta siulan kini terdengar riuh hingga menarik perhatian siswa-siswi yang baru saja keluar kelas ketika bel istirahat pertama berbunyi beberapa menit yang lalu.
Alih-alih berhenti bermain lalu ganti baju atau membeli makanan dan minuman di kantin, siswi-siswi kelas 10 IPS 4 semakin bersemangat bermain bola tangan, seakan-akan melupakan ulangan sejarah yang diadakan usai istirahat nanti.
Semangat mereka semakin berkobar mengingat skor mereka kini telah jauh melampaui skor tim kelas 10 IPA 5. Angka 7-2 tertulis menghiasi papan skor yang dikuasai anak IPS di timur podium.
Permainan semakin seru ditambah penonton dari kelas lain yang ikut menyoraki pemain IPA vs IPS itu.
"Ayo dek gaspoll..!"
"Ayo berjuang jangan sampai bolanya ditikung lawan!"
"Rebut dek rebut bolanya kayak ngrebut pacar orang!"
"Masukin! Masukin! Masukin!"
"Semangat buat calon ibu masa depan!"
"Wiih.. Woy dribble woy dribble!"
"Gooooollll..!!" seru penonton setelah Rina mencetak gol di gawang lawan.
Cewek itu melangkah menghampiri teman satu timnya lalu berhigh five dengan mereka. Tak lupa tim dari kelas 10 IPS 4 juga saling berjabat tangan dengan tim kelas 10 IPA 5, sebagai perdamaian dan tanda berakhirnya permainan bola tangan pagi itu.
"Njay.. sorakannya pada bikin baper!" keluh Syasa sambil meletakkan bola tangan di lantai podium. Ia mengibas-ibaskan kaos olahraganya, menciptakan angin buatan untuk menyejukkan badan karena gerah akibat panasnya matahari selama bermain tadi.
"Hahaha.. kesindir tipis-tipis." Syasa mencibir ejekan Rina yang ditujukan padanya.
"Ngaca! Lo juga sebenernya kesindir'kan, cuma lonya aja yang sok strong." Rina berkacak pinggang, hendak protes pada apa yang baru saja diucapkan sahabatnya itu.
"Itu mulutnya dijaga ya neng, jangan nyerocos terus kayak ibu-ibu lagi gosip di tukang sayur."
"Ih.. yang bener tu elo kayak emak-emak nagih utang, cerewet!" ucap Syasa sambil menggelitik pinggang Rina karena gemas.
"E-eh.. berhenti berhentiahaha, geli Syasa!"
Tanpa mengindahkan perintah Rina, Syasa malah terus menggelitik Rina sampai akhirnya mereka kejar-kejaran di lapangan. Bahkan kini mereka berlari di sepanjang koridor kelas IPA.
"Hahaha.. lo nggak bakal bisa ngejar gue, kaki lo kan pendek."
"Sialan lo, Rin!"
"Hahaha.." tawa Rina pecah melihat wajah kesal Syasa, masih tetap berlari sampai..
Bruk.. Prak!
Rina segera berhenti lalu membekap mulut dengan kedua tangannya.
-----
"Lo ngapain bor?"
"Benerin kamera," jawab Rintang singkat sambil menautkan kedua alis ke tengah. Jika sudah berekspesi seperti itu, Yoga tidak akan menanyakan apapun karena ia tahu Rintang sedang dalam keadaan serius.
Regan menepuk bahu Yoga hingga cowok itu menoleh padanya. Regan menaikkan alisnya sekilas lalu menunjuk Rintang dengan dagunya seolah bertanya "Kenapa tu anak?"
Yoga mengedikkan bahunya, tidak tahu.
"Kalo gue jadi elo, Tang. Bakal gue labrak terus, udah minjem kamera orang balik-balik malah rusak. Berarti itu bocah nggak bertanggung jawab!"
"Kalo lo mau ngomong kayak gitu mending lo ngaca dulu deh, Fi. Jangan asal judge orang kalo pada akhirnya lo kemakan omongan sendiri."
"Kok lo nyolot, sih?! Masih mending lo gue belain, harusnya lo bersyukur punya temen kayak gue. Kalo lo emang nggak punya nyali buat ngehajar tu anak, gue yang bakal maju!"
Rintang berdiri hingga kursinya terdorong mundur, ia menatap lekat-lekat mata sahabatnya. Ia melangkah ke depan lalu tangan kirinya mencengkeram kerah baju Yofi hingga membuat cowok itu langsung sigap dengan mencengkeram balik kerah baju Rintang. Tangan kanan Rintang mengambil ancang-ancang, bersiap untuk menonjok wajah Yofi. "Wait.. wait..! Tang, sadar Yofi temen lo!" bentak Regan sambil berusaha melepaskan tangan Rintang dari kerah baju Yofi.
Rintang menampilkan senyum miringnya sambil menatap datar Yofi. "Thank's. Gue nggak perlu ngehajar dia kayak gini," Tangan kiri Rintang terlepas begitu saja dari kerah Yofi, sedangkan tangan kanannya menunjuk pelipis sambil berkata, "kalo gue masih punya ini." Tangan Yofi mengendur dan terlepas tetapi masih terdengar gemelatuk di giginya, geram dengan sikap Rintang yang menurutnya payah dan belagu.
Rintang meninggalkan kelas sambil menenteng kamera DSLR yang ia otak-atik tadi. Yoga mengikuti langkah Rintang keluar kelas, berusaha untuk menghibur sahabatnya. Langkah kakinya terhenti saat seorang cewek menabrak tubuh Rintang hingga kamera yang dibawanya jatuh dan membuat lensanya pecah.
Ketiganya sama-sama terkejut. Cewek itu membekap mulutnya, Yoga melotot sambil menghampiri Rintang dan mengambil kamera hitam itu. Sedangkan Rintang, jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya saat benda kesayangannya yang awalnya rusak kini tambah rusak karena cewek itu.
Melihat mata Rintang yang memicing -menyeramkan- padanya membuat cewek itu menciut dan perasaan bersalah menyelimuti hatinya. "Ups.. maaf."
Dada Rintang naik turun menahan emosinya yang sudah memuncak. Cowok itu mengambil alih kamera dari tangan Yoga dengan kasar lalu menatap tajam Rina. "Lo pikir minta maaf aja cukup?! Nggak guna!" bentak Rintang membuat Yoga dan Rina berjengkit kaget. Rintang langsung melangkah pergi meninggalkan Yoga dan Rina yang masih tidak percaya dengan kejadian barusan.
Selama lima belas tahun hidup baru kali ini ia dibentak oleh orang lain. Tanpa ia sadari bulir bening mengalir dengan lancar membasahi pipinya yang halus.
"Maaf. Gue emang nggak berguna bagi semua orang!"
-----
1 Januari 2018
YOU ARE READING
LAKUNA [#1]
Teen FictionLakuna bukanlah nama orang, bukanlah singkatan kata. Lakuna berasal dari bahasa Italia yang berarti kekosongan. Buku ini menceritakan tentang seorang gadis ceria yang tanpa orang tahu bahwa ada jiwa kekosongan dalam dirinya. Ia begitu rapuh dan muda...
![LAKUNA [#1]](https://img.wattpad.com/cover/133747365-64-k16073.jpg)