Rintik hujan pagi ini masih menyisakan genangan dari tetesan atap samping balkon rumah. ku lirik jam yang menempel di dinding dikamarku masih menyisakan setengah jam lagi menjelang pukul 06.00 wib, itu artinya aku masih punya waktu dua jam lagi untuk berkemas-kemas menjelang ke kampus. Ya kuliah pertamaku hari ini di mulai pukul 08.30 wib. namaku Ainaya Assyifa, aku kuliah disalah satu Universitas Islam di Padang.
Rasa malas seketika melanda diriku untuk berancak dari sofa, ketika ingat bahwasanya hari ini aku ada janji dengan seorang setelah selesai kuliah nanti, sebenarnya bukan aku yang membuat janji tetapi Bundaku, ya! Bunda mengatur pertemuanku dengan anak seorang sahabatnya.
Beberapa kali aku sempat menolak dengan tawaran Bunda ini, karena aku tidak ingin membuat bunda bersedih walhasil aku mengalah dan mengiyakan permintaan bunda.
...
"Ayolah kak, setidaknya kakak kenal dulu dengan Dhavi ?" nada bunda memohon sambil memegangi kedua tanganku.
Bunda memanggil aku kakak, karena aku memiliki dua adik.
"Tapi bun, kakak belum siap menikah, apalagi nikah muda, Bunda kan tau kakak belum lagi layak jadi istri apalagi Ibu"! dengan nada memelas
"Kak bunda tidak menyuruhmu menikah dengannya, tapi bunda cuma menyarankan kamu untuk kenal dengan nak Dhavi" Nada bunda lebih memelas lagi dari ku.
"Bunda tidak ingin memaksa, jika kamu tidak mau, ya sudah Bunda bisa telpon tante Rani, untuk membatalkan pertemuannya" sambil berancak mencari handpone bermaksud menelpon tante Rani.
"Bund, please jangan buat kakak merasa bersalah" langsung ku pegangi tangan Bunda, Menghentikan gerakannya.
"Oke! kakak mau, tapi dengan satu syarat, kakak nggak mau kalo hanya berdua saja bertemu dengan dia, dia bukan mahrom kakak, kakak mau di temani sama bang Ibrahim".
Bang Ibrahim adalah kakak sulungku. Dia adalah orang yang selalu ada kapanpun saatnya aku membutuhkannya, dia 2 tahun lebih tua dari ku.
...
Kakak, kapan pengen keluar dari kamar? kakak tidak pengen sarapankah?
seritan bunda membuyarkan lamunanku.
tanpa berfikir panjang aku langsung keluar dari kamar menyusuri anak tangga menuju meja makan yang terletak dilantai bawah, ya rumahku, eh rumah orangtuaku memang dua lantai, dan kamarku ada dilantai atas.
Disana telah duduk Walid, bunda, abang dan dua adikku.
"pagi Semua" sapaku sambil ku kecup pipi Bunda dan Walid lalu melesat kekursi meja makan, tanpa berfikir panjang langsung ku seruput segelas coklat panas buatan bunda yang memang sengaja di hidangkan untukku.
"pelan-pelan kak, masih panas" tegur bunda padaku.
sambil mengoleskan selai coklat di roti tawar milikku, bang Ibrahim bertanya tentang rencanaku nanti siang.
"dek nanti jadi ketemuan sama Dhavi?" tanyanya sampil melumat roti di dalam mulutnya.
"tau deh bang, adek malas" , jawabku cuek sambil mengangkat bahu.
"lah, kok gitu! kemarin kakak sudah Setuju, kok sekarang ragu lagi?" bunda langsung menyambar dengan tatapan kecewa kepadaku.
"udah bund, kalo anaknya ndak mau jangan dipaksa". giliran walid yang mengeluarkan suara, tanda keberpihakan padaku.
"tapi. . ."
Belum sempat bunda menyelesaikan alasannya aku langsung memotong
"Baiklah bund, kalo rasanya bunda senang, kakak nurut aja", kataku dengan sedikit senyum simpul
"bang nanti jadikan temenin adek? adek ndak mau nanti ketemu kak Dhavi sedirian"
"iya tuan putri, abang jemput dikampus nanti ya" membalas dengan senyum tipis
. . .
jam sudah menunjukkan pukul 11.30 wib, tapi tanda-tanda kedatangan Bang Ibrahim pun belum terlihat.
Aku menunggu bang Ibrahim diparkiran depan Fakultasku, untuk mempersempit waktu ku buka Novel yang sedari tadi ada ditanganku.
tiga puluh menit lagi waktu shalat Dzuhur.
15 menit menunggu akhirnya yang ditunggu pun sampai.
"abang kemana dulu? kok lama!" tanyaku sedikit kesal.
"maaf, tadi abang singgah di toko buku sebentar", sambil membuka kan pintu mobil untukku "silahkan tuan putri".
"ih abang sweet deh, tumben bukain pintu segala? tanyaku sedikit keheranan.
"kan untuk adek abang tersayang" jawabnya sedikit centil.
Aku hanya senyum sambil menahan tawa. bang ibrahim memang selalu punya cara membujukku. dia takkan pernah membiarkan aku lama-lama mendiamkankannya. Karena dia pernah bilang, bahwasanya ia akan selalu menjagaku, membuat aku tersenyum dan takkan pernah membuat setitikpun airmata jatuh dipipiku, buktinya memang benar, dia selalu ada disetiap aku membutuhkannya. Dia bukan hanya sosok kakak untuk ku, tapi dia juga sahabat sekaligus teman curhatku.
"bang kita singgah di Masjid dulu ya, 15 menit lagi dzuhur, ya walaupun masih awal, tapikan kita dapat keutamaannya, lagian janjian kita sama kak Dhavi juga ba'dha dzuhur"
YOU ARE READING
Ku Temukan Cinta di atas Sajadah
SpiritualAinaya seorang gadis manja yang tiba-tiba dijodohkan oleh sang Ibu dengan seorang anak sahabatnya. Tetapi Ainaya menolak karena alasan belum siap menjadi seorang istri dan juga masih duduk dibangku kuliah. Ainaya benar2 merasa bingung dan hilang aka...
