Namanya Guntur natanegoro, tipikal Bad boy karena tingkah lakunya, tapi bisa dibilang Good boy karena kepintarannya.
Guntur nggak suka bolos, nggak suka tauran, nggak suka ngerokok juga, apalagi pesta miras. Kalau ada yang ngajak atau maksa dia ngelakuin itu, dia nggak bakal segan-segan buat nonjok muka si 'pelaku'.
Jadi, kenapa dia di cap Bad boy? Karena dia nggak suka memakai seragam sekolah dengan baik, suka telat datang ke Sekolah, gayanya yang slengean, nggak suka ngerjain pekerjaan rumah, dan jarang banget mengikuti upacara, tentu saja tingkah lakunya membuat guru-guru kesal. Nggak jarang juga ada yang bilang dia Good Boy, Guntur itu sebenernya pinter tapi bodohnya dia manfaatin kepintarannya pas lagi kepepet doang.
Aldo, sahabat karibnya Guntur. Kali ini, jangan bayangin Aldo sekeren namanya, Nggak, nggak banget.
Aldo itu punya badan yang bahkan nggak bisa dibilang badan, dalam arti dia kurus banget. Rambut yang super duper kribo, juga kacamata yang selalu bertengger dihidungnya. Walaupun dia pake kacamata, bukan berarti dia kutu buku.
Guntur sama Aldo ini cocok banget, walaupun tampang nya beda jauh, tapi jiwa mereka selalu sehati, sama-sama gila, konyol dan mempunyai hobi yang sama, bikin kesel guru. Kayak sekarang ini nih,
"ALDO, KAMU JANGAN NAIK-NAIK MEJA!" Bu Yati, guru sejarah yang sudah berkepala empat itu menunjuk-nunjuk Aldo dengan gagang sapu andalannya.
"JI DUA, JI DUA TILU! ETA TERANGKANLAAH DUNTAKDUNG DUNTAKDUNG ETA TERANGKANLAH," Aldo menggoyangkan pinggulnya, seolah tidak mendengar teriakan Bu Yati.
"TARIIIK MAAAANG!" Guntur juga ikut andil dalam membuat konser dadakan dikelasnya. Penghuni 12 IPA-1 sontak tertawa melihat aksi mereka.
"APANYA YANG DITARIK TUR? GOYANG TERUUUS,"
"ITUNYA DO, IT- ah awh, aduh bu pelan-pelan dong!" Guntur memegangi telinganya yang sudah merah karena dijewer Bu Yati.
"Aldo sini kamu! Kalian ini bisanya ngerusuh saja dikelas saya!"
Biasanya kelas unggulan itu dihuni oleh orang-orang yang memiliki ambisius tinggi terhadap belajar mengajar, tapi hal tersebut tidak dimiliki oleh sebagian penghuni kelas unggulan 12 IPA-1 disini.
"Kalian ini mau jadi apa?!" Bu Yati memijat pelipisnya pening, sudah berkali-kali Guntur dan Aldo menjadi pengacau saat jam pelajarannya. Sudah beberapakali pula mereka diberi hukuman, tapi tetap saja tidak jera.
"Mau jadi masa depannya ibu aja gimana?" Tanya Guntur menggoda Bu Yati,
"Boleh dong?" Aldo menambahkan, menggoyangkan alisnya keatas kebawah. Bu Yati semakin dibuat gregetan oleh mereka, lantas memukul kaki keduanya dengan gagang sapu.
"Saya itu sudah punya 6 anak, berani-beraninya kalian menggoda saya!"
"Ada yang seumuran sama saya bu? Cantik nggak? boleh dong satu buat saya!" Guntur cengar-cengir, seolah tidak merasa sakit oleh pukulan Bu Yati.
"Nggak sudi saya ngerelain anak gadis saya ke kamu! Sudah sana kalian keluar, keliling lapangan sampai bel istirahat berbunyi!"
.....
HALLO!
Semoga suka ya sama ceritanya.
Pls, support me (':
Aku cuman menyalurkan hobi doang, mengisi kekosongan juga kalau lagi gabut. Untuk 7 part kedepan, bakal ku publish setiap hari rabu ya!
Makasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku! Jangan lupa tinggalkan jejak.
YOU ARE READING
ENDLICH
Teen FictionGadis: "Negara ini memang butuh orang yang berkependidikan, tapi gue rasa Negara ini lebih butuh manusia berkependidikan yang 'berhati' dan bertanggung jawab. Bukan manusia berkependidikan yang mempelajari hati, tanpa tau fungsinya. Sehingga nggak a...
