#1 #2

30 0 0
                                        

Sudah lama aku dan dia didera kesibukan. Sulit sekali mengagendakan temu, hingga puncak rindu meraung pada 2 bulan tanpa pertemuan. Udara malam itu cukup dingin, aku mengemasi barangku ke dalam tas, aku menyisakan jaket untuk kupakai.

"sudah siap? aku 10 menit lagi sampai" panggilnya dari balik telefon.

ia menjemputku seperti biasa, kita juga menuju ke kafe biasanya, kita duduk bersebelahan untuk sekedar makan seperti biasa, obrolan tentang laporan, perkuliahan, tugas, ya semua serba biasa saja.

sampai kita kehabisan bahan untuk diceritakan, sampai aku dan dia saling terdiam.

"aku nyaman." ucapnya tiba-tiba. aku mengangkat wajahku, menatapnya bingung.

"aku tau, aku juga nyaman, tapi..."

"tapi apa?" pertanyaannya dengan cepat menyambar.

"sebenarnya aku lelah berada di posisi seperti ini. antara aku yang memilikimu atau tidak sama sekali." balasku.

"kamu butuh kepastian?"
aku mengangguk pelan. Ya tentu, bertahun aku membersamaimu, bertahun pula aku terjebak oleh sangkar harapan dan perasaan yang menggantung, maka apalagi yang aku tunggu selain kepastian.

"kamu benar benar ingin mendengar kepastian dariku?" tanya nya lagi.

aku hanya menunduk. Iya iya iya aku ingin mendengarnya! kepastian akan bagaimana hubungan kita, akan status siapa sebenarnya aku dimatanya, aku ingin diberi jawaban atas segala ragu yang selama ini menyelimuti hubungan ini.

"kepastian yang bisa aku berikan adalah kepastian untuk berpisah."

aku diam. pergolakan batin di hati dan logika di otak makin menjadi. lalu apa arti dari tahun-tahun yang kita lalui berdua? apa arti dari segala perhatianmu? apa arti dari jemputanmu setiap malam? apa arti dari pelukanmu saat berboncengan? apa arti dari gelak tawa saat bercanda berdua? apa arti genggaman tangan ketika kita duduk menonton bioskop berdua? dan apa arti dari banyak hal lainnya yang bahkan tidak cukup aku sebutkan disini? aku membatin. air mata ku tidak sengaja turun.

"kita berdua sudah terlalu jauh melangkah ke arah yang salah, kita harus berhenti. kita harus kembali masing-masing lagi. kedekatan kita tidak dibenarkan menurut agama."

Agama katamu? agama jadi alasan utamanya? asing, aku merasa ada sesuatu yang lain, aku yakin bukan masalah agama.

"begitu ya?" aku dibuat tidak bisa mengelak oleh alasannya yang membawa-bawa nama agama.

"iya, kita sudahi saja ya, mari kita saling memperbaiki diri, nanti kalau jodoh juga kita bakal ketemu lagi." ucapnya enteng.

rasanya ingin aku keluarkan segala kata-kata kasar mendengarnya mengatakan alasan klasik seperti itu. asgfejklfkwplajdowpajp***** batinku.

"iya benar juga ya." kataku padanya sambil tersenyum :))

aku menelan ludah, milkshake vanilla didepanku sudah habis rupanya, padahal tenggorokan ini rasanya kering sekali.

"aku ingin pulang." aku berdiri dan mengambil tasku.
"kamu marah?" ia menarik tanganku segera, menatapku dalam-dalam.

aku hanya menggeleng, aku mencoba melepas tangannya dari tanganku, tapi genggamannya terlalu kuat. sampai ia meraih punggungku lalu mendekapku erat. kehangatannya terasa pada raga ku yang terlanjur beku oleh keputusannya.

aku harus menyebutmu apa? kamu ingin bersamaku tapi kamu tidak ingin mengikatkan hati denganku.

soal agama katamu, mana? aku melirik ke arah tubuhku dan tubuhnya yang tertaut.

"jangan pulang dulu, bicara lah sedikit." pinta nya.

aku menyerah. aku melepaskan tubuhku untuk kembali duduk, aku berusaha keras agar mata ku tidak menatap matanya, karena aku yakin aku tidak akan kuat menahan air mata ku nantinya. baiklah aku akan bicara, mungkin tidak akan sedikit.

"ya, aku setuju bila alasanmu soal agama. akhirnya kamu sadar dan ingin berubah ke arah yang lebih baik dan benar." aku tersenyum, kecut.

"kamu tidak marah?" tanya nya kedua kali.

"ya jelas aku marah, marah pada kebodohan diriku sendiri. menjalin hubungan dengan seseorang selama bertahun-tahun, yang bahkan aku sendiri tidak tahu perasaan orang itu seperti apa padaku. dan sekarang hubungan itu akan berakhir begitu saja, aku senang." lidahku ngilu pada dua kata terakhir.

menjadi dirimu sepertinya menyenangkan ya, setelah dirindukan lantas melepaskan, setelah disayangi lantas menyakiti. bahkan aku belum sempat menyiapkan hati atas hubungan rumit tanpa nama ini.

"aku minta maaf." katanya lirih.

maaf? apa masih berlaku?

sejatinya, sebahagia apapun suatu hubungan, ia tetap butuh pengakuan.

#3 bersambung --

Salahkah?Where stories live. Discover now