"Lo temenin gue disini ya." Lalu mengambil buku yang lebih tepatnya novel.
Sekarang Elina ada disebuah taman yang terletak ditengah kota Bandung. Ia ngga tahu tujuannya, kenapa dibawa kesini. Yang ia lihat dia hanya fokus sama benda yang ada ditangannya. Sebenarnya diajak kesini itu mau ngapain. Dia juga engga ngajak ngomong Elina. Kalau tau Elina diajak kesini dan dikacangi kayak gini lebih baik ia tadi engga ikut.
"Lo itu sebenernya ngajak gue kesini itu mau ngapain sih? Kalo lo mau ngacangin gue, ngga seharusnya lo ngajak gue. Asal lo tau gue ngga suka didiemin." Dengan keselnya diri ku nyerocos panjang lebar.
Dan saat gueberhenti Dimas langsung natap mata Elina.
"Lo cantik kalo lagi kesel gini." Jawabnya dengan seenak jidatnya. Ya Tuhan kenapa pipi Elina ngerasa merah gini sih. Bantu Elina Ya Tuhan. Dan kali ini Elina pengen teriak.
"Eh iya, gue lupa, gue mau nanya sama lo. Boleh?"
"Apa?" Balasnya dengan singkat.
"Tapi lo janji sama gue kalo lo engga akan marah." Jawabku dengan menunjukan jari kelingkingku sambil membuka mulut dan memperlihatkan gigi putih.
Dimas menatap ku dengan tatapam sinis.
"Iya." Jawabnya pun tidak menoleh kearah ku tetap saja dia fokus sama bukunya.
"Iya apa?" Balas ku cepat.
"Iya janji, Elina." Sambil menoleh ke arah ku.
"Oke, kata temen gue, dan gue rada ngga percaya sih makanya gue tanya langsung ke lo. Lo itu terkenal disekolah dengan cowo dingin dan irit ngomong. Itu bener ngga sih? Ha?." Tanya ku dengan panjang lebar.
Dimas langsung melirik dengan tatapan tidak suka.
"Tapi kalo ngga mau jawab juga gapapa, santai aja. Sebenernya, gue ya yang terlalu blak-blakkan padahal kita kan baru kenal. Hehe. Maaf ya." Balasku dengan nada mamohon. Sebenarnya ini juga salah gue. Eh bukan, ini bukan salah gue tapi ini salah mulut gue, ini kenapa sih mulut kok nyerocos terus. Sambil manapuk mulunya sendiri.
"Ngapain mulut lo tabokin sendiri?" Tanyanya sambil terkekeh.
"Ngga papa. Hehe." Balasku dengan salting
"Oke, gue itu sebenarnya ngga irit ngomong dan dingin kayak yang diomong temen lo itu. Tapi ada sesuatu yang, emm... ngga jadi deh." Dengan gampangnya dia menjawab.
"Yah kok gitu. Padahal gue udah nunggu jawabannya lo. Lo mah ngeselin." Jawabku.
Elina duduk disampingnya hanya bisa memandang langit. Diam dan sambil membiarkan angin semilir ini menerpa wajah gue. Langit tiba-tiba menampakan mendungnya. Setetes air hujan jatuh ditangan gue.
"Pulang yuk gerimis nih." Ajakku
"Gamau." Dengan entengnya.
"Ayo dong. Nanti kita kehujanan terus kita sakit gimana?"
"Sekali lagi nih ya, gue mohon sama lo. Gini deh kalo lo ngga mau pulang kita neduh dulu. Atau cari tempat makan gitu. Plis." Nada bicaraku ganti dengan nada permohonan.
"Nah itu ide bagus, kita ngafe aja. Dideket sini ada kafe dan menunya jempol banget dah." Jawabnya dengan nada sumringah.
Sangking semangatnya Dimas narik tangan gue. Berlari sampai tempat dimana motornya diparkir.
"Woy ayo naik malah ngelamun." Katanya sambil dadah-dadah di depan wajahku.
"Iya-iya sabar dong."
Motornya melaju kencang, tibalah didepan cafe. Kalau dilihat dari depannya keren. Kayak bernuansa eropa gitu. Oh namanya 'Lavender Cafe'. Batinku.
"Duduk dimana?" Tanyanya.
"Terserah." Jawabku sambil melihat sekitar cafe tersebut.
Elina hanya ngikutin di belakangnya. Kalo gini terus gue serasa followersnya dah. Dan gue gasuka itu. Dan akhirnya Dimas memilih duduk di pinggir jendela.
"Mau pesen apa?" Tanya Dimas padaku.
"Adanya apa?"
"Ini." Sambil menyodorkan buku menunya.
"Wah, gue mau kue cubit rasa coklat sama minumnya air putih. Udah." Dengan semangatnya.
Dan ternyata dia sambik nulis pesanan yang gue bilang tadi. Omegod ada yang lebih parah lagi, apa itu? Tulisan dia lebih bagus daripada tulisan gue.
"Tulisan lo bagus ya." Kata gue sambil menujukkan sederet gigi putih dan senyum mengembang.
"Gapenting."
Sambil pesenan datang. Dimas hanya termenung, dan gue ngga tau apa yang dipikirin Dimas saat ini sambil derasnya hujan dibalik kaca cafe. Dan gue sibuk sama handphone. Gue sambik ketawa lihat pesan dari Vanessa.
"Taruh handphone lo!" Perintahnya.
Gue tidak menghiraukan apa uang diucapkan Dimas tadi.
"Gue bilang taruh handphone lo!" Kedua klinya Dimas ngomong kayak gitu.
Tiba-tiba Dimas langsung ngambil handphone yang ada ditangan gue.
"Apaan sih. Balikin handphone gue ngga."
Dimas langsung memasukan handphone ku kedalam saku celananya.
"Plissss, balikin handphone gue sekarang."
Dimas lo denger ngga sih kalau gue ngomong sama lo bukan ngomong sama kursi yang lo dudukkin." Kata ku dengan nada tinggi.
Dimas tetep diam dan mandang keluar lagi.
"Permisi, ini pesanannya." Kata mbaknya sebagai pegawai cafe.
"Terima kasih." Jawabku.
Setelah pegawai cafe itu pergi.
"Dimas balikin handphone gue ya."
"Ngga."
"Kenapa sih. Lo marah sama gue?" Tanyaku.
"Gue ga suka kalo lo lagi keluar sama gue, lo fakus sama handphone lo. Dan seharusnya lo fokus sama gue." Jawab Dimas.
Halooooo
Gimana sama cerita kali ini. Suka ngga?
Komen sama vote yaaa
Maaf kalo update nya lama. Soalnya lagi banyak tugas nih
Oke, semoga suka yaaaa
Iloveyouuuu readersssssss💙💙💙💙💙
YOU ARE READING
ELDIMS
Teen FictionDimas : cool, ganteng, idaman cewek satu sekolah. Kecuali Elina. Dimas mempunyai perbedaan sifat menurut Elina, jika Dimas berada di luar lingkungan sekolah dia sangat banyak ngomong, bahkan bisa di bilang cerewet, melebihi ibunya malah. Tapi jika d...
