Suasana seketika hening, mereka bertiga terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Marsha yang benci dengan suasana awkward seperti ini, mulai angkat bicara. "Gue, mau left dari grup Java Pen ini! Bukan tanpa alasan, apa masih bisa grup ini berjalan sedangkan Rega sendiri sampai saat ini enggak pernah muncul, kita kekurangan personil dan deadline tinggal beberapa hari lagi ..." Marsha melepaskan pin Java Pen yang terletak tepat di atas saku seragam putihnya, "Usaha kalian dan mimpi kita cuma sampai sini... makasih untuk kalian berdua, dan Gue titip surat ini buat Rega itupun kalau dia balik."
Marsha berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut, sembari meneteskan air mata, ia merutuki dirinya sendiri begitu bodohnya ia mempercayakan mimpi-mimpinya dan juga mimpi kedua temannya ... yang sangat ia sesali, bisa-bisanya juga ia menaruh hati pada lelaki itu.
Tepat saat Marsha melewati pintu ruangan latihan, ia berpapasan dengan lelaki yang ia tunggu beberapa minggu ini, lelaki itu hendak menyapa dan menanyainya, namun Marsha secepat mungkin menghindari lelaki itu.
"Percayalah, Gue sangat membenci lo! Bintang enggak akan pernah bisa berjajar dengan bintang lainnya jika lo hanya memberikan umpan pada pengaitnya, lalu memutuskannya 'gitu aja."
********
Happy Reading!!!
Don't Forget Follow Me , Because next part
I will private.
YOU ARE READING
Java Pen
Teen Fiction"Percayalah, Gue sangat membenci lo! Bintang enggak akan pernah bisa berjajar dengan bintang lainnya jika lo hanya memberikan umpan pada pengaitnya, lalu memutuskannya 'gitu aja." -Marsha Adinda-
