"Setiap pagi aku selalu bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku bisa menyukaimu?" -AV
-A Feeling-
●●●
"SHILA!!! LO KALAU GAK BANGUN GUE TINGGAL!" Davis berteriak kencang dari depan kamar Shila.
Dengan malas Shila beranjak membukakan pintu untuk Kakak nya itu yang sudah membangunkan tidurnya, karena saat ini Mama dan Papa nya pergi bersama kerumah Oma nya yang ada di Bali.
Shila mendengus dan membuka pintu, "Apa?" Tanya Shila.
Sebelum menjawab, Davis mengecek arloji hitam miliknya dulu kemudian dia menarik nafasnya, "Goblok! Udah jam 6.45, lo mau telat masuk? Lewat dari 15 menit gue tinggal."
"Hari pertama kan gak belajar kak."
"Setidaknya lo harus disiplin."
Shila mencibir. "Tumben banget? Biasanya kakak yang sering langgar peraturan"
Davis memutar matanya malas. "Awal masuk sekolah gak boleh nakal dulu, jadi sekarang gue harus taat peraturan."
Shila mengerjapkan mata nya polos, "Bukannya kakak gak pernah taat peraturan ya?"
"Denger ya adek ku, ini kan pertama kalinya kita masuk sekolah jadi kita gak diharuskan terlambat. Terus besok kaya nya udah boleh." Tutur Davis menjelaskan dengan sabar.
"Cepetan mandi."
"Iya-iya, Shila mandi."
Shila bergegas membersihkan dirinya dan memakai baju sesuai yang ditentukan oleh pihak sekolah. Setelah selesai, Shila berjalan menuju cermin full body nya untuk melihat penampilannya, kemudian Shila melangkahkan kakinya menuju meja rias dan mendudukan dirinya di depan kaca, Shila menaburkan bedak pupur kearah wajahnya, memoleskan lips gloss ke bibirnya yang terlihat sedikit pucat. Setelah itu, Shila menata rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja.
Shila melihat bayangannya didepan cermin, lalu ia tersenyum. Iq mengambil tas rasel nya yang berwarna abu-abu yang bermerek Gucci dan turun menemukan Kakaknya yang sedang memainkan Ponsel nya.
"10 menit, 45 detik." Celetuk Davis membuat Shila tertawa pelan.
"Yuk pergi." Ajak Shila.
"Gak makan dulu?" Shila menggeleng pelan dan berjalan ke teras rumah mendahului Davis.
"Kak, kok bisa sih Shila suka sama kak Revan?" Davis memandang adiknya bingung, pertanyaan macam apa itu?
"Ya.. suka itu wajar. Kita gak pernah tau kenapa kita bisa suka sama seseorang, kepada siapa hati kita akan berlabuh, kapan rasa suka itu muncul pun juga kita gak pernah tau. Menyukai seseorang juga gak butuh sebuah alasan, karena kalau lo suka Revan ada alasannya berarti, lo gak tulus namanya." Davis terkekeh pelan saat mengucapkan kalimat terakhirnya, entah apa yang lucu ia sendiri pun tak tau.
Shila mendengus kesal. "Ngerusakin suasana."
"Heheheh... oke kali serius. Denger ya dek, suka sama orang itu wajar. Menyukai seseorang gak perlu alasan. Sebab kalau lo suka Revan ada alasannya berarti itu gak murni. Karena apa? Karena ketika alasan itu pergi maka hati lo bakal berubah alias rasa lo ke dia gak sama lagi. So, sukai orang karena dia adalah dia, bukan yang lainnya. Ngerti?" Davis menjelaskan panjang lebar ke Shila dengan lambat dan sabar layaknya Mario Teguh membuat adiknya mengangguk mengerti.
BINABASA MO ANG
A Feeling
Teen FictionKalian benar, hal yang paling sulit dijalani itu ketika membuat seseorang yang kita sukai itu tahu dengan perasaan kita atau dengan sebutan lain adalah PEKA. Apalagi berjuang sendirian demi seseorang yang kita inginkan itu bukanlah hal yang wajar. D...
