"Mbak pesan espresso satu."
"Dengan atas nama siapa kak?. "
"RL. "
"Kok tumben sendirian kak? Biasanya bertiga?. "
Aku menjawab dengan menggelengkan kepala dan langsung menuju kasir untuk membayar.
Saat sedang mengantri untuk membayar, aku merasakan getaran di saku celanaku dan langsung mengambilnya. Aku melihat tulisan 10 panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dikenal dan 20 pesan dari nomor yang tidak dikenal juga dari ponselku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengnonaktifkannya lalu memasukan kembali ke dalam saku.
Selang beberapa saat, tiba giliranku untuk membayar. Setelah itu aku mencari tempat duduk dan aku memilih di pojok ruangan yang sebelahnya kaca tansparan.
Kaca itu sangat luas, hampir mengelilingi sebagian luas cafe ini. Kaca tersebut untuk menggantikan tembok sehingga siapapun yang duduk disekitarnya dapat melihat lalu lalang kendaraan yang melintas.
Bau kopi yang sangat tajam menyambutku saat menghampiri tempat ini. Dan hawa dingin menyambutku saat aku duduk di kursi kayu ini, karena tepat dibelakangku terpasang AC yang mungkin kira-kira di atur dengan suhu 18 c yang mungkin sebagian orang akan nyaman-nyaman saja saat pada suhu tersebut, tetapi untukku sudah membuat gigi ku berceletukan.
Dari sini aku bisa melihat riuhnya tempat ini, ada seorang remaja yang duduk di tengah ruangan tertawa secara lepas dengan teman-temannya saat salah satu dari mereka kalah memainkan kartu Uno dan mencoreti wajahnya dengan bedak. Dan semua pengunjung menoleh ke arah mereka dengan ada yang ikut senyum, juga ada yang memasang wajah masam karena tertawa mereka yang mengganggu menurut mereka.
Tidak jauh dari remaja itu selang dua meja dari kanan mereka, ada seorang sepasang kekasih yang mungkin sedang dilanda masalah. Kenapa aku bisa menyimpulkan begitu? Karena saat tak sengaja berpapasan menuju tempat duduk ku ini, aku melihat ekspresi sekilas si cewek yang begitu marah. Dan ekspresi si cowok seperti sedang meminta maaf. Entahlah aku tak perduli dengan mereka.
Lepas pandanganku kepada sepasang kekasih yang sedang bertengkar, mataku tertuju pada seorang sepasang suami istri dengan anaknya yang kira-kira berumur 8 tahunan. Posisi mereka tepat di depanku selisih 3 meja. Mereka tampak bahagia, bercanda ria dengan anaknya yang berjenis kelamin laki-laki itu. Saat aku melihat mereka seketika hatiku merasa sesak.
Selang beberapa saat, tibalah pesananku. Secangkir kopi panas espresso. Dengan ramah weiter meletakan kopi pesanku dengan pelan ke meja dan mengatakan selamat menikmati tidak lupa juga sang weiter memamerkan dedetan gigi rapinya. Aku balas dengan anggukan kepala dan senyum simpul.
Setelah itu sang waiter pamit untuk meninggalkan tempat dan langsung berjalan ke tempat pembuatan kopi yang tak jauh dari tempat dudukku.
Kepulan asap putih melambung tinggi dengan aroma kafein yang sangat tajam, aku menggangkat dengan kedua tangan cangkir panas itu dan mengarahkannya ke indra penciuman untuk mencium lebih detail aroma kafein. Setelah itu aku mencoba mencicipi sedikit dan seketika rasa pahit dan panas menjalar ke seluruh indra perasaku.
Sontak bahuku mengangkat ke atas dan meringiskan wajahku karena rasa pahit dan panas yang masuk kedalam tenggorokan dan mungkin melukai lidahku. Aku meletakan kembali cangkir panas ke meja. Aku mendapatkan rasa pahit.
Rasa pahit, ya rasa pahit, seperti yang ku harapkan. Akhirnya aku bisa meminumnya tanpa ada yang melarang. Beberapa akhir ini aku selalu mendapatkan rasa manis atau rasa yang menurutku kurang pahit. Dan ketika aku mendapatkan rasa yang pahit seseorang pasti akan melarang meminumnya atau langsung membuang kopiku, tapi itu dulu.
***************************************************************
Hollaa
ini cerita pertama aku dan mungkin jelek geje dll, harap maklumin ya namanya juga pertama hehehhehe.
oh ya, ini crita mungkin cuma ada 3 sampe 2 part terus ganti judul lagi. semacam cerpen gitu. jadi stay tune aja ya hehehehe^^
Vote, kritik dan saran sangat berguna bagi saya, jadi tinggalin jejak ya^^
11/28/2017
\(^-^)/
KAMU SEDANG MEMBACA
Story Of My Depression
Teen FictionTentang bagaimana seseorang hidup dalam kedepresiannya dan bagaimana dia menghadapinya.
