"Zaa, bangun sholat subuh, nak!", pagi ini diawali dengan teriakan wanita paruh baya pada seorang gadis yang tampaknya tidak terlalu peduli dengan teriakan itu.
Brakk
"Tadi disuruh ngapain sama ibu? " suaranya rendah terdengar seperti perintah, hingga siapapun yang mendengar akan dengan cepat melakukan tugasnya. Begitupun gadis itu, yang beranjak dengan cepat dari kasurnya untuk segera mengambil wudhu dan sholat dua rakaat, lalu keluar kamar, menarik kursi dan duduk di dapur dengan tatapan sulit diartikan.
"Punya makanan apa, buk ?" kalimat pertama dari gadis itu terlontarkan. Ibunya menoleh,
"Mandi dulu, baru nanyain makanan. Tiru itu kakakmu, mandi baru sarapan, kamu malah kebalikannya." gadis itu melongos mendengarnya, ia udah mendengarnya berulang kali. Lalu berjalan kearah meja makan, mengambil nasi dan lauk lalu sibuk dengan sarapannya.
"Ambilin handuk, dek!" itu suara abangnya. Ia mendengus,
"Tadikan juga nglewatin dapur sebelum nyampe kamar mandi, kenapa gak sekalian bawa sih!"
"Udah cepetaan!"
Erza meninggalkan sarapannya lalu berjalan ke arah kamar mandi, dan tak lupa handuk untuk abangnya.
Seusai sarapannya selesai dan melihat abangnya keluar dari kamar mandi, ia beranjak mandi, waktu menunjukan pukul 06.00 pagi.
Setelah mandi ia beranjak ke kamarnya, mengganti pakaiannya dengan baju merah putih yang tergantung di almari, lalu mulai mengecek jadwal pelajaran hari ini.
"Duh, ada PR matematika. Mana belom ngerjain lagi." lalu dengan cepat memasukan buku pelajaran hari ini dan beranjak keluar kamar, menemui ibunya untuk pamit dan hal wajib setiap harinya, uang saku. Lalu mengayuh sepedanya ke rumah seorang teman.
"Aisha!!!" teriaknya.
"Baru mandi, za! Masuk aja" itu teriakan ibu dari temannya si Aisha, lalu berjalan masuk dan mendekati kamar mandi.
"Aku belum ngerjain PR matematika, liat ya!"
"Ambil aja dikamar, sekalian jadwalin buat hari ini ya!" Erza mendengus, tak apalah, toh dia juga dapat contekan hari ini, ia melirik jam di dinding kamar Aisha, jam setengah tujuh dan Aisha baru mandi? Yang benar saja tapi tak urung ia kembali sibuk menyalin PR untuk hari ini, 5 menit kemudian Aisha telah siap dengan seragamnya, dan jangam lupakan bahwa ia belum sarapan. Temannya yang satu itu memang punya bakat untuk jadi orang yang selalu datang lima menit sebelum bel berbunyi, berbeda dengam dirinya yang sudah menginjakan kakinya di sekolah tepat pukul setengah tujuh, bukan karna ia rajin, ia adalah tipe orang yang tak pernah mengerjakan PR, jadi semisal ia tiba di sekolah ia akan bertanya pada teman sekelasnya, apa ada PR untuk hari ini ? Baru dia kerjakan. Tapi ketika dia tau ada PR ketika dia menjadwal di pagi hari, maka seperti hari ini, ia menyambangi rumah Aisha dan menyalin PR sekalian menunggu temannya itu siap untuk ke sekolah bersama. Erza memang sudah ada bakat pemalas dari dirinya menginjak kan kaki di Sekolah Dasar.
"Udah, ayok berangkat. Assalamualaikum, ma!" pamit Aisha pada ibunya, perlu kalian ketahui, Aisha adalah salah satu anak berprestasi di sekolah Erza, berbanding balik dari Erza yang akan lebih memilih tidur daripada belajar. Mereka mengayuh sepeda menuju Sekolah Dasar swasta, mengobrolkan hal tak penting, jarak antara sekolah dan rumahnya tidak terlalu jauh untuk ditempuh dengan sepeda, terlihat sekolah mulai ramai, ya jelas karena 5 menit lagi bel akan berbunyi. Erza dan Aisha memasuki kelas paling senior di Sekolah Dasar. Erza mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, terlihat Ersa melambaikan tangan, lalu keduanya menghampirinya
"Kamu sama Nadira ya, sha. Erza duduk sama aku." itu Ersa, memang namanya hampir sama dengan Erza, akan tetapi orangnya berbanding balik, Ersa putih, cantik, pintar dan siapapun pasti menyukainya, bahkan anak dari sekolah lain pun ada yang pernah menyatakan rasa sukanya pada gadis satu ini, berbanding balik sama Erza, dia selain punya warna kuliat sawo matang, malas belajar, tidak pernah mengerjakan PR dan yang pasti hobby berantem sama Arif, Rama, dan semua teman laki-laki di kelasnya.
********
Membosankan, entahlah aku memang tidak terlalu suka belajar, walau ujian sudah di depan mata, tapi aku lebih suka nongkrong di depan tv nontonin idola cilik. Hari ini hari sabtu, dan hari ini idola cilik tayang, tapi guru les IPA di depan sana yang sama sekai tak ku dengarkan masih sibuk menjelaskan.
"Pak, abis nyelesain ini pulang ya! " seruku dari meja belakang. Pak Aji menoleh, lalu tersenyum.
"Boleh, setelah mengerjakan ini kalian boleh pulang. " aku tidak begitu suka dengan beliau, karena aku pernah di permalukan oleh teman sekelasku, tapi beliau sama sekali tak membelaku.
#flashback
"Coba Erza maju ke depan, dan kerjakan nomer 5." suara menginterupsi dari guru les IPA, aku mendongak, tak urung berdiri dan maju ke depan sesuai perintah pak Aji.
"Kamu pake celananya Eza ya ?" Seru seseorang dari belakang, aku menoleh lalu melirik sinis terhadap pemilik suara itu, Dia Bara, musuhku sejak aku kelas satu. Menyebalkan!
Ku dengar tawa menggema di kelas, dan pak Aji sama sekali tak membelaku atau menghentikan tawa mereka, beliau malah ikutan tertawa. Oke, Ayahku memang selalu membelikan barang untuk aku dan abangku sama, walau warnanya beda. Dan sialnya, Bara mengenal dekat siapa abangku.
Sejak saat itu aku tak menyukai beliau. Oke, dia memang tak bersalah sepenuhnya, yang bersalah itu Bara. Oh ayolah, Bara memang tampan, dan aku memang harus mengakuinya tapi itu tak menampik bahwa dia itu sangat menyebalkan. Dia bersama kedua temannya yang sama menyebalkannya selalu menggangguku.
Oke, jangan lupakan bahwa mereka bertiga memang punya otak diatas rata-rata dan aku mengakuinya.
Waktu menunjukan pukul 3.25 WIB, Kelas untuk les Ipa sudah berakhir, kami beranjak pulang, mengayuh sepeda bersama beberapa temanku, termasuk Aisha, Nadira, Ersa, Bara, Arif dan tiga temanku lainnya.
"Balapan yuk, lepas stang ya!" ajak hasan pada yang lain.
"Yang belok kalah ya!" ujarku.
Dan terjadilah balapan liar sepeda dengan dua tangan tanpa menyentuh stang, dan Nadira juga Ersa tidak terlibat karena mereka memang benar sebenar-benarnya wanita.
"Yak Bara kalah!" seruku ketika Bara membelokkan sepedanya ke halaman rumahnya, ya kita memang melewati rumah Bara kemudian di susul dengan Arif, lalu jika tiba giliranku untuk berbelok aku akan berseru,
"Sirkuit itu ada beloknya juga, yang lurus kalah, has."
Hasan mendengus, Tama dan Irfan mencibir,
"Dasar gak mau kalah!"
Aku hanya tertawa dan memelankan laju sepedaku menunggu dua temanku yang lain dengan Aisha,
"Mereka berdua memang lama, keburu kita berbelok nih, za"
"Nggak tau tuh, tinggalin aja."
Rumah ku memang satu arah dengan Aisha, tapi memang masih lebih jauh darinya, berada di paling barat dekat dengan hamparan sawah yang luas seluas persahabatan kita *apasih
Sampai rumah, rumahku kosong karena Abangku sekolah, Bapak Ibukku bekerja, jadi setelah mengganti seragamku lalu mengambil uang tinggalan untukku aku pergi bermain, berbeda dengan Abangku dulu, ketika pulang sekolah, Ibukku akan menanyakan ada PR atau tidak, dan dilarang keras bermain sebelum mengerjakan PR, tapi sekarang aku tak pernah mendapatkan pertanyaan ada PR atau tidak, sepulang sekolah rumah kosong, dan itu menjadikanku kebiasaan tidak mengerjakan PR sedari kecil. Dan itu terbawa hingga aku dewasa.
Hallo, aku kembali dengan cerita baru, iam seriously this is the true story, but ada beberapa yang bakalan fiksi sih, wkwwk dan akan banyak kemungkinan bakalan ganti judul. Hihi
-14 Agustus 2018
YOU ARE READING
Impossible
Teen FictionAku dan kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan. Ah tidak, aku lebih ke sadar diri akan siapa aku -Erza Az-Zahra
