Namaku Siti Nurhamidah, aku tinggal di Palembang daerahnya di sekojo, umurku 10 tahun kelas 5 sd, saat ini aku akan pindah rumah ketempat lain meninggalkan tempat kelahiranku disini, tidak rela sebenarnya tapi apalah daya aku hanya anak perempuan paling bungsu dari 5 bersaudara, aku hanya mengikuti saja tidak berani menolak ataupun mengeluarkan pendapatku.
Setelah kami pindah tempat yang ku tinggali dulu dibuat pondok pesantren oleh siempunya. Nama pondok itu Qurrotul A'yun Darussalam. Setelah pondok itu berdiri sekitar 2 tahun dan aku sekarang kelas 1SMP. Aku belum berhijab. Saat itu aku sedang ada di tempat tinggalku dulu karna aku lahir disini aku sudah menganggap tetanggaku itu saudara,karna mereka yang tahu bagaimana masa kecilku dulu, disini aku berteman dengan tetanggaku baru dekatnya sekarang. Ia bernama Reni Marlina ia lebih tua darinya.
Dan sekarang aku sedang ada dirumahnya. Dia bilang padaku " nur,sepertinya anak itu melihatmu terus dan pandangan melihatmu beda" ujar yukreni, nur kok rijal melihatmu terus yah? Mana beda gitu lihatnya?? Kataku " biarlah yuk diakan punya mata,guna mata kan untuk melihat, " aku berpikir positif tidak memikirkan hal yang lebih jauh,ujar yukreni" ish itu mah ayuk tau nur tapi beneran dia melihatmu terus bukan hanya sekarang kemarin-marin juga begitu ayuk sering memergokinya melihatmu" kataku" ah sudah biarkan saja yuk ,yukreni " kauini,mungkin saja dia suka padamu" kataku" suka apanya yuk,aku masih kecil jangan kotori pikiranku haha" yukreni tertawa sambil menepuk pundakku. Tidak lama aku menoleh dan melihat dia disebelah jendela sambil tersenyum padaku. "Deg" apa ini kenapa tiba-tiba jantungku berdetak tidak wajar yahh pikirku. Dan dia pun pergi, malu mungkin.
Aku pun bertanya pada yuk reni siapa dia? Yukreni menjawab " Rijal,dia salah satu santri disini,seumuran denganmu, dia itu santri yang cuek,pintar,dan rajin itulah yang buat ayuk heran kenapa dia melihatmu seperti itu, aku pun menjawab" mungkin karna aku cantik haha" yukreni pun ikut tertawa, dari situ aku hanya mengingat senyumnya.
Keesokan harinya aku kesana lagi mengikuti ibuku yang ada acara pengajian,aku dipaksa memakai hijab aku menolak karna panas, ibu bilang sebentar saja. Aku pun mengiyakan.
Setelah acara selesai aku kerumah yuk reni, dan disana aku buka hijab, karna tidak tahan panasnya, yukreni pun berujar " rijal lebih suka cewek yang berhijab, akupun terdiam, entah kenapa namanya disebut hatiku berdebar (lagi). Dan dari situlah aku memutuskan menggunakan hijab wahh adaapa denganku.
