"Hei," Ia tersenyum getir. "Maaf, aku baru berani mengunjungimu setelah satu tahun."
Tidak ada jawaban.
Tentu saja, bagaimana mungkin yang diajak berbicara bisa-dan mau- untuk menjawabnya?
"Sungguh, aku menyesal. Harusnya aku bisa menemuimu lebih awal." Ia menitikkan airmata. Sungguh, ia telah salah mengira. Mengunjungi orang tersebut hari ini justru membuatnya kian larut dalam kesedihan.
Angin bersiul pelan, membawa raganya pergi melintasi awan dan larut dalam angan-angan. Angan-angan untuk kembali hidup bersama dengan orang itu. Orang yang dicintainya.
Ia menghapus kasar airmatanya seraya kembali berkata, "Kau tahu? Aku bahkan selalu bermimpi tentangmu selama setahun ini. Andai aku bisa teleportasi, mungkin aku sudah mengunjungimu dari jauh-jauh hari."
Langit mulai menitikkan tangis. Ah, bahkan langit pun turut bersedih melihat kondisinya saat ini.
"Ah iya, kau ingat janji terakhir kita sebelum berpisah? Kau minta aku bawakan ini tiap mengunjungimu." Ia mengambil sebuket bunga amaryllis dan menaruhnya di atas tanah kemudian kembali angkat suara, "Ini untukmu, supaya selalu ingat aku."
Hujan melebat, bahkan kini langit menggemuruhkan isakannya. Ah, hujan dan petir selalu membawa kenangan.
"Aku pergi sekarang ya. Ingat, aku akan selalu merindukanmu." Ia mengelus nisan tersebut untuk terakhir kalinya kemudian beranjak pergi.
Meninggalkan pemakaman itu.
YOU ARE READING
Impatiens
RomanceMencintamu laksana melihat oasis di teriknya padang pasir. Indah, melegakan rasanya. Namun nyatanya, oasis itu fatamorgana semata. Begitu pula kau dan segenggam harapan, Fatamorgana. ©senjabiruu, 2017.
