23:59

455 39 3
                                        

Note:
-Fiksi ini memiliki alur mundur. Sedikit memusingkan tapi semoga memuaskan. Gue aja pusing lur.

-Setiap tanda baca, tulisan miring, tebal, miring dan tebal, rata kiri, rata tengah, dll ada artinya. Tapi pahami ndiri lur :v

 Tapi pahami ndiri lur :v

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

~~~

Summary:

Kenangan. Menumpuk banyak. Menghantam mereka telak.

~~~

"Apakah kau akan terus begini, Seongwoo?"

Tidak tahu dari mana datangnya pertanyaan itu, mendadak saja terdengar menembus malam-malam hening lagi dingin yang senantiasa ia nikmati seorang diri; tanpa Daniel. Seongwoo sama sekali tidak merasa ia harus bercermin sebab pria itulah yang sepatutnya berkaca pada diri sendiri, mempertanyakan pertanyaan yang seharusnya ditanyakan bukan padanya. Maka, ia diam saja, enggan menanggapi.

Walau Daniel tidak senang dengan kebisuannya.

Dan lagi.

Satu dorongan kuat.

Ia tersungkur. Melipat lutut. Menutup kedua telinga.

Tidak. Tidak. Jangan berteriak padaku. Kau tidak seperti ini sebelumnya. Tidak. Jangan.

Tapi Daniel tetap berteriak, bersumpah-serapah. Berkata pria itu bahwa dia lelah dengan hubungan mengesalkan semacam ini, bahwa tahun-tahun yang mereka sudah lalui tak ada artinya—tak pernah ada artinya; juga persanggamaan manis, kenangan yang bertumpuk di dada serta janji yang tampaknya berakhir pada kehampaan. Janji adalah janji; kata-kata kosong tanpa kepastian sebab waktu tak pernah mampu diprediksi (dan hati, betapa sial, mudah berbalik). Seongwoo tetap bisu. Tak peduli pada buku-buku yang berhamburan di depan muka, rak yang bernasib sama. Lantas suara itu tiba-tiba saja lenyap seakan tak pernah ada.

Daniel hilang.

Namun buku-buku berhamburan (dan rak terguling tak berdaya, separuh hancur karena patah). Dan ia tersungkur. Dan teriakan itu sungguh nyata. Dan darah di sudut bibirnya—Lenyap.

Seongwoo memandang jendela. Tirai tersibak sebagian. Ada langit malam. Gelap sekali. Ia ingin terbang ke sana. Menjadi kelam yang bisu. Maka ia melompat terbang. Meski jatuh dan hancur.

Dan patah.

Dan berdarah.

Dan mati.

Wanna Oneshots - ONGNIELStories to obsess over. Discover now