PART=> 1

1K 36 1
                                        

WARNING, maafkan typo bertebaran dimana-mana.

          Aku di tuntun dan di persilahkan duduk di samping seorang pria yang baru aku tahu beberapa jam yang lalu.
Di hadapkan seorang penghulu dan di kelilingi orang ramai.
Sebuah pristiwa yang sakral telah terjadi di hadapan ku.
2 orang saling berjabat tangan dan mengucapkan janji suci mempersatukan 2 sisi yang berbeda dalam sebuah ikatan pernikahan

#flasback on
           Gelap masih menyelimuti pagi ini hawa dingin mulai meraba kulit.
Suasana di stasiun kereta api kota jakarta begitu ramai,  seorang wanita dengan tas ranselnya yang besar dan beberapa tas lagi yang dia pegang di ke2 sisi tangannya.
Tergopoh-gopoh mengikuti arus para penumpang turun dari gerbong kereta
"aruna... " terdengar begitu jelas dengan cepat wanita itu pun menoleh.
"ayah... " dengan masih tergopoh-gopoh aruna pun menghampiri ayahnya, meraih tangannya dan menciumnya.
"sudah lama nak ".
"gak kok yah, ayah sehat? ".
Sebuah ukiran senyum manis yang selalu dirindukan begitu lama terpancar di bibir ayah.
"iya... Ayah sehat".ucap ayah seraya mengambil alis tas dan beberapa bawaan ku
"yah gimna kabarnya mba laras, pasti dia seneng banget ya mau nikah". Ucapku sepanjang keluar dari stasiun menuju parkiran.
"oh iya aku udah liat calonnya mba laras dari instagram, cocok banget buat mba laras, mba laras nya cantik nih calon nya ganteng,  tinggi,  putih pria idaman wanitalah". Crocos ku membuat ayah tersenyum masam
Cepat-cepat ayah memasukan barang-barang bawaan ku kemobilnya.
          Di perjalanan menuju rumah kulihat kota jakarta dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit yang semakin banyak,  arus lalu lintas yang tiada hentinya kesibukan ibu kota yang tiada pernah berubah.
Sesekali kulihat ayah yang sedang fokus menyetir.
Tak lama kami pun telah sampai di rumah kami, rumah sederhana yang selalu aku rindukan dimana tempat aku mendapatkan kasih sayang seorang ayah,  sudah begitu lama rasanya aku meninggalkan rumah ini banyak yang begitu berubah di tambah lagi akan ada acara akad nikah mba laras rumah kami terlihat begitu cantik dengan banyaknya bunga-bungan.
          Sejak bayi aku tak tinggal bersama dengan keluarga ku.
Ibu ku meninggal setelah melahirkan ku,  saat itu umur mba laras menginjak 4tahun ayah begitu kerepotan mengurus ku hingga akhirnya ayah pun menyerahkan ku pada bude di jogja dan aku pun tumbuh besar di jogja.
Setiap tahun libur sekolah ayah selalu menyempatkan mengunjungiku di jogja hingga kini aku telah lulus sekolah dan aku telah kuliah di salah satu universitas terkenal di jogja.
Belum sempat aku membuka pintu mobil ayah lebih dulu memegang pundak ku, aku pun terkesiap dan menghentikan gerakan ku
Ku lihat ayah ada senyuman getir disana hingga tak lama secarik kertas kusam lecek di berikan ayah kepada ku,  aku pun menerimanya ku tatap wajah ayah ada keraguan disana

Untuk ayah, maafin laras yah
Laras harus pergi, laras menunda pernikahan laras, laras gak bisa menunda untuk pergi keparis mewujudkan cita-cita laras yang telah lama laras rancang sejak lama untuk menjadi designer terkenal
Kesempatan laras hanya kali ini yah jadi laras gak bisa menundanya
Laras minta maaf yah
Laras pergi.

Laras

Ku tatap wajah ayah begitu lekat ada hawa panas yang mulai menjalar di antara kami.
"nak,  apa ayah berhak menentukan pilihan hidup mu? ". Pertanyaan ayah membuat ku binggung, ku tatap wajah ayah dengan lekat ayah pun tersenyum kecut mengalihkan pandangannya.
"seharusnya ayah mengajukan pertanyaan ini pada mba laras". Ucapnya penuh sesal.
Ku lihat tangan ayah mulai gemetar di atas kemudi mobil, aku pun menggenggamnya mencoba ikut merasakan kesedihannya.
"ayah gak ada hak buat menentukan pilihan hidup mu, kamu bebas menentukannya". Suara ayah mulai serak menahan tangisnya.
"ayah...aruna anak ayah, ayah berhak menentukan baik atau tidaknya pilihan hidup aruna mau bagaimana pun ayah panutan hidup aruna".
"nak kamu tahu sekarang posisi ayah hancur harus menahan malu, ayah hanya punya 1 pilihan".
Ayah memberi jeda pada ucapannya hingga tak lama ayah melanjutkan ucapannya dan dalam satu tarikan nafas.
"kamu harus menggantikan posisi mba laras". Bagai sebuah pukulan keras menghantam kepala ku hingga jauh menusuk sampai kerelung hati hingga ingin rasanya aku lenyap sekarang juga mendengar ucapan ayah.
"bagaimana bisa aku menggantikan posisi mba laras, mau di bilang apa dengan calon suami dan keluarganya mba laras yah".ucap ku gemetaran menahan tangis ku yang ingin meledak.
"ayah sudah merundingkannya dengan keluarga bara dan maaf ayah harus melibatkan mu dalam masalah ini nak".
"Ayah tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita dan keluarga bara".
Aku terpojok dan aku tak punya jalan lain,  situasi ini amat sangat rumit dalam sekejap dunia seakan runtuh menimpah ku.
Bagaimana bisa aku menggantikan posisinya mba laras, bagaimna dengan kuliah ku dan cita-cita ku,  apa yang akan terjadi nanti kalau aku sudah menjadi seorang istri ????
Pertanyaan-pertayaan itu seakan membunuh pikiran kesadaran ku,  otak ku tidak bisa berfikir dengan jernih.
Ini seperti mimpi,  mimpi yang paling buruk dalam hidup ku
Ku coba memejamkan mata ku menetralisir yang telah terjadi mencoba bilang ini semua akan baik-baik saja tapi pada kenyataan pahitnya ini semua tidak akan baik-baik saja.
Tak sadar sebuah tangan menepuk pundak ku, aku pun terperanjat dengan ragu ku tatap wajah ayah dengan keyakinan seadanya aku pun mengganggukan kepala ku.
Terukir kembali senyuman ayah yang selalu aku rindukan.

TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak votmennya kakak 😊😊😊

ARUNAWhere stories live. Discover now