1. Lova Arabella

35 4 0
                                        

Selamat membaca cerita baruku. Aku harap kalian suka. Dan kalo emang suka, jangan lupa vote (tapi aku nggak maksa). Dan seandainya nggak suka, ya tolonglah tetep vote (ini namanya maksa).

Banyak ngomong yah ane!

Yaudahlah..

Happy reading:*

«««»»»

Tiiiin tiiin

Siswa dan siswi yang semula menggerumpul memenuhi halaman sekolah langsung membuka barisannya. Membuka jalan membiarkan motor yang dinaiki Lova lewat menuju parkiran khusus motor di SMA Pendidikan. Mereka kelihatannya sangat menghormati Lova meski, sebenarnya mereka mencemoh dan menatap penuh ketidaksukaan padanya. Tapi mereka tidak akan menunjukkannya di depan si miss A.

Ya miss A. Dijuluki miss A karena selalu mendapatkan nilai A di semua mata pelajaran.

Lova tau dia ditatap oleh semua makhluk yang ia lewati barusan tapi Lova tidak peduli.

Dengan lagak yang tidak ada ramah-ramahnya, Lova turun dari motor dan berjalan lurus tanpa perlu menyapa teman sekelasnya yang kebetulan ia lewati.

"Sombong banget, parah!"

"Iya! Mentang-mentang kaya, cantik, pinter gitu?!"

"Iya. Berasa paling hebat kali dia disini! Cewek kayak gitu moga aja dapet pelajaran!"

"Bener tuh, gue setuju. Biar nyahoo!"

Bodo amat! Lova tidak perduli meskipun dia mendengarnya. Sudah hampir seribu kali selama enam belas tahun hidupnya ia mendengar cemohan dan doa yang menyudutkan dirinya dari orang yang iri padanya.

Brukk!

Seseorang menabrak Lova dari belakang. Lova menatap siapa yang menabraknya. Ternyata siswi yang merupakan anak kelas sepuluh. Adik kelasnya itu menunduk tidak berani membalas tatapan nyalang Lova.

Lova diam. Lalu kakinya mengayun melangkah menuju kelasnya, XI IPA 1. Dia tidak mau mengurusi hal sepele seperti barusan. Tatapan nyalangnya sudah cukup mengartikan kalau adik kelasnya itu tidak punya mata!

Uh! Mata Lova emang suka bicara banyak.

"Lova!" Panggil seorang guru matematika pada Lova yang barusan melewati ruang guru. Lova berbalik.

Dia langsung merubah air mukanya menjadi ramah. Senyum mengembang dengan mata yang menyipit. "Iya, saya Bu?"

Dia memang terkenal dengan sikap cari perhatiannya pada semua guru.

Lova menghampiri Bu Eli dan menunggunya berbicara.

"Selamat ya Lova. Kamu masuk ke babak final olimpiade matematika kemarin."

Lova pura-pura terkejut. Padahal ia sudah tahu itu akan terjadi. Dia selalu masuk ke babak final di semua olimpiade. Kalau tidak juara satu ya juara dua.

"Terimakasih Bu, saya tidak menyangka dan saya juga senang sekali. Lalu kapan kira-kira final itu dilaksanakan?"

"Seminggu lagi. Kamu siapkan semuanya. Jangan lupa jaga kesehatan. Ibu sangat bangga sama kamu. Kamu selalu bisa mengharumkan nama sekolah, Lova."

"Baik Bu. Saya akan bekerja dengan keras." sebenarnya itu tidak perlu, Lova sudah menghabiskan berjam-jam di setiap harinya untuk belajar. Dia tidak perlu belajar dengan keras. "Kalau begitu, saya kembali ke kelas ya Bu?"

"Oh iya-iya. Silahkan, selamat belajar."

Lova mengangguk lalu kemudian pergi setelah menyalimi Bu Eli.

Thanks LoveWhere stories live. Discover now