AWAL

16 1 0
                                        


"Kotak bekal makan siangmu udah, nak?"

"Udah ma,"

"Pinternya, belajar yang rajin ya nak, nanti kalau mama ga sempat jemput kamu langsung telpon papa aja ya?"

"Siap ma, aku masuk kelas dulu ya ma. Bye!"

Bocah lelaki 5 tahun itu pamit setelah mencium tanganku, segera berlari menghambur memasuki kelasnya. Dia Riko, permata hatiku, buah cintaku.

Drrt... Drrtt...

"Ya hallo, pa.... ini mama barusan aja nganter Riko ke sekolah, sarapan udah mama siapin ya tadi papa nyenyak banget bobonya..... iya yang habis jalan-jalan keluar kota sih mama ga diajak...."

Kalau yang barusan, papanya Riko. Lelaki yang sampai saat ini masih tak kuduga akan menjadi suamiku, ayah kandung dari jagoan kecilku.

Sekarang, akan kuceritakan kisahku dari awal segalanya terjadi dan tersinkronisasi.

***

Agustus 2005

Namaku Kannisa, bisa kalian panggil dengan nama pendek Caca. Orang bilang aku mirip Sisy Priscilla, artis yang lagi ngetop waktu itu. Sayangnya, kulit Sisy putih sedangkan aku kuning langsat. Tahun 2005, aku masih menikmati masa-masa sekolahku. Masa di mana aku bertemu dengan cinta pertamaku, masa di mana aku dituntut menjadi pribadi yang harus ikhlas tentang apapun yang terjadi di dalam hidup. Aku percaya setiap manusia memiliki kisah bahkan sebelum ia dilahirkan, Tuhan telah menuliskan takdirnya. Inilah kisahku, kisah perjalanan hidupku, kisah yang kuharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi manusia-manusia di sekitarku.

****

Mendung menggelayut sendu dari balik jendela. Aku menatap langit dengan perasaan was-was. Sudah sore, hujan akan segera turun tapi kerjaan belum ada satupun yang beres. Kuedarkan pandangan ke seluruh kelas, masih ada Jeki, Dino, Raka, Sadri, Jesi, Destia, dan Lana, yang lain tentu saja sudah pamit duluan dengan berbagai macam alasan. Aku mencebikkan bibir, lomba tinggal besok lusa tapi sepertinya masih belum ada tanda-tanda keberhasilan menghias di kelas ini. Iya, ini tuh dalam rangka 17an gitu dan aku kebetulan dipercaya sebagai ketua kelompok yang bertanggung jawab atas terselenggaranya kegiatan ini.

"Hei ada yang punya rokok ga?" Sapa seorang bocah ingusan dari depan pintu, sepertinya ia berbicara pada Jeki dan Dino.

"Kenal, Din?" tanyaku pada Dino yang dijawab dengan mengangkat bahu.

"Tau, siapa lu?"

"Hahaha serius amat nih kakak-kakak. Kenalin gue Deri, kelas X D." Si Bocah Kampret nyelonong aja masuk ke kelas dan gabung sama anak-anak cowok. Sialan, adik kelas rupanya, ga ada sopan-sopannya. Dia ga tau apa aku anak OSIS?

"Maaf ya, DEK. Kita lagi kerja, lagian lu ngapain nyari rokok di mari? Lu kira ini toko kelontong? Udah sana balik ke kelas. Atau pulang ke rumah cuci kaki kerjain PR. Jangan ganggu kakak-kakakmu ini. Atau lo sengaja ya mau cari kelemahan di setiap kelas?" Omelku panjang lebar.

Sayangnya, si adik bernama Deri ini cuek bebek malah sibuk nyetem gitar milik Sadri yang terparkir cantik di ujung kelas.

"Kantin, yuk! Gue bayarin!" ajaknya pada Jeki dan Dino

"Seriusss???"

"Iya ayo, di sini ada mba-mba kasir galak. Males gue".

"Eh bocah songong ga tau diri banget lu. Udah lu sana minggat dari kelas gue! Lu juga Dino Jeki, coba aja kalau berani keluar dari kelas ini, gue laporin ke Bu Winda!" Ancamku.

Entah ada bisik apa di antara mereka bertiga, akhirnya si ADIK KELAS SONGONG YANG MINTA ROKOK ini pun keluar dari kelas dengan muka yang cengar-cengir ga jelas.

The AnswerWhere stories live. Discover now