Irene bergegas memasuki gerbang sekolah. Sekarang bajunya basah kuyup karena hujan. Seharusnya ia mendengarkan mamanya untuk membawa payung.
"Aish! Pake mau hujan segala. Ngga bawa baju ganti pula." gerutu Irene sembari berjalan menuju kelasnya.
Irene sangat tidak suka hujan. Menurutnya, hujan hanya akan membawa pada masa lalu ia sangat benci orang yang meratapi masa lalu mereka dan juga membuat dirinya basah kuyup seperti sekarang.
"Ay!"
Satu lagi. Ia paling tidak suka orang yang sekarang memanggilnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Daniel sedang berlari mengejarnya.
"Gausah potong-potong nama gue!!" ketus Irene, ia pun langsung memasuki kelas.
Daniel mengikuti Irene dari belakang. "Yee ayang gue sewot aja."
Irene mendelik. "Sekali lagi ngomong gitu gue tendang lo ke pluto."
Irene duduk di bangku paling pojok disusul oleh Daniel. Ia masih mendiami Daniel.
"Ay, baju kamu kok basa?" tanya Daniel goblok.
Pletak!!
"Goblok emang! Di luar hujan."
"Aduh ay, sakit. KDRT ini namanya mesti dilaporin nih." Daniel mengusap kepalanya yang sakit.
"Lu mau gue sleding ke bulan hah?"
"Iya iya ampun ay, ga lagi deh." Daniel meringis.
Irene diam sambil mengeluarkan buku catatannya yang selalu dibawanya.
"Nih pake hoodie gue. Daleman lo keliatan." Daniel menyodorkan hoodienya sambil menyengir lebar.
"Mesum anj-!!" Irene memukul lengan Daniel dengan brutal.
"Aduh, aduh. Ga sengaja keliat ay, bukan salah gue dong ya?"
"Ihh ngeselin!" Irene memakai hoodie yang diberikan Daniel tadi.
"Apa nih? Buku catatan?" Daniel merebut buku catatan yang ada di tangan Irene.
"Eh, sini balikin!" Irene berusahan merebut bukunya kembali.
Daniel berdiri sambil mengangkat tangannya yang memegang buku Irene keatas. Irene melompat-lompat berusaha meraih bukunya.
Daniel membuka lembaran pertama buku itu.
"Ay, lu suka sama Rio kakak kelas?" Tanya Daniel terkejut saat melihat tulisan tangan Ariana yang membicarakan kakak kelas tersebut.
Daniel perlahan menurunkan tangannya, ini kesempatan Irene untuk mengambil bukunya. Irene berhasil mengambil bukunya, Daniel hanya diam sambil menatap Irene meminta penjelasan.
Irene menunduk, "gue udah lama deket sama kak Rio. Maaf ga bilang."
"Gapapa kok Ay." Daniel tersenyum paksa.
"Maaf banget ya Niel, next time bakalan gue kasih tau semua." Irene merasa bersalah. "Udah ah gue mau ngerjain tugas dulu."
Daniel perlahan menjauh dari Irene dan duduk di bangkunya yang berada dibelakang.
Daniel memperhatikan Irene yang sibuk menyalin tugas temannya dari belakang. Ada rasa tak suka mengetahui Irene menyukai kakak kelasnya itu.
Andai lo tau perasaan gue, Ay. Batin Daniel.
---
Sepulang sekolah Daniel tak melihat keberadaan Irene begitu tiba di koridor kelas. Daniel mencoba bertanya pada teman-temannya tetapi mereka tidak melihat Irene.
Daniel memutuskan berjalan ke area parkiran, mungkin Irene sudah menunggunya di parkiran.
Setibanya di parkiran, ia melihat Irene menaiki motor sport yang Daniel tak tahu siapa pemiliknya. Daniel memicingkan matanya berusaha mengenali siapa yang mengendarai motor itu.
Seperti petir di siang bolong, Daniel mencelos begitu tahu bahwa yang bersama Irene adalah kakak kelas yang disukai Irene.
"Kalo mau bareng dia bisa kali ngomong sama gue, biar gue gak nyari lo kayak orang bodoh." Daniel berjalan lesu menuju mobil sport keluaran terbarunya.
Dia tampakï tak bersemangat. Dia butuh hiburan, hatinya entah kenapa merasa panas melihat Irene bersama kakak kelasnya itu.
Daniel memutuskan untuk mengirim chat ke grup chat teman-temannya
Cogan Limited Edition (4)
Daniel : gue traktir ke cafe biasa, sekarang.
Arya : wuihh ada apa nih tiba-tiba ngajakin, biasanya juga diapaksa.
Daniel : gamau? Yaudah.
Lucas : gue udah ada di cafe, lu nya mana.
Arya : otw
Jackson : sorry bro, gue lagi sama cewek gue.
Arya : cewek mana lagi nih? Palingan besok ganti lagi.
Jackson : diem lo kurap unta. Kalo iri tuh bilang
Arya : sorry ya, gue gabakal iri sama kembaran miper.
Jackson : wahh songong lu, belum ngerasain di cium ban motor ya.
Arya : dicium cewek iya.
Lucas : asu semua kalian!
Daniel : jadi gak sih?!
Arya : jadi
Read
Daniel melajukan mobilnya menuju cafe biasa tempat mereka nongkrong.
Sesampainya di cafe, Daniel mengedarkan pandangannya kesudut cafe. Dilihatnya Lucas melambaikan tangan kepadanya, di sebelah Lucas ada Arya yang tengah menyengir bodoh ke Daniel.
"Kesambet apa lo?" Tanya Daniel begitu sampai di meja mereka.
Lucas melirik Arya sekilas dan mengangkat kedua bahunya. "Ga tau nih bocah dari pertana dateng sampe sekarang senyum senyum ga jelas."
Daniel tak menanggapinya, ia duduk di kursi yang berhadapan dengan pintu masuk cafe. "Kalian udah pesan?"
"Belum, orang nungguin lo lama banget. Takutnya lo gajadi dateng, kan berabe." Arya yang memang sangat sangsi pada ajakan Daniel, karena jarang-jarang Daniel mau ke cafe ini.
"Suka bohongin orang sih makanya ga percayaan," sindir Lucas.
"Emang iya?" tanya Arya polos.
"Bodo, Ar!" Lucas memalingkan wajahnya kesal.
"Niel, bukannya itu..." Arya menunjuk ke arah pintu, menampakkan siluet cewek yang baru saja memasuki cafe.
Daniel menoleh dan betapa terkejutnya ia mendapati cewek tersebut berada di sini.
------------------------------------------------
30 Maret 2018
21:00
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Rain
Teen FictionPenyesalan memang datang terakhir. Orang harus merasakan kehilangan supaya tahu begitu berartinya seseorang.
