#00

5 0 0
                                        


Aku menatap layar putih didepanku. Sudah dua jam aku duduk disini dan tak mengerjakan apapun. Mouse yang tak jauh dariku terus berkedip, memperlihatkan cahayanya yang seolah mentertawakan diriku yang kehilangan inspirasi. Dahulu memang aku seseorang yang memiliki terlalu banyak ide gila. Tapi sekarang, aku mulai kehilangan kegilaanku.

Sekali lagi aku menatap krusor yang berkedip seolah menantangku. Microsoft word 2007 ini sudah terdiam hampir dua jam. Aku yakin jika layar putih ini bisa bicara, ia akan mengeluh lelah padaku.

Aku mencapai titik jenuh sekarang. Tak satu pun ide yang bisa aku keluarkan. Televisi, radio dan internet tak memberikan inspirasi yang cukup. Apalagi lingkungan, kondisi cuaca yang buruk mengurungku dirumah.

Ini sama sekali tidak membantuku.

Mungkin jika aku bisa berpikir, banyak sekali ide yang tertanam di otakku. Sesuatu yang tidak mungkin untuk aku tumpahkan menjadi suatu cerita pendek. Hal yang membuatku semakin kehilangan semangat adalah tugasku kali ini. Cerpen yang biasa aku tulis adalah sebuah cerpen fiksi, itu gaya berpikirku.

Masalah lain adalah tak seorang pun tahu aku benci kenyataan. Kenyataan adalah musuh bagiku. Dalam kenyataan, aku hanya bisa menjadi satu orang yang selalu ditindas. Kenyataan membuatku buta akan sesuatu yang disebut indah. Kebencianku pada kenyataan dimulai sejak dahulu, sebelum aku menginjak SMA. Memang, aku orang yang selalu berkhayal. Bahkan aku bisa saja membayangkan Presiden Obama meneleponku tengah malam, hanya untuk menanyakan menu sarapan sehat.

Hampir setiap khayalan aku tulis dalam sebuah kisah. Hanya saja kisah itu tak pernah aku publikasikan. Memang tidak bisa aku pungkiri, khayalanku terkadang terlalu aneh. Bahkan orang tuaku pernah mengatakan aku gila. Tapi itulah aku, kenyataan hanya membuatku semakin tertekan. Hidup hanya sekali dan aku tak mau terbelenggu dalam kenyataan. Dalam dunia ini, tak sepenuhnya aku percaya pada kenyataan.

Suatu hari, aku menemukan orang yang membuatku merasa sangat nyaman berada didekatnya. Dia mau menerima aku dengan semua khayalan konyolku. Itulah sahabatku, Kikan. Kikan bukannya tidak memiliki sesuatu yang aneh. Tapi sifatnya yang sungguh terlalu lugu, membuat aku nyaman berada didekatnya.

Ini sudah hari keempat aku berhadapan dengan layar kosong ini. Tak sedikit pun ide mampu aku curahkan, aku tak tahu apa sebabnya. Minggu lalu aku memang memiliki masalah dengan salah satu temanku. Kemudian dilanjutkan dengan hasil mengecewakan yang aku, dan timku dapatkan saat perlombaan. Tidak sampai disitu, aku juga memiliki masalah yang rumit dengan kekasih kakak sepupuku. Sungguh suatu ironi, tapi harus aku jalani. Jalan hidup yang berat tapi tetap harus aku tempuh. Hari ini Kikan janji datang menemaniku dan membantuku mengeluarkan ide-ide gilaku. Seperti janjinya, Kikan datang tepat waktu. Jam dua gadis berkaca mata itu memasuki ruang kerja ayahku, diantar oleh pembantu keluarga kami.

"Diluar hujan," ucapnya sambil menggosokan kedua telapak tangannya.

"Aku tidak bertanya," jawabku ketus.

Kikan menyipitkan matanya yang sudah sipit dan menatap tajam kearahku. Dengan cepat, Kikan mendorong kepalaku. Aku hanya bisa tertawa mendapat perlakuan kasar darinya.

"Bagaimana cerpen mu?"

Aku menatapnya sambil menggaruk-garuk kepala, "Belum bisa aku kerjakan. Lembar kerja yang aku buka dari empat hari yang lalu masih putih bersih tanpa noda."

Kikan memeriksa layar monitor laptopku. Dengan pandangan tidak bersalah ia menutup laptopku dengan keras.

"Sepertinya, kau terkena radiasi nuklir dari Fukushima," ujarnya.

Coklat Terbayang, Aku MalangStories to obsess over. Discover now