part 1

42 3 0
                                        

"Pagi key" Ucap seseorang mengagetkan ku

"Isshhh bisa gak si ga usah ngagetin"

"Pagi key" ucap dia dengan kalimat yang masih sama

"Hemm pagi juga dik" ucapku dengan sedikit nada terpaksa

"Nah gitu dong dari tadi" ucap nya senyum sumringah

Oh ya namaku keyra aprilia akbar. Aku kelas 12 di salah satu sma terfav di yogyakarta. Nama ayah ku adalah Andra praakbar, yaps nama belakang ku diambil dari nama ayah ku. Ayah adalah CEO dari perusahaan di yogyakarta. Nama mama ku adalah Suci aprili ,dia adalah mamah terhebat ku. Walau mamah dan ayah ku selalu sibuk kesana kesini untuk mengurus perusahaan nya baik di luar atau di dalam negeri. Tapi aku tetap sayang mereka

Oh aku lupa. Hari ini aku sedang berada di sekolah. Dan tadi yang memanggil ku adalah Dikta nugraha, teman seperjuangan ku. Aku berteman eh ralat bersahabat sama dia sejak aku menduduki bangku sekolah dasar. Dia orang nya memang keras kepala eh tapi baik kok.

Hari ini adalah hari pertama dimana seluruh siswa kelas 12 termasuk aku mengikuti UN. Yaps sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah ku yang penuh kenangan ini. Dari awal masuk menjalani MOS sampai sekarang. Berat rasanya meninggalkan sekolah ku ini aku ga bisa bayangin bagaimana hidupku tanpa sekolah ini. Ahh sudahlah aku terlalu alay.

"Ahh soal ini. Apa ya rumusnya. Kok aku lupa gini semalam kan aku sudah menghafalkannya." ucapku frustasi dengan soal matematika yang sulitnya minta ampun. Aku ini orangnya tidak terlalu pandai dan juga tidak terlalu bodoh haha kadang aku tertawa dengan kapasitas otak ku yang minim ini.

Oke sekarang aku sudah selesai dengan matematika yang sering ku sebut mati-matian ini. Karena padahal aku sudah mati-matian untuk mengerjakannya tetapi nilai masih saja rendah. Sebenarnya mau nya dia itu apa sih? Omaygat aku terlalu lebay.

"Dikktttaaaaaa" teriakku saat aku melihat dikta juga baru keluar dri ruangannya. Kulihat dikta menutup kupingnya dengan telapak tangannya akibat suaraku yang bisa dibilang cempreng ini.

"Busett dah suara nya ga bisa dikecilin volum nya? Bisa budek ni kuping gue" omel dikta

"Maaf. Abisnya gue tuh frustasi tau gak sama soal nya"

"Makanya belajar. Orang soal nya gampang begitu juga dibilang susah" sombongnya. Dia memang pintar dalam hal pelajaran. Aku sudah berkali kali diajari nya tapi tetap saja aku ya tetap aku sama seperti awal dengan otak yang minim.

"Gausah sombong jadi orang. Gue tau lo pintar tapi gausah gitu juga" ucapku sambil berjalan ke arah gerbang utama untuk pulang ke rumah

"Gimana kalo kita bikin perjanjian."

"Perjanjian? Perjanjian apa?"

"Gini kalo gua yang dapat nem tertinggi di sekolah, lo harus turutin apa yang gue mau, termasuk masuk univ yang sama. Tapi kalo lo yang dapat nem tertinggi lo boleh minta apapun dari gue. Deal?" ucap dikta sambil mengulurkan tangannya

"Ya itu mah pasti lo yang dapat! Ga mungkin gue" ucapku lesu

"Lo bisa kok. Kita bakal belajar bareng. Setuju?"
Aku menimbang-nimbang apakah aku sanggup menerima tantangan ini?

"Mmm oke deal."

"Yesss deal. Nanti malam gue ke rumah lo" aku hanya mengacungkan jempol ku bertanda aku setuju dengan ucapannya.

Sekarang aku berada di depan belajarku untuk membaca materi untuk besok sambil menunggu dikta datang.

"Keeyyy"


















Yaayyy cerita kedua. Jangan lupa voment nya

My Best(boy)friendStories to obsess over. Discover now