"Maafkan aku, Wen."
"Tidak hanya sekali kau membohongiku, Martin! Aku membencimu!."
"Kali ini aku benar-benar menyesal, Wen. Maafkan aku, kumohon." Lelaki itu memperlihatkan wajah memelasnya pada sang gadis.
"Pergilah tinggalkan aku sendiri."
"Tidak akan. Maafkan aku, oke?" Masih dengan wajah memelasnya lelaki itu menggenggam dan mengecupi tangan sang gadis.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi janji jangan mengulanginya lagi." Entah apa yang gadis itu pikirkan, sampai ia mau memaafkan lelakinya yang sudah mengecewakannya berulang kali itu.
"Aku janji."Mereka pun berpelukan dan lelaki itu menampakkan sedikit senyum yang sulit diartikan yang tak terlihat oleh gadisnya.
Emma tersenyum kecil meremehkan melihat drama kecil yang diperankan oleh sepasang kekasih seumurannya dihadapannya itu. "Dasar plin-plan. Ngga punya pendirian. Mau aja dibohongi." Gumamnya.
"Aku mendengar apa yang baru saja kau katakan, gadis kecil."
Dia mendengus kesal pada lelaki dihadapannya itu. Edza, kakak sekaligus kembarannya yang selalu bersamanya dimanapun dia berada. Seperti penguntit, pikirnya.
"Ah! Aku tahu! Sebenarnya kau iri dengan gadis itu kan?" Emma membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan saudara kembarnya itu.
"Iri? Untuk apa aku iri? Yang ada malah aku jijik melihatnya."
"Ya ya ya, terserah kau aja." Edza mengalah dan mengelus kepala adiknya.
Emma Geraldine. Dia hanyalah seorang gadis biasa. Rambut hitam kecokelatan senada dengan warna matanya. Bentuk badan yang tidak terlalu kurus pas dengan tinggi badan yang mencapai seratus enam puluh satu sentimeter. Ia selalu bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan padanya. Sifatnya yang riang dan sedikit gila menjadikannya mudah untuk berteman dengan siapa saja.
Seperti gadis lainnya, Emma pernah begitu dalam mencintai. Cinta membuat hidupnya sangat berwarna saat itu. Dia menikmati ketika merasakan getaran cinta dihatinya, jantungnya berdegup kencang dan kupu-kupu yang beterbangan diperutnya saat melihat pujaan hatinya. Ia memberikan semua perasaan dan hatinya. Berharap mimpi-mimpi indah yang ia inginkan akan tercapai. Namun ia lupa dengan konsekuensi yang akan ia dapatkan. Dengan semakin dalam ia mencintai seseorang, maka akan semakin dalam juga sakit yang ia dapatkan.
Namun sekarang semuanya berubah. Emma berpaling dan tidak sedikitpun mempercayai cinta. Cinta yang dulu ia banggakan telah membawa luka untuknya. Menghunuskan pedang tajam dalam hatinya yang kemudian hancur tak bersisa. Hanya pedih dan perih yang ia rasakan.
Sakit dan patah hati memberikan dampak yang sangat buruk pada awalnya. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, berbanding terbalik dari sebelumnya. Emma menyadari, bahwa yang ia cintai sepenuh hati belum tentu membalas dengan sepenuh hati pula.
Sesaat setelah patah hati tak ada lagi senyum, tawa, candaan, dan kemanjaan yang melekat pada dirinya. Hanya datar, dingin, acuh dan bicara sekenanya. Menurutnya, cinta membuatnya terlihat bodoh. Mau melakukan apapun untuk pria yang ia cintai saat itu.
Hingga akhirnya, perlahan-lahan sikap dingin dan acuhnya luruh. Ia kembali menjadi Emma yang dulu. Emma yang bawel, mengesalkan, dan merepotkan, kata Edza, kini telah kembali. Sifatnya yang manja, banyak bicara, murah senyum, dan masih banyak lagi. Hanya saja, sekarang Emma terkesan menutup hatinya untuk siapa pun. Bahkan ia mengacuhkan setiap lelaki yang mencoba untuk mendekatinya.
Memulai cinta kembali adalah hal tersulit bagi Emma, melanjutkannya hanya akan semakin membuat rintihan rasa sakit. Beriringan dengan langkah gembira, semua lukanya terbungkus rapi tidak terlihat. Tidak ada yang tahu senyumnya adalah topeng terbaik untuk menutup rasa kecewa terdalamnya. Hatinya pun ikut tertutup rapat untuk siapa pun. Tak ada yang sanggup membukanya hingga saat ini.
Trauma. Atau malah takut yang berlebihan. Itulah yang dapat menggambarkan bagaimana keengganannya untuk merasakan jatuh cinta lagi.
Meski ia enggan untuk jatuh cinta, hidupnya tak kekurangan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, Edza, dan juga Loghan.
Sedikit berbeda dengan kembarannya, Edza Geraldine memiliki paras yang elok. Warna matanya yang abu-abu cocok dengan wajahnya yang terkesan dingin dan acuh. Edza juga sama gilanya dengan Emma. Meskipun berwajah tampan, Edza tidak termasuk dalam kategori 'playboy'. Bahkan bisa dihitung dengan satu tangan berapa kali ia berpacaran. Dan jangan lupakan jika Edza juga termasuk dalam kategori 'Best Brother' menurut Emma.
Ferdinan Loghan. Adalah teman Emma dan Edza dari Playgroup atau mungkin dari 'bayi'. Entahlah, mereka juga lupa kapan pertama kali mereka bertemu dan akhirnya menjadi teman dekat, bahkan seperti keluarga.
Pertemuan mereka seperti takdir. Khususnya dengan Emma. Baginya Emma adalah pengganti adiknya yang telah meninggal saat berusia 7 tahun karena sakit yang dideritanya. Entah bagaimana bisa kebetulan, Emma memiliki banyak kesamaan dengan adiknya. Hampir semuanya sama. Itulah alasan, kenapa Loghan sangat menyayangi Emma.
Loghan tumbuh menjadi lelaki dewasa yang pendiam. Dingin dan lebih terkesan cuek. Sikapnya tak beda jauh dengan Edza. Meski begitu ia tetap bisa menarik perhatian kaum perempuan. Walaupun tak jarang mereka harus patah hati karena tidak tahan dengan sikap dinginnya itu.
Dan siapa yang menyangka jika dibalik sikap cueknya itu tersimpan perasaan yang kuat pada seseorang. Yang diam-diam selalu ia harapkan untuk menjadi kekasihnya.
Sama seperti Emma, Loghan bukanlah orang yang bisa mencintai siapapun yang ia lihat. Dalam dunia yang begitu banyak manusia –terutama wanita– ia hanya melihat Emma. Ia hanya berdiri memandangi dan melindunginya tanpa bisa memilikinya. Emma yang selalu bertingkah seperti anak kecil, menggemaskan dan menyebalkan.
Hatinya hanya terpaku pada Emma. Tak pernah sedikitpun ia berpikir akan berpisah dan meninggalkan atau ditinggalkan Emma. Emma adalah segalanya untuknya. Dari entah sejak kapan ia menyukai Emma hingga saat ini.
# # # # #
YOU ARE READING
Philophobia
Teen FictionPhilophobia adalah penyakit mental dalam diri seseorang yang takut untuk jatuh cinta dan dicintai. Philophopia terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan, kekecewaan atau patah hati yang mendalam sehingga mengakibatkan perasaan malu, sakit...
