It's Just a Beginning

109 12 9
                                        

Pagi itu Connacht menyusuri koridor sekolah dengan perlahan. Suasana sepi masih terasa kental di sana. Padahal waktu menunjukan 15 menit lagi bel masuk akan berdering. Connacht makin dibuat bingung karena dia sama sekali tidak menjumpai satu pun tukang bersih bersih sekolah. Padahal setiap pagi dia sering menjumpai mereka menyapu dan mengepel koridor. Sambil kebingungan dia tetap menyusuri koridor hingga tak terasa dia hampir sampai di ujung koridor. Ketika hampir sampai di ujung dia mendengar suara pintu tertutup secara keras dari belakangnya. Otomatis dia langsung menghadap ke belakangnya. Namun dia tidak menjumpai seorang yg menutup pintu. Setelah itu dia kembali berjalan menuju ujung koridor. Namun ketika matanya tertuju kepada ujung koridor dia melihat ada seorang gadis yang berambut panjang berjalan dari ujung koridor dengan rambut panjangnya terayun oleh angin sambil menata rambutnya yg berantakan. Seketika gadis itu pandangannya tertuju pada Connacht.
"Hai" Sapa Connacht pada gadis itu.
"Walker...." Balas gadis tersebut dengan senang.
"Oh.. Walker..." Lanjut gadis tersebut lalu memeluk Connacht.
Tentu saja Connacht terkejut ketika gadis tersebut memeluk dirinya.
"Permisi tapi siapa kau ?" Tanya Connacht pada gadis tersebut
"Hahahaha Walker kamu seperti biasanya suka bercanda" Balas gadis tersebut
Lalu gadis itu mengusap kening Connacht dengan perlahan. Dia mulai berpikir bahwa gadis ini agak aneh dan misterius
"Walker yuk ikut aku!" Ajak gadis tersebut lalu menyeret Connacht ke dekat air mancur sekolah
"Ada apa dengan gadis ini ?" Ujar dia dalam benaknya
Mereka lalu duduk duduk di bangku dekat air mancur sekolah.
"Walker apakah kau ingat ketika kau mendapat juara kedua dalam olimpiade bahasa inggris dan kau masih merasa dirimu payah ?" Ucap gadis tersebut.
"Tidak, memangnya kenapa ?" Tanya Walker.
"Pada waktu itu kau pernah berkata bahwa kau minta maaf kepadaku karena tidak bisa menjadi yg terbaik" Jawab gadis tersebut
"Lalu aku menasihatimu untuk tidak jadi seorang yg perfektionis agar tidak mudah kecewa" Lanjut gadis itu
Connacht terkejut dengan apa yg dikatakan gadis tersebut. Connacht memang benar seorang perfektionis tapi....
"Tapi kau berkata tidak akan menyerah untuk menjadi yang terbaik" Lanjut lagi gadis itu.
Kutipan yg baru saja dilontarkan gadis itu tidak sesuai dengan kenyataan Connacht.
"Apa itu benar benar diriku ?" Ujar diri Walker dalam hatinya
Gadis itu kemudian menggemgam tangan Connacht dengan hangatnya lalu wajahnya memandang muka Walker.
"Walker mumgkin kau tidak mempunyai penampilan yang tampan atau bakat yg biasa dimiliki oleh lelaki manapun" Ucap gadis itu.
"Namun kau istimewa sekali. Kamu itu suka berusaha menjadi baik dan kau tahu itulah yang membuat diriku suka padamu" Lanjut gadis tersebut dengan pipi memerah.
Connacht terdiam tidak bisa berkata apa apa. Hatinya seketika terasa seperti disiram oleh air yang menyegarkan. Dan dia merasa dalam dirinya ada sesuatu yang baru yang harus dijaga baik baik. Seketika dia jatuh cinta pada gadis itu.
"A-a-a-aku...." Ucap Connacht dengan terpatah-patah karena ucapan gadis itu.
Gadis itu seketika menaruh jari telunjuknya ke bibir Walker. Lalu wajahnya perlahan mendekat menuju wajah Connacht.
"Sssssttt..." Desis gadis tersebut
Bagi Connacht situasi seperti ini membuat jantungnya berdenyut tidak teratur. Wajah Connacht mulai memerah dan dan suhu tubuhnya perlahan meningkat drastis.
"Bagaimanapun yg terjadi aku akan selalu menyayangimu Walker. Hanya kaulah orang yg kumiliki di dunia ini." Ucap gadis tersebut dgn lembut pada Connacht.
Lensa mata Connacht seketika melebar setelah merespon perkataan gadis tersebut. Connacht tiba tiba merasa ada cahaya yang terpancar dari gadis tersebut.
"Apa dia Malaikat atau semacamnya ?" Ucap dirinya dalam batin
Akhirnya gadis itu mengecup dahi Walker. Namun setelah itu...
"Ya Tuhan !" Ucap Connacht terkejut langsung bangun.
Connacht menatapi daerah sekitarnya dan dia sadar bahwa dia berada di kamar tidurnya.
"Jadi yang taxi hanya mimpi ?" Ujar diri Connacht
"Yang tadi sangat nyata" Lanjut ujar dia.
Connacht pun kembali nembaringkan dirinya di ranjang .
"Coba kalau itu nyata. Aku pasti sangat bersyukur pada Tuhan" Omong dia dalam benaknya.

The InvinscibleWhere stories live. Discover now