Chapter 1

1.9K 69 4
                                        


"Zahra! Ternyata kau disini, pak Azzam memintamu ke ruangannya, sepertinya kau baru saja mendapat masalah, cepat!!" teriak Nindi yang merupakan satu-satunya teman Zahra yang ada di kampus.

Wajah Zahra memucat, Matilah ia sekarang!

"Alifa Azahra"

Zahra meringis, ia mengangkat wajahnya sambil menggumam maaf pada pembicara di depannya.

Tatapan pria itu tajam dan dingin, terasa menguliti Zahra. Bagaimana bisa ia membalas tatapan pria itu karena baginya menjaga pandangan itu sangatlah perlu, apalagi jika berdekatan dengan Dosen yang satu ini mampu membuatnya ketar-ketir.

"Zahra nilaimu sangat jelek dalam pelajaranku. Semester lalu Kau mendapat nilai D dan Aku masih berbaik hati meluluskanmu. Bukannya berterima kasih tapi Kau semakin hari semakin menjadi. Apa maumu Alifa Azahra? Apa Kau tidak ingin lulus dalam pelajaranku? Jika iya, sampai bertemu lagi di semester depan''.

Dengan cepat Zahra menggeleng, Dia benar-benar ingin lulus. '' jika Kau ingin lulus kenapa Kau selalu tidur di kelasku? Apa cara mengajarku membosankan? Katakan sesuatu Alifa Azahra! Jangan hanya diam membatu. Kau mendapat pelajaran etika, jadi tunjukkan etikamu saat berhadapan dengan Dosenmu.

"Maaf pak, saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya mohon, berikan saya keringanan untuk memperbaiki nilai-nilai saya yang kurang"

Azzam menghembuskan nafasnya dengan lelah, ''baiklah, saya akan beri Kamu satu kesempatan lagi, silahkan Kamu buat laporan tentang "Hubungan Internasional" yang referensinya harus dari luar negeri dan semua pelajaran Saya dari awal sampai sekarang juga Kamu buat dalam bentuk laporan, karena Saya tau Kamu tidak pernah mencatat pelajaran Saya. ingat besok jam 8 pagi tugas itu telah ada di ruangan saya dan saya tidak suka keterlambatan, jika Kamu telat maka nilai Kamu tidak akan Saya perbaiki. Karna Saya benci dengan Keterlambat! Paham Kamu!" ucap Azzam dengan datar.

"Iya pak Saya paham" ucap Zahra sambil menunduk

"Sekarang silahkan Kamu keluar dari ruanganku, Aku tidak ingin melihat wajah bodohmu lagi''

"Iya Pak, terima kasih'' jawab Zahra yang menahan rasa sakit hatinya

''Maaf Ayah, Zahra mengecewakan Ayah lagi''. Lirih Zahra dalam hati



***

Zahra menyusuri jalan dengan gang-gang kecil dengan pandangan kosong. Ia menendang setiap batu yang dilaluinya untuk melampiaskan kekesalannya. Bagi Zahra hari ini sangatlah melelahkan. Karena dari kemaren Ia bekerja di Kafe sampai larut malam dan ditambah pula dengan tugas yang diberikan oleh Dosennya hari ini.

Zahra menghembuskan nafasnya kasar, hidupnya memang sangat sulit tapi Ia akan selalu bersabar karena Allah tidak akan memberi sebuah kesulitan atau cobaan sesuai dengan kemampuan hambanya.

Lamunan Zahra teralihkan pada tempat pembuangan sampah, disana ada beberapa Anak kecil yang sedang mengkroyok temannya.

Zahra mendekat dan berusaha menajamkan pendengarannya.

"Cepat serahkan uang Lo!!"

Anak perempuan kecil itu langsung mengeluarkan uang di dalam tas bermotif bunga yang berwarna pinknya dan mengambil beberapa lembar uang kertas di dalam tas tersebut.

Mata Zahra membulat apa ini pembullyan?
"Hei!! Hei!! Hentikan!!" Zahra langsung berdecak pinggang lalu menghampiri Anak-anak tersebut.

"Zahra kembali membulatkan matanya, astaga mereka masih Anak-anak. Zahra menebak usia mereka tidak lebih dari sepuluh tahun.

"Pandangan Anak kecil itu menantang Zahra seperti seorang Mafia yang ada di Film-film. Zahra tersenyum, dasar bocah!.

"Apa yang Kau lakukan Kak? Kau menganggu Kami''. Ucap salah satu ketua dari Anak-anak tersebut.

Zahra semakin heran, Anak siapa ini ya Allah? Apakah orangtuanya tidak mengajarkannya sehingga tumbuh dengan kurang ajar seperti ini.

"Berapa umurmu?". Tanya Zahra datar dan tegas dengan senyum yang masih ada di wajahnya.

"Kakak pergilah jangan mencampuri urusan Kami''. Jawab Anak tersebut tanpa rasa takut dan segan kepada orang yang lebih tua darinya.

"Berani-beraninya Kalian menganggu putri kesayanganku!! Jika sampai Aku melihat Kalian lagi menyentuhnya, maka akan Aku laporkan dan bawa kalian semua kepolisi, apa kalian mau" Ancaman dan gertak Zahra kepada Anak-anak nakal tersebut.

Mendengar mereka akan dilaporkan kepolisi Anak-anak tersebut pun merasa takut.

"Ampun Kak, maafkan Kami''. Jawab salah satu dari mereka.

"Janji tidak akan menyakiti dan merampas uang Anakku lagi?". Tanya Zahra tegas

Mereka semua berteriak ''Janji''
Zahra terkekeh, "Baiklah, cepat minta maaf kepada Anakku''

Kelima Anak kecil tersebut meminta maaf dengan tidak ikhlas "maafkan Kami Vici"

Alis Zahra mengerjit, oh jadi anak perempuan berkacamata itu bernama Vici.

"Iya, ti-tidak apa-apa" balas Vici gugup

Zahra tersenyum menatap kelima anak nakal itu, "ingat wajahku ya cantik....jangan menyentuh Anakku lagi. Kalau tidak Kalian tau apa akibatnya''.

Kelima Anak tersebut menganggukan, setelah itu mereka lari terbirit-birit.

Samar-samar Zahra mendengar "Kakak itu menakutkan, Aku tidak menyangka kalau itu Ibunya Vici''.

Zahra berdehem canggung, Vici dari tadi hanya diam menunduk, mungkin Anak perempuan kecil itu malu karena Ia telah mengaku sebagai Ibunya. Zahra menjadi merasa bersalah karenanya....

"Hei cantik, angkat kepalamu jangan biarkan mereka melakukan ini lagi kepadamu''. Ucap Zahra lembut sambil mengelus rambut panjang Vici dengan sayang.

"Maaf kalau Kakak mengaku sebagai Ibumu, mmm Kakak tidak bermaksud mengatakannya.... Kakak....mmm bagaimana ya...''. Ucap Zahra sambil merapikan jilbabnya.

Vici tersenyum lebar sambil mengecup pipi Zahra, "Tidak apa-apa Bunda"

Mata Zahra melebar, apa dia baru saja dipanggil Bunda? Astaga, pipinya merah saat ini, seperti remaja yang sedang mendapatkan pernyataan cinta.

''Bye Bunda! Vici pulang dulu....''. Ucap Vici sambil berlari dan melambaikan tangan kecilnya kepada Zahra.

Zahra tersenyum tulus, "Bye.... Anak manis''.



About TimeWhere stories live. Discover now