Part 1 - Are You Okay?

68 0 0
                                        

Seorang laki-laki dengan seragam SMA lusuhnya berjalan menuju taman belakang di sekolahnya. Ia menemukan beberapa anak laki-laki lain sedang menunggunya dengan pakaian yang tak kalah lusuhnya.

"Dasar kurang ajar!" Tiba-tiba saja laki-laki yang baru saja tiba itu terkena hantaman keras tepat di wajahnya. Seketika itu pula laki-laki tersebut terjatuh ke tanah. Dan hal itu menjadi kesempatan untuk anak laki-laki lain menghajarnya.

BYURR!!!!

Tiba-tiba saja air yang entah dari mana mengguyur mereka semua, termasuk si laki-laki yang menjadi target pemukulan.

"Gila ya?!" tanya seorang laki-laki mengarah pada seorang perempuan yang membawa ember kosong.

"Aku kira ada kucing yang sedang berkelahi," jawab perempuan itu enteng. "Dasar pengecut!"

"Heh..." Laki-laki tadi baru saja akan menghajar perempuan tersebut namun teman-temannya yang lain menghalangi.

"Kita pergi, bisa gawat kalau ketahuan guru."

Mereka semua pun pergi meninggalkan anak laki-laki yang terkulai lemas di tanah, dengan banyak noda darah yang meleleh.

Perempuan itu pun menghampiri laki-laki tersebut. "Kamu gak apa-apa?" tanyanya menyentuh luka di wajah laki-laki itu.

Namun laki-laki itu menepis tangan perempuan tersebut. "Jangan sok jagoan!" katanya sinis.

Perempuan itu hanya berdecak kesal. "Kalau begitu, jangan sampai aku lihat kamu dengan keadaan kayak gini terus."

"Kalau begitu, berpura-pura acuhlah seperti yang lain." Anak laki-laki itupun bangkit dan mengambil tasnya. "Aku ga butuh kasihan darimu."

"Hei!!! Dasar laki-laki gila! Mana bisa aku acuhin orang yang aku suka. Dasar nyebelin banget! Kalau kamu gamau aku kasihanin, jadilah orang yang diseganin." Perempuan itu pun pergi meninggalkan anak laki-laki gempal dengan kacamata yang sudah patah itu.

Laki-laki itu menatap punggung mungil perempuan yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang. Telinganya tidak salah dengar? Perempuan tadi bilang suka padanya? Pada si Paus Biru ini?

****

Beberapa tahun kemudian,

"Rani, bisa bawakan berkas meeting kemarin sore?" pinta seorang laki-laki lewat panggilan telepon.

"Siap, Pak! Saya akan bawakan ke ruangan Bapak," ucap perempuan yang dipanggil Rani itu.

Suasana sibuk disalah satu gedung perkantoran asuransi bukanlah hal yang aneh lagi. Selama lima hari dalam seminggu kantor ini pasti akan sibuk dengan berbagai kertas dan juga panggilan telepon.

Kirani melangkah menuju ruang yang letaknya di tak jauh dari meja kerjanya. Ia pun mengetuk pintu dengan papan nama 'Manajer' di depannya.

"Permisi, Pak," ucap Kirani sopan setelah mengetuk pintu tersebut. Di dalam ruangan berukuran sekitar tiga kali empat meter itu duduk seorang pria dengan wibawanya yang kuat tengah bergelung diantara tumpukan kertas di atas mejanya.

"Oh Rani, makasih ya," ucapnya ketika Kirani memberikan berkas yang diinginkan pria tersebut.

"Sama-sama, Pak," ucap Rani yang lalu kemudian berbalik meninggalkan ruangan kerja manajernya ini.

"Oh iya, Ran. Sore ini bisa tidak kau menyelesaikan proposal yang kemarin aku berikan? Sepertinya Pak Direktur akan mampir sebentar untuk melihat proposal kita," ucap pria itu menginterupsi langkah Rani.

Rani mengangguk. "Baik Pak, saya sedang mengerjakannya. Dan apa perlu saya buatkan power point?" tawar Rani.

"Kalau kau sempat silakan, tidak juga tak masalah. Terimakasih ya, Rani."

(END) KARMA - The Story Between Us And The PastStories to obsess over. Discover now