1. Pertemuan Kembali

202 4 0
                                        

Jakarta, Agustus 2015

Hujan sangat deras. Rasanya langit merasakan kesedihan yang sama dengan hati orang-orang yang patah.

" Aku mau kita putus."

"Tapi kenapa Miranda?"

"Kamu bukan orang yang ku inginkan dan aku sangat tidak suka dengan kacamata yang kamu pakai."

"Tapi..."

"Aku duluan, tidak perlu diantar," Ucap cewek itu lalu berlalu pergi.

Menyisakan sesak di dada cowok itu, matanya menahan tangis, bibirnya terasa beku, tubuhnya menggigil, untuk melangkah rasanya berat. Matanya menerawang ke tempat toko buku di sebrang jalan. Dia butuh sesuatu untuk meringankan sesak di dadanya. Dia bukan cowok cengeng, dia hanya cowok yang jatuh cinta dan hatinya sedang terluka akibat cinta.

Suasana toko buku kenangan sangat lah nyaman. Dia berjalan gontai kesana, tubuhnya sudah basah karena hujan, lalu dia melangkah ke dalam toko buku tersebut, tidak peduli pandangan orang lain melihatnya seperti apa, apa yang salah dengannya? Kenapa ia harus selalu di putuskan oleh orang yang di cintai. Lalu pandangannya menerawang dan pandangannya jatuh pada seseorang yang sedang membaca buku sambil berdiri sesekali matanya melirik buku-buku lain.

"Ralisya.." gumamnya.

Jakarta, Agustus 2018

"Revan, Van, loe ngelamun? Gila gue lagi ngomong malah loe ngelamun, tai Revan," ucap Angga emosi.

"Bawel, ini daftar pegawai baru kita?" Tanya Revan pada Angga.

"Iya lah, loe emang dari tadi nggak baca laporan yang gue kasih?" Tanya Angga semakin emosi.

"Baca," jawab Revan singkat.

"Tolong lah sifat nyebelin loe ilangin dulu, kesel banget gue," ucap Angga lagi.

"Yang namanya Ralisya jadiin sekretaris gue," ucap Revan pada Angga, dan Angga hanya melongo.

"Loe gila? Dia anak baru, kan ada Tasya," ujar Angga yang tidak mengerti jalan pikiran sobatnya, teman kerjanya, si bosnya.

"Bawel ah, Tasya jadi sekretaris loe saja, gue ikhlas," ucap Revan pada Angga.

"Si bohay itu emang mau?" Tanya Angga, mengingat Tasya kayanya tergila-gila pada Revan, Dia lalu melihat ke arah Revan, Revan memang cowok tampan, sangat tampan, dia saja mengakui, kurang ajar Revan. Lalu Angga bergedik dengan pikirannya.

"Kenapa loe?" Tanya Revan menaikan satu alisnya melihat tingkah Angga.

"Geli gue," ucap Angga dengan muka jijik.

"Aneh, cepet panggil Ralisya, gue ada meeting," ucap Revan menyuruh Angga untuk memanggil Ralisya si pegawai baru.

Angga melihat ke arah Revan kesal tapi tetap melangkah keluar menuju tempat anak-anak baru di berikan nasihat dan bimbingan. Angga masuk tanpa mengetuk pintu, tangannya ia masukkan ke dalam kantung celananya.
Seisi ruangan terdiam termasuk Tasya yang sedang menjelaskan pekerjaan.

"Yang namanya Ralisya ikut saya," ucap Angga melihat sekeliling dan mendapati seseorang gadis dengan rambut panjangnya yang diikat ala kuncir kuda terlihat bingung, namun tetap diam di bangkunya.

"Mana yang namanya Ralisya? Cepet ikut saya," ucap Angga terdengar kesal karena tidak ada yang berdiri, dia tahu wajah Ralisya dengan rambut panjangnya itu, tapi dia ingin melihat cewek itu berdiri. Akhirnya cewek itu berdiri.

"Ada apa ya Pak?" Tanyanya, dari wajahnya terlihat ketakutan. Angga hanya diam dan tidak menjawab.

"Tasya kamu juga ikut saya, cepat ke ruangan Pak Revan," ucap Angga lalu berlalu pergi.

Angga berjalan duluan, diikuti oleh Ralisya dan Tasya, Ralisya bertanya kepada Tasya, tapi Tasya juga tidak mengerti.

Angga membuka pintu ruangan Revan tanpa mengetuk pintu, Revan duduk membelakangi mereka, pandangannya menerawang ke jendela kantor.

"Van, ini Ralisya sama Tasya sudah disini," ucap Angga. Revan pun membalikkan bangkunya ke arah mereka yang sedang berdiri.

"Tasya," panggil Revan pada Tasya. Tasya yang di panggil bosnya langsung bersemu merah, kenapa suara bosnya bikin dia semakin jatuh cinta.

"Iya Pak," jawab Tasya.

"Kamu jadi sekretaris Angga," ucap Revan yang membuat mata Tasya melotot kaget, apa maksudnya?

"Tapi Pak.." ucap Tasya, tapi Revan sudah lebih dulu memotong ucapanya.

"Tidak ada tapi-tapian, dan kamu Ralisya, kamu jadi sekretaris saya," ucap Revan memandang ke arah Ralisya dengan tatapan yang tidak dapat Ralisya mengerti, Ralisya yang tadi hanya diam langsung tersentak kaget mendengar ucapan Revan.

"Saya masih baru Pak," ucap Ralisya takut-takut.

"Memang kamu disini mau apa?" Tanya Revan memandang tajam kepada Ralisya.

"Kerja Pak," jawab Ralisya takut-takut.

"Iya kan, kamu jadi sekertaris saya, hari ini sudah bisa mulai, nanti Tasya akan membantu kamu menjelaskan pekerjaan apa yang harus kamu lakukan," ucap Revan melihat Ralisya.

Ralisya masih terlihat bingung, lalu memandang ke arah Revan sepertinya wajah Revan sangat familiar dengan ingatnya, tapi mirip siapa?

"Iya sudah Tasya, kamu beresin berkas yang harus dikerjakan Ralisya, setelah itu bantu Angga," ucap Revan lalu berpaling ke arah laptopnya lagi.

"Ayo,Tas ikut saya, saya dikit lagi ada meeting," ucap Angga mengajak Tasya yang masih terdiam dan shock dengan keadaan dia sudah bukan lagi sekretaris bos tampan di kantor ini, dia kalah dengan anak baru yang sama sekali tidak cantik, Tasya memandang Ralisya tajam lalu berlalu pergi mengikuti langkah Angga.

Ralisya pun ingin menyusul namun Revan menahannya.

"Tunggu Ralisya, kamu tetap di tempat," ucap Revan tanpa berpaling dari laptopnya

Ralisya bingung dengan keadaan ini, apalagi melihat Tasya memandang tajam ke arahnya, perasaannya menjadi tidak enak, apa keadaan ini baik?

"Bagaimana kabarmu?" Ucap sebuah suara dan membuat Ralisya yang sedang berpikir tersentak kaget karena mendengar pertanyaan seperti itu.

"Saya baik Pak," jawab Ralisya akhirnya walau masih terlihat bingung, dia menundukkan kepalanya.

"Bagus lah, kamu masih baik setelah mematahkan hati saya," ujar Revan membuat Ralisya melihat ke arah Revan yang ternyata melihat ke arahnya.

Matanya menatap tajam Ralisya, wajah tampannya bisa bikin orang lain merasakan perasaan berdebar-debar, bosnya terlalu tampan bagi Ralisya seperti aktor film-film Korea yang ia tonton. Namun apa maksud bosnya?

"Kamu tidak ingat saya?" Tanya Revan sambil menaikan satu alisnya. Ralisya terlihat semakin bingung, dan Revan menemukan jawabannya, dia tidak ingat, Revan tersenyum sinis.

"Bagus sekali Ralisya, setelah mematahkan hati saya, kamu melupakan saya," ucap Revan semakin sinis.

"Maksudnya apa si Pak?" Tanya Ralisya bingung.

"Jam 10 lewat 15 menit, seorang cowok berkacamata menabrak seorang cewek di depan perpustakaan, buku-bukunya semua jatuh, dan si cewek terdorong hingga jatuh terduduk, cowok berkacamata itu mengucapkan kata maaf lalu membantu cewek itu berdiri, cewek itu berkata tidak apa-apa dan tersenyum, membuat si cowok merasakan berdebar-debar, merasakan perasaan yang tidak biasa, dan akhirnya setelah berkenalan semakin dekat dan akhirnya......" ucap Revan, sebelum Revan meneruskan ceritanya, Ralisya sudah mengenalinya.

"Revan," lirihnya. Revan tersenyum sinis kepada Ralisya.

"Hai, Ralisya. apa kabar?"

Suami TampanWhere stories live. Discover now