Ketika "selamat tinggal" jadi obat mujarab untuk menyembuhkan luka
***
Petty tak menyangka pertemuannya dengan Rishi berbuah petaka. Melupakan Danu-kekasihnya jadi kisah yang tak pernah ia kira. Bahkan wanita itu pasrah ketika jatuh dalam romansa be...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Tulehu, Maluku Tengah
Setiap melakukan perjalanan liburan, ada hal-hal yang menyenangkan bagi Rishi. Pria itu selalu mendapatkan banyak pengetahuan, mulai dari ragam bahasa–ada yang mirip dan ada yang mencolok perbedaannya, aneka makanan–mulai dari yang menggugah selera sampai yang bikin ketagihan, serta pengetahuan budaya, yang kadang membuat pria itu kagum betapa beragamnya penduduk Indonesia. Dan ketika memutuskan menuju Indonesia Timur untuk pertama kali, di benaknya sudah banyak tertanam angan-angan yang dia ingin lakukan. Ingin ke pantai, bercita-cita mendaki gunung, mau berkeliling kota serta menyusuri desa-desa. Rishi berharap perjalanannya kali ini, akan memberi banyak sensasi tak terlupakan, apalagi setelah sang pacar–Dinar membatalkan rencananya untuk ikut berpetualang bersamanya.
Rishi bisa ke mana saja tanpa diatur. Bisa selama mungkin menikmati pantai tanpa harus dibatasi sang pacar. Memakan apa saja yang ingin dilahap tanpa memikirkan kadar lemak. Atau memilih penginapan murah. Paling tidak perjalanan kali ini, Rishi bisa menjadi dirinya sendiri.
Sejak satu jam perjalanan menggunakan bus dari pusat kota Ambon, Rishi tak pernah melepaskan peta pulau Seram(1) dalam buklet yang dia beli saat turun di Bandara Pattimura. Beberapa tempat dia lingkari sebagai tujuan arah langkahnya kali ini. Pria itu menebar pandang ke jendela, dia melihat-lihat kawasan yang menjadi rute perjalanan menuju Pelabuhan Tulehu. Meski berbeda dengan Jakarta, melihat kawasan ini, Rishi merasa alangkah senangnya menjadi warga yang jauh dari kesibukan kota. Mereka masih dapat menikmati hidup tanpa beban fashion, barang-barang mewah, status sosial, yang bahkan bagi Rishi itulah yang membuat Jakarta membosankan.
Tut... tut... tut... bunyi ponsel Rishi berdering. Cepat-cepat dia mengalihkan kepalanya dari jendela dan melipat buklet. Dengan sebelah tangan, Rishi merogoh ponsel di kantong celananya. Tulisan 'My Beib' yang merupakan sebutan ganti untuk Dinar, kelap-kelip di layar ponsel.
Rishi menekan tombol yes. "Halo, Beib!" katanya dengan suara agak dipelankan.
"Sudah sampai mana?" cecar Dinar di ujung telepon, tanpa membalas ucapan Rishi.
"Hampir sampai di pelabuhan, sebentar lagi akan menuju Masohi(2) kok!" jelas Rishi.
"Jaga kesehatan. Jangan makan sembarangan ya!" suara Dinar terdengar lagi.
"Oh, jangan menasihatiku seperti anak kecil," nada Rishi terdengar seperti mengeluh. Pria tersebut kemudian tersadar, suaranya yang lumayan membesar menarik perhatian. Dia lantas lebih merapatkan diri ke jendela bus. Pria itu berbicara setengah berbisik, "Aku akan baik-baik saja di sini. Tak lebih dari dua minggu. Makan-makanan sehat. Tidak main seharian di pantai, selalu menghubungimu setiap hari dan... tidak melirik cewek lain!" Rishi mengacung dua jari di tangannya, membentuk lambang 'sumpah' seolah Dinar dapat melihatnya.