ORLANDO POV
"Lan, entar ikut ngejam bareng yang lain, kan?"
Aku menghentikan kegiatan merokokku. Kusundutkan bara api pada rokokku hingga mati pada lantai. Seluas senyum dan gelengan kepalaku menjadi jawaban atas pertanyaan Sharon, gadis yang kukenal sejak SMP dan menjadi sahabatku hingga saat ini.
"Ayoklah, Gung. A-gung-Or-lan-do." ucapnya namaku dengan jeda.
"Fauzi sama yang lain dateng juga, kok."
"Acaranya pasti bakal lama. Besok pagi gua bakalan telat ke sekolah."
"Yaelah Lan. Biasanya juga elu emang telat tiap pagi. Ayo dong, Lan. Biar rame?"
Sharon Indriana. Gadis blaster Kanada Jawa manis berkulit cokelat yang cukup menarik. Sudah cukup lama aku dan dia berteman. Parasnya yang cantik dan tubuhnya yang tinggi semampai, bobotnya yang cukup ideal, dan payudaranya yang ranum menjadi magnet bagi pria lain yang ingin mendekatinya. Sharon anaknya asik. Bebas. Dan enggak milih-milih teman. Itu sebabnya tiap gua minta sun dia mau aja.
.
ELMA POV
Anying!
Udah jam 18.13 dan angkutan umum belum ada tanda-tanda bakalan datang? Kembali kulirik arloji merah di jemari kananku. Jarum detik tetap bergerak, kumohon bis apapun itu, segeralah tiba.
"Dek! Busnya enggak datang-datang juga, ya? Yaudah sini abang anterin. Tapi mampir ke kossan abang dulu ya?" si dekil botak angkat bicara saat kutolehkan kepalaku ke belakang. Dasar bocah bangsat. Tau apa dia?
Ini yang kutakutkan. Bocah tengik berseragam sekolah yang kini berkumpul di halte, tetap beberapa meter dari tempatku berdiri. Sudut bibirku kuturunkan, mengesalkan perjalananku dan teman-teman yang terlarut malam dan akhirnya meninggalkanku sendiri yang tidak memiliki jemputan.
"Dek! Ini kawanku anak SMA 2, kau enggak kenal? Anak IPS ini dek," kulemparkan pandangan untuk kedua kalinya. Terlihat seorang anak laki-laki berseragam SMA lengkap namun kemejanya dikeluarkan dari celana. Dengan santainya ia menyesap rokok, menghasilkan cincin-cincin asap yang berbaris di udara dan tatapan kami bertemu.
HAHAHHA
Tawa mereka menyeruak merendahkanku.
Anjir! Harusnya itu dia mencegah teman-temannya menggangguku. Walaupun kami tidak saling mengenal semestinya itu dia harus punya rasa peduli sesama murid SMA.
"Belum kenal kau dek, sama dia? Sinilah makanya.. biar kukenalkan kau sama dia. Nan..."
"Udahlah Zi! Sharon udah ngeWA aku. Packing barang-barangmu!"
Terdengar gesekan benda-benda yang dimasukkan dalam kantong plastic. Grasak-grusuk gerakan para bocah itu seperti memasukkan sesuatu dalam kantong plastik sedang. Sekedar ingin tahu, aku melirik sesekali mereka memasukkan rokok dan minuman kaleng entah berapapun jumlahnya.
Sungguh miris arah hidup remaja ini. Seharusnya itu saat ini mereka tengah berkumpul, bercengakrama dengan sanak keluarga. Bukannya malah mencoba dan menikmati barang haram, dan yang pasti barang haram itu bukan berdasarkan hasil kerja mereka. Kuhela napasku panjang sambil menatap arah jalan munculnya bus. Dan benar saja, angkutan umum akhirnya tiba.
Sebelum melaju, supir dari angkutan umum yang kunaiki sengaja mengklakson kawanan bocah itu, memastikan apakah mereka akan ikut menaiki angkutan itu atau tidak.
YOU ARE READING
PADAM -eunha jungkook
General FictionAgung Orlando tak pernah menyangka bahwa dia akan dipindahkan sang ayah di sekolah adik tirinya sendiri. Bukan karena sekolahnya yang tidak bagus, tapi memang karena individunya sendiri yang bejad. Mau dibikin sekolah di Internasional juga nantinya...
