Langit kian menghitam. Menghapus jejak kilauan senja yang baru saja menghilang. Gadis dengan permatanya yang kecoklatan, membuang nafasnya lelah. Yah lelah. Lelah harus berpura-pura dan lelah harus tetap diam. Harus sampai kapan ia harus tetap duduk menikmati Bintang sendirian. Menyapa langit dengan isakan yang tiada henti. Bukankah hal ini terlalu menyakitkan dan menyedihkan. Mungkin jika orang yang melihat gadis pemilik pipi cubby ini, beranggapan bahwa gadis ini begitu buruk dan juga penuh dengan drama. Ingat gadis ini tidak sedang melakukan drama. Bukan karena ia terus menangis tiap malam dan kadang tersenyum memandang langit adalah hal yang ia buat-buat.
Hanya saja saat ini dia sedang menikmati kesendirian bersama gelapnya langit.
Gadis manis itu sedikit tersenyum kecut. Ketika ia merasa sebuah sapuan angin menyapa permukaan kulit putihnya. Yang perlahan mulai menusuk setiap ruas tulangnya. Dingin, beku dan sunyi sepi. Tapi ia tidak peduli dengan semua itu. Percuma ia memakai mantel tebal yang berlapis. Jika pada akhirnya hatinya tetap beku dan dingin.
Ini semua salahnya. Yah salahnya. Karena dia sendiri yang meminta agar pergi meninggalkannya. Dia berpikir jika pemuda yang selama ini tinggal di hatinya pergi maka semua apa yang ia takutkan akan pergi pula. Namun nyatanya tidak. Ketakutan itu semakin menjadi dan betah hidup dalam ruang kecil gadis dengan senyum manis ini.
Takut akan kehilangan, takut akan kesendirian dan takut akan rasa penyesalan. Lalu kenapa gadis yang hanya tersenyum ketika Bintang muncul memilih untuk sendiri.? Jawabannya adalah karena gadis itu ingin menikmati kesendiriannya tanpa seorang teman.
Teman.?
Yah teman. Teman hidup, teman tidur, teman dekat, teman mesra dan teman seperjuangan.
Jika ada yang bertanya kenapa banyak kata teman dalam kisah gadis ini. Jawabannya hanya satu. Karena mereka memang teman. Teman yang tidak mampu untuk dipisahkan dan teman yang begitu istimewa.
Namun.
Gadis dengan rambut sebahunya membuat sebuah kisah menjadi lebih rumit bak benang kusut yang terselip sebuah jarum kecil namun tajam.
Gadis dengan nama lengkap Park Jinyoung. Membuat sebuah kisah yang telah tertata rapi terbingkai dalam anyaman kecil dan sederhana. Harus terhapus dan tercecer sembarangan tanpa tahu di mana harus meletakkannya lagi. Gadis itu Jinyoung, membuat sebuah keputusan yang pada akhirnya harus kembali menyakitinya.
"Keputusan yang salah." Ucapnya pelan. Matanya yang sedari tadi sibuk menelusuri setiap bentang langit malam. Mencoba mencari sebuah kilauan kecil yang mampu membuat hatinya sedikit tenang.
"Kau di mana.?" Tanyanya yang masih menatap hamparan luas yang berwarna hitam.
Kini hatinya sedang merindu bersama sebuah keadaan yang membuat hatinya bimbang. Ia ingin kembali. Kembali merajut asa tentang hubungannya. Hubungannya yang terpaksa harus hancur akibat sebuah keputusan. Keputusan yang tak besar dan keputusan yang tak berarti.
Jinyoung kembali menarik napasnya kuat lalu menghembuskannya kasar.
Kenapa harus sesulit ini. Kenapa harus serumit ini.
"Kembalilah, aku masih menunggumu." Sebuah liquid bening begitu saja lolos dari permatanya yang kecoklatan. Ia menangis sesenggukan ketika menyadari kesalahannya. Dadanya mulai sesak penuh dengan luka dan perih. Yang mampu membuatnya semakin jatuh dalam lubang penyesalan.
"Masihkah kau menungguku, masihkah kau mencintaiku dan masihkah aku ada dalam ruang hatimu." Jinyoung meronta kuat. Tangannya yang sedari tadi memegang erat sebuah kertas kecil yang berisi potret dirinya dengan kekasihnya meremasnya kuat.
"Maafkan aku." Sebuah kata maaf lolos dari bibir plumpnya. Tak nyaring hanya terdengar seperti sebuah bisikan kecil.
Tapi percuma saja jika harus menyesalinya sekarang. Karena kini semua telah berakhir.
.
.
.
.
“Ini keputusanmu, pergi begitu saja HAH.” Sentak pemuda dengan matanya yang menatap nyalang gadis yang tengah terduduk lesu sambil menundukkan kepalanya .
YOU ARE READING
Catatan MARKJIN
RandomKita hanya sebatas sahabat "Aku gak suka yah kamu deket sama cowok lain." "Bisa gak ngomongnya aku kamu aja jangan gue elu, gak suka tau." "Aku gak mau kehilangan kamu." "Kita ini hanya sebatas sahabat maaf." #markjin Setiap chapter up, maka des...
