Dalam benaknya masih ada serpihan tak tega, tapi kesepakatan terlanjur ia buat. Dan mengambil napas dalam-dalam adalah langkah awal yang tepat sebelum----
"Attar...!" teriaknya. Pekikkan lantang hasil mengambil napas yang tak sia-sia.
Sosok yang merasa namanya disebut segera menoleh. Mengernyitkan muka adalah tampang yang pas saat menatap sumber suara dari seorang yang mengenakan pakaian santai sebatas jeans dan kemeja kotak-kotak bercorak marun. Anting perak owl yang mengantung di kedua daun telinga dan rambut panjang yang tergerai membuat semua orang tahu kalau ia adalah sosok dari kaum hawa.
"Kamu bisa ya meninggalkanku seperti ini?! Kamu tega. Kamu bisa-bisanya mau bertunangan sama wanita lain? Aku ini kamu anggap apa, hah?" Ada emosi meluap-luap di sana, tetesan air asin nyelonong keluar dari ke dua sudut mata lebarnya. Sempurna! Dewi batinya memuji.
Ia berjalan menembus kerumunan pertemuan dua keluarga itu. Tak terlalu ramai dan banyak orang seperti dugaannya sebelum memasuki La Prima Hotel, tempatnya berdiri sekarang.
"Kamu jahat, Tar! Jahat! Jahat!" Isakannya semakin menjadi-jadi dibarengi pukulan tangan di dada pria yang tingginya 176 cm itu.
Ia merapal dalam hati menyebut ini gila! Ini edan! saat seluruh pasang mata terbelalak menanggapi tingkahnya. Entah ini bisa disebut kesuksesan atau malah sebaliknya, karena berhasil menarik perhatian semua orang yang hadir di acara pertungan milik seorang yang sejujurnya tak ia kenal sama sekali.
"Apa sih? Saya tidak kenal dengan anda, ya! Jangan macam-macam!" bentak Attar. Ia berusaha melepaskan tangan wanita gila yang masih saja menjambak-jambak kerah kemeja putih di balik balutan jas marun yang dikenakannya.
"Apa maksud kamu?" tanya seorang paruh baya dengan pakaian khas jawanya; kebaya dengan rambut bersasak. Plus riasan wajah tak minimalis. "Kamu siapanya Attar?" tanyanya penasaran.
"Ma, dia cuma orang gila!" jawab Attar serius.
"Attar, apa maksud semua ini? Kamu jangan mempermalukan keluarga!" Pria berkumis tebal dengan jidat terbentang menyilaukan itu tampak kesal dengan keributan yang dibuat anak laki-lakinya, ralat--- yang benar keributan yang dibawa wanita gila yang mendadak nongol di tengah acara keluarganya.
"Pa, aku benar-benar tidak tahu siapa wanita ini! Aku tidak mengenalnya!" Nada frustasi mulai mencuat dari mulut Attar.
Kini, giliran seorang wanita dengan sanggul modern dan kebaya merah jambu yang sedari tadi mematung di samping Attar angkat bicara. "Aku tidak menyangka kamu sejahat ini!" makinya marah. "Kukira, kamu itu pria baik-baik, Tar!"
"Karin, ini tidak seperti yang kamu kira!" Attar meraih tangan gadis itu. "Dia cuma orang yang tidak waras!" Ia mengulas senyum tipis, seolah memohon pengharapan kepercayaan dari wanita di hadapannya.
"Apa? Tidak waras kamu bilang?" Meski dalam hatinya ia tahu aksi yang dilakukannya ini memang gila, tapi tetap saja ia tak terima. "Kamu yang tidak waras. Bukannya kamu dulu bilang mau menikah denganku. Kenapa sekarang malah bertunangan dengan wanita ini?" timpalnya.
Attar mengeratkan kepalan tangannya erat-erat. "Hei, jaga omonganmu!" Ia menunjuk-nunjuk muka wanita berambut gelombang itu. "Sekarang, jelaskan sama semua orang di ruangan ini kalau kita tidak pernah saling kenal, atau, saya..."
Melihat seonggok daging yang menjulang tinggi di hadapannya melayangkan tangannya ke udara, bersiap menampar pipi cubbynya dengan air wajah menahan marah, nyali wanita itu mendadak menciut. Tapi, lagi-lagi kesepakatan yang telah ia buat dengan seorang bernama Jordan membuatnya sok menantang. "Apa? Kamu mau pukul aku? Ayo pukul," tawarnya sembari menyodorkan pipinya ke arah pria bermuka geram di depannya.
YOU ARE READING
STUCK WITH STRANGER
RomanceTulisan pertama di tahun 2017. Masih merevisi beberapa bab saja. Dan sengaja dibiarkan, agar tau perbedaan penulisan dulu dan sekarang. 😉 Kehidupan selalu tahu cara memberi kejutan pada penghuninya. Barangkali, Lintang salah satu satu korbannya. T...
