Ferrari hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil dengan kecepatan di atas 290 km/jam membelah keramaian kota Paris, Perancis. Beberapa mobil mengekor di belakangnya. Disertai lampu blitz dan suara - suara yang memekakkan telinga. Suara radio dalam mobil membuat suasana sangat mengganggu.
Seorang pria duduk di kursi kemuda. Amarah terlukis dengan jelas di wajahnya. Rahangnya mengeras menandakan dia sudah menahan amarah yag meletup letup. Bersiap menghancurkan segala sesuatu yang menghalang jalannya. Seorang wanita duduk di sampingnya memasang wajah cemas. Dia takut dengan cara mengemudi orang di sampingnya bak orang kesetanan.
Pria itu mengatur kopling dan menginjak gas menambah kecepatan. Dia pun berbelok tajam membuat ban berdecit keras. Tiba- tiba dia merasakan sentuhan di tangannya. Pria tadi menoleh ke arah wanita yang memasang wajah takut dan penuh kekhawatiran.
"Slow down, honey. They will not gonna catch us."
Seketika laju mobil melambat. Dia menatap wajah wanita tersebut dengan penuh kasih sayang. Dia mengecup bibir wanita tadi sekilas dan membelai lembut pipi putih merona tersebut.
"Don't worry. It's gonna be the last. Use your seatbelt, i will bring us out from they catch. Kita tidak boleh di perlakukan seperti ini. Kita bukan buronan kelas kakap."
Wanita tadi mengangguk pelan. Dia mengencangkan sabuk pengaman. Dia percaya kepada suaminya bahwa mereka akan baik- baik saja. Suara mobil paparazzi mulai terdengar mendekat. Pria itu menginjak gas dan masuk ke dalam jalan tikus untuk mengelabui mobil- mobil menyebalkan tersebut.
Jalan tikus tersebut menembus ke 11th Avenue. Sebuah jalan dekat dengan Eiffel Tower. Ferrari hitam keluar dari jalan tersebut dengan kecepatan tinggi. Tanpa mereka sadari dari arah berlawanan sebuah truk berbobot 250 kg menabrak mereka.
Ferrari itu langsung terbanting dan berguling beberapa kali. Sedangkan truk tadi menabrak beberapa mobil yang berlalu lalang di jalanan tersebut. Kecelakaan itu menimbulkan keramaian di sekitar. Para warga segera memadati lokasi kejadian.
Beberapa tim medis berdatangan. Petugas polisi mengamankan lokasi. Riuh ricuh terdengar di udara yang menyelimuti langit malam Paris. Jalanan Paris menjadi area kecelakaan besar.
Pria tadi menggenggam tangan wanita tadi. Mata biru cerah itu menatap iris hijau yang sekarang sedang bersimbah darah.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Aku belum bisa meninggalkan 'Dia'."
Setetes air mata lolos dari iris hijau tersebut. Jemari pria tadi tergerak menghapus air mata yang terjatuh tersebut.
"Tenanglah 'Dia' pasti baik - baik saja."
"Aku sangat mengkhaatirkan gadis itu. Kita akan meninggalkannya sendiri."
"Shhhh... dia tidak akan pernah sendiri." Cairan kental berwarna merah dan berbau amis keluar dari mulut pria itu.
Cairan yang sama mengalir turun dari kening wanita cantik itu. Dress creamnya sudah kotor dan robek di beberapa bagian. Sinar matanya mulai meredup.
"I Love You, my husband."
"I Love you more than you know, honey."
Pria itu mengecup jemari yang ada di genggamannya. Mereka berdua pun menghembuskan nafas terakhir. Jiwa mereka melayang terbang meninggalkan raga menembus langit dunia. Menghadap sang pencipta bersama- sama. Dalam ikatan dan perasaan yang takkan pernah hilang. yang akan selalu abadi.
Sesuatu yang berbentuk abstrak dan dinamakan dengan CINTA
~~~~~~~~~~********~~~~~~~~~~
Prolog, Author perbaiki atau bisa dibilang dengan revisi sedikit. Agar ceritanya lebih berbobot sedikit.
Warm Regards
Aletta Alexander Mindford
YOU ARE READING
Promise
Teen FictionPROMISE ~ Disaat seseorang mengincar nyawamu untuk sebuah pertanggung jawaban yang tak pernah kau ketahui ~ Berlari dan menyelamatkan diri hingga bertemu dengan seseorang yang akan mengajarkanmu tentang kehidupan yang sebenarnya ~ Sebuah kehidup...
