Once Again, Shall We?

65 22 4
                                        

Ini adalah minggu kedua kegiatan perang dingin diantara Daniel dan Sejeong.

Semenjak kejadian dimana Sejeong bareng Jennie, Yerin, dan Sana ngebuat keributan di kantin itu Daniel bener-bener marah besar ke pacarnya ini.

Di hari kejadian, dia gak segan-segan untuk berteriak manggil nama Sejeong di kantin yang saat itu lagi rame-ramenya. Daniel juga enggak perlu berpikir dua kali untuk narik Sejeong dari keributan yang perempuan itu buat sendiri.

Sementara Sejeong? Dia juga marah besar ke Daniel. Apalagi disini kasusnya adalah Sejeong ngelabrak selingkuhan Daniel. Dia gak salah disini, yang salah disini Daniel. Ditambah lagi Daniel bersikap seolah-olah Sejeong yang salah disini. Bukan Eunjin.

Dan semenjak pertengkaran yang bisa dilihat semua warga sekolah itu, Daniel dan Sejeong bersikap kaya enggak kenal sama sekali. Di kelas pun mereka enggak pernah berinteraksi. Baik Daniel atau Sejeong enggak memperlihatkan kalau mereka ini galau atau perasaan lainnya.

Semua orang pikir hubungan pasangan terkenal ini udah selesai. Tapi nyatanya belum ada kata putus diantara mereka.

O N C E       A G A I N

"Udahan aja, ya?"

Perkataannya enggak dapat respon sama sekali. Cuman sebuah tatapan dingin yang bisa dia liat dari sosok di hadapannya ini.

Walaupun dua menit udah berlalu gitu aja, dia tetep enggak dapat respon apa-apa.

Dan Nadiva Sejeong Salsabila pun milih untuk diam, enggak mau mendesak pacarnya ini untuk ngejawab.

"Jadi gimana?" bukannya ngejawab pertanyaan Sejeong, Daniel malah ngebuat suasana makin sulit untuk dimengerti.

"Apanya yang gimana?"

"Ya jadi gimana?"

"Apanya yang gimana, sih?"

"Hubungan kita."

Sejeong langsung diem. Enggak tau mau jawab apa padahal dia sendiri yang ngajuin untuk sampai disini tapi dia sendiri pun enggak tau mau jawab apa kalau kaya gini.

Di depannya ini, Daniel cuman bisa ngeliatin Sejeong yang sekarang cuman bisa nunduk ngeliatin sepatu full black nya itu.

"Aku enggak bisa apa-apa kalau kamu udah kaya mikir kaya gitu." Tambah Daniel yang langsung membuat Sejeong akhirnya mengangkat kepalanya untuk ngeliat Daniel.

"Tunggu sebentar," kata Sejeong sambil mengangkat salah satu tangannya, "Kamu tau gak sih salah kamu dimana?"

Sejeong enggak nerima jawaban untuk lima detik sampai akhirnya Daniel menggelengkan kepalanya. Hal itu langsung ngebuat Sejeong enggak bisa nahan diri untuk mukul Daniel.

"Duh, kok mukul, sih?"

"Aku kira kamu cuman bodoh di pelajaran aja, ternyata enggak."

Daniel malah merespon kata-kata Sejeong sambil ketawa kecil, "Ya habis harus gimana lagi? Lagian gak ada yang buka les khusus perasaan?"

Dari situ lah Sejeong langsung enggak bisa nahan emosinya. Disini dia lagi serius, tapi dia cuman dapet candaan dari Daniel.

"Udah lah, bodo amat gue, gak peduli lagi. Terserah lo mau sama siapa aja, gue gak peduli. Urus tuh cewe-cewe lo." Kata Sejeong sambil berbalik badan dan hendak pergi dari hadapan Daniel.

"Sejeong."

Langkah Sejeong langsung terhenti ketika Daniel manggil namanya ini. Dia noleh kebelakang dan mendapatkan Daniel dengan wajah linglungnya itu.

Lagi-lagi cuman ada suara pohon yang bergerak karena angin diantara mereka. Baik Sejeong dan Daniel sama-sama enggak bersuara, kata-kata yang udah mereka siapin pun cuman sebatas terpatri di kepala mereka.

"Okay, kita putus." Kata Daniel santai.

Sementara Sejeong cuman bisa mengangguk kuat dan berusaha keras untuk bilang ke dirinya sendiri kalau kejadian kaya gini emang bakal dateng cepat atau lambat.

Singkatnya, Daniel cuman numpang lewat di kehidupannya. Enggak lebih. Dan cuman sampai disini doang untuk Daniel mampir dihidupnya.

Tiba-tiba tanpa disangka Sejeong sama sekali, Daniel berjalan kearah dia sambil tersenyum. Tangan cowo itu pun dengan beraninya ngeraih tangan Sejeong dan menggenggamnya.

"Karena kita udah putus, gimana kalau kita dari nol lagi?"

Sejeong terpaku. Enggak bisa ngeluarin kata-kata sama sekali.

"Sejeong," panggil Daniel sambil melepas genggaman tangannya itu, "Mau pulang bareng?"

Kali ini Sejeong enggak bisa nahan tangisannya dan Daniel sendiri enggak bisa nahan diri untuk enggak senyun.

Tawaran pulang bareng dari Daniel tadi bukan sebatas tawaran biasa. Sejeong enggak pernah lupa awal mula perjuangan Daniel untuk ngedapetinnya.

Dan tawaran tadi adalah langkah pertama dari perjuangan Daniel satu tahun yang lalu dan gak bisa Sejeong lupain gitu aja walaupun pada saat itu Sejeong nolak tawaran Daniel dengan alasan dia udah mesen grab.

"Tapi aku pake rok span," kata Sejeong pelan.

Daniel malah tertawa kecil. Dia inget kalau rok span adalah alasan yang membuat Daniel gagal pulang bareng Sejeong untuk kedua kalinya.

"Aku udah minjem rok nya Yerin yang rampel, kamu pake gih." Daniel pura-pura menyodorkan sesuatu ke Sejeong padahal jelas-jelas enggak ada barang sama sekali di tangannya.

Yang semulanya nangis sekarang Sejeong malah ketawa. Dia enggak bisa ngelupain kebodohan Daniel saat itu.

Daniel juga ketawa dan dengan percaya dirinya dia narik Sejeong untuk meluk dia.

"Udahan, ya, marahannya? Aku cape."

Sejeong cuman ngangguk-ngangguk.

"Kamu gak mau ngomong apa gitu?" Tanya Daniel yang langsung direspon Sejeong dengan gelengan.

Lagi-lagi Daniel cuman ketawa, "Yaudah, aku aja yang bilang kalau gitu."

Sejeong enggak ngerespon ucapan Daniel. Bagi dia, harum dari tubuh Daniel lebih menarik daripada kata-kata Daniel yang tergolong selalu bullshit itu.

"Aku kangen kamu."

Kalau yang ini Sejeong sih inginnya bukan sekadar bullshit doang.

The End



Who is next?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 08, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

once again +kang danielStories to obsess over. Discover now