“Fennella Effie Lawler, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”
Pagi ini area lapangan olah raga outdoor yang biasanya lenggang menjadi riuh sorakan ramai mahasiswa salah satu Universitas di Odense. Semua nampak tertarik dengan adegan roman yang dilakukan pasangan muda di tengah-tengah lapangan itu. Dimana seorang laki-laki bersimpuh di depan gadis pemilik rambut coklat bergelombang yang menjuntai dibalik punggungnya. Menatap penuh harap agar pernyataan cintanya diterima oleh sang gadis. Berbekal perasaan dan sebuket mawar merah yang sudah ia siapkan, laki-laki itu masih setia menunggu jawabannya. Kalau biasanya semua gadis yang diperlakukan seromantis ini pasti akan bersemu merah, tapi berbeda dengan gadis yang satu itu. Tatap datar dan bersidekap bosan yang ditunjukkannya. Dia adalah Fennella Effie Lawler, gadis yang tak mudah ditakhlukan siapapun kecuali sogokan uang dari ayahnya dan pesona Viktor Lundager Axelsen.
“Apa sudah selesai, Rush?”, Gadis itu sedikit membungkuk, hendak membisikkan sesuatu. “Menurutku ini kurang romantis. Justru kau mempermalukanku, Russel Howard.”
Laki-laki bernama Russel itu menegang. Rencana yang sudah ia susun ternyata tak disukai sang gadis. Melaui pancaran iris birunya, ia melihat gadis yang sangat ia sukai hanya menatapnya dingin. Hatinya terluka, tentu saja. Sebuah penolakan secara halus dan menyakitinya.
“Berdiri, Rush!”, Russel mengikuti intruksi sang gadis. “Kalian semua bubar!”, dan kerumunan mahasiswa itu mulai lenggang satu persatu.
Russel merasakan matanya memanas. Sesuatu ingin melesak keluar dari sana. Tapi berhasil Russel tahan, ia tak boleh terlihat lemah di depan gadis yang sudah menyakiti hatinya. Sebuket bunga mawar yang ia bawa terjatuh. Selanjudnya, kejadian yang tak terduga. Gadis yang menolak perasaannya sekarang memeluk tubuhnya. Russel kembali menegang.
“Kau temanku, Rush. Sampai kapanpun kau tetap temanku, sahabatku.”
“Fe?”
“Tidak, Rush. Kau punya posisi sendiri di hatiku. Jangan bertindak bodoh dan menyebabkan aku membencimu.”
“Maaf, Fe. Ku kira setelah ini kau akan membenciku. Aku akan menerimanya.”
“Tidak. Tidak mungkin aku membencimu.”, Fennella atau yang akrab dipanggil Fe itu melepaskan pelukannya. “Sekarang ayo masuk kelas. Jangan bertindak bodoh lagi, aku membencinya.”, Keduanya kini beriringan menuju kelas mereka. Kebetulan Fe dan Russel memiliki jadwal kelas yang sama. Dua sahabat itu nampak kembali akrab dan menertawai kejadian tadi.
***
[To Be Continue]
✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴
Jadi juga deh akhirnya publikasiin ceritaku yang ini. Hoho.. Ini masih awal yah. Mohon kritik dan sarannya ya para readers 🙏
YOU ARE READING
HVORFOR (Why)
Teen FictionFennella Effie Lawler atau akrab dipanggil Fe oleh sahabatnya adalah seorang gadis asal Irlandia yang kini mengenyam pendidikan salah satu universitas ternama di Denmark. Selain untuk melanjudkan studynya, Fe mempunyai niat lain. Sebuah misi katanya...
