03 Desember 2016,
Aku dan Eka menjejakkan kakiku di halaman luas berpasir. Dari jauh ketiga sahabat kami sudah melambaikan tangan. Mereka adalah Tria, Diah dan Jayanti. Aku dan Eka mendekati mereka dengan senyum mengembang.
"Akhirnya berkumpul lagi." batinku.
Menyenangkan? Sudah jelas dan pasti. Sejak lulus SMA, berkumpul berlima dengan formasi nyaris lengkap adalah salah satu saat yang paling aku tunggu. Bagaimana tidak, Tria dan Diah yang harus kuliah kemudian melanjutkan kerja di luar kota membuat kami berlima susah mengatur waktu untuk berkumpul. Beruntung, disaat seperti ini kami akhirnya punya waktu.
Hari itu kami berada di rumah paman Jayanti. Besok adalah hari yang paling membahagiakan bagi Jayanti. Jayanti akan menikah, dengan laki-laki yang dikenalnya cukup lama. Akhirnya, aku menemukan lagi senyum bahagia Jayanti.
***
04 Desember 2016,
Pukul tujuh pagi aku sudah tiba di rumah paman Jayanti. Aku melihatnya, duduk diatas panggung menghadap penghulu, calon suami dan beberapa orang saksi. Di sebelah Jayanti ada ayah dan mamanya.
Aku tersenyum, Jayanti pun demikian. Dia terlihat cantik dengan balutan kebaya putih, pun kak Leo yang menggunakan beskap putih.
Mama Jayanti memberikan isyarat untuk duduk di belakang Jayanti. Ah Jay, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan selalu ada saat akad nikah kalian dilaksanakan.
Beberapa jam kemudian prosesi akad nikah selesai dilaksanakan. Jayanti dan kak Leo resmi menjadi pasangan halal. Aku, Eka dan Tria yang berada disana mengucapkan selamat pada Jayanti. Aku tahu, menjadi seorang istri adalah mimpimu Jay.
Hari itu juga resepsi pernikahan Jayanti di gelar. Aku, Eka, Diah dan Tria mengambil beberapa foto untuk kami abadikan sambil menunggu kedatangan Jayanti sebagai ratu hari itu.
Beberapa menit berselang. Jayanti disana, berdiri membelakangi pintu. Dibalut gaun merah dan sunting berwarna emas khas adat Palembang. Untuk sesaat aku terpana, Jayanti amat cantik hari itu.
Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya putih, wajahnya tidak sepucat kemarin-kemarin, dan senyum tidak pernah lepas di wajahnya.
Sahabatku yang secerah mentari.
***
Aku memutar kenop pintu, dan menemukan Jayanti duduk sendirian menghadap cermin. Wajahnya cantik, seperti acara pernikahannya kemarin. Senyumnya tidak lepas.
"Cantik Jay," tuturku.
Jayanti hanya tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
***
02 Agustus 2017,
Setitik air mengalir dari sudut mataku. Bantalku sedikit lembab. Aku barusan bermimpi menemukan Jayanti pada saat terindahnya. Aku kemudian memejamkan mata, cukup lama.
"Sore tadi, Jayanti sudah tidak ada Wi." batinku.
YOU ARE READING
Jayanti
General FictionCerita ini tentang Jayanti, sahabatku yang meninggal pada tanggal 02 Agustus 2017 lalu. Tentang dia yang secerah mentari dan setegar seorang ibu. Dia sahabatku. Sahabat terbaikku. Cerita ini 70% berdasarkan kisah nyata, sisanya aku tambahkan unsur f...
