Prologue

8 0 0
                                        


Wajah terlalu bulat, kulit gelap dibandingkan dengan orang Korea kebanyakan, pipi yang terlalu lebar dan chubby, hidung yang terlalu kecil, bibir yang tebal, alis yang juga terlalu tebal untuk ukuran seorang wanita sehingga tidak terlihat cantik sama sekali, dan mata yang terlihat selalu mengantuk. Rambut yang mengembang tidak beraturan. Tubuh pendek gempal, dan berkaki besar. Semua itu adalah definisi jelek bagiku, dan sayangnya kebanyakan orang mendeskripsikan aku seperti itu. Jelek.

Seperti belum cukup dengan semua itu, orang-orang juga membenciku karena aku jelek. Mereka menganggapku tidak berguna dan merusak pemandangan seperti sampah.

Masa-masa sekolah pun bagaikan masa-masa hukuman di neraka bagiku. Teman-temanku sering mengejekku, atau bahkan tidak mau dekat-dekat denganku. Saat itu aku hanya bisa menerima kalau aku sendirian, melakukan segala hal sendirian tanpa orang lain yang bahkan tidak bisa menerima keberadaanku.

Satu-satunya tempat yang kuanggap paling aman dari orang-orang yang kejam itu pun kini tak lagi seaman dan senyaman yang aku pikir. Tempat yang kusebut rumah. Sejak aku masih kecil, tiap kali aku pulang ke rumah dalam keadaan menangis karena tidak ada yang mau bermain denganku atau mengejekku, ayah dan ibuku selalu menghiburku dan menenangkanku, berkata bahwa mereka yang akan bermain denganku. Sampai suatu hari kakak lekaki ku satu-satunya pulang ke rumah dalam keadaan menangis dan marah. Marah kepadaku, karena aku jelek.

"Eomma, aku tidak mau punya adik jelek seperti Gaeul! Gara-gara dia, aku diejek oleh teman-temanku!", setelah berkata begitu ia langsung berlari memasuki kamarnya. Saat itu aku sangat takut melihat kemarahan dan kebencian kakakku. Tetapi aku lebih sedih lagi ketika melihat ibuku menangis. Sudah terlalu sering aku membuat ibuku bersedih dan menangis, karena aku jelek.

Ayahku tinggi, tampan, dan gagah, sedangkan ibuku cantik, bertubuh mungil, dan berkulit putih, dan kakakku mewarisi perawakan ayahku yang tinggi dan kulit ibuku yang putih. Hanya aku yang terlihat berbeda. Sempat terlintas dalam benakku, apa aku benar anak kandung orang tuaku, dan bukannya anak pungut? Aku pun pernah menanyakannya pada ibuku apa aku benar-benar anak kandungnya, mengapa aku berbeda dengannya, dengan ayah, dan dengan kakakku?

Mendengar pertanyaanku itu, ibuku pun menangis dan memelukku berkata berkali-kali bahwa aku anak kandungnya. Bahwa aku memiliki senyum manisnya, mata sayu ayah, dan kebaikan hati yang luar biasa. Saat itu aku pun memutuskan untuk diam dan tidak akan menanyakannya lagi pada ibu, karena itu membuatnya sedih.

Aku pun menjadi sadar diri. Sebisa mungkin aku berusaha untuk mandiri dan melakukan segala hal sendiri tanpa bantuan orang lain. Aku pun meminimalisir interaksiku dengan orang lain, menghindari bertemu dengan orang lain, menghindari kata-kata yang menyakitkan, menjauh dari pandangan yang merendahkan dan menghina, yang terpenting menghindar dari rasa patah hati-lagi. Aku bahkan mengurangi interaksiku dengan keluargaku. Aku tidak berbicara dengan ayah, ibu, atau kakakku jika mereka tidak mengajakku bicara terlebih dahulu. Aku lebih sering mengurung diri di dalam kamar, belajar dan mengerjakan tugas. Bertekad segera lulus SMA dan bisa hidup mandiri.

Hari itu pun tiba.

Aku berhasil lulus SMA dengan nilai tinggi, cukup untuk melanjutkan ke perguruan tinggi favorit di kota kelahiranku, Busan. Sayang, aku tidak berniat untuk melanjutkan studiku ke jenjang perkuliahan untuk saat itu. Lagi-lagi aku membuat ibu sedih, tapi aku berjanji bahwa ini untuk yang terakhir kalinya aku membuatnya sedih. Aku mengatakan pada ibu dan ayah bahwa aku ingin hidup mandiri dan mencari tempat tinggal sendiri dan bekerja terlebih dahulu. Awalnya ayah dan ibu merasa keberatan, namun kurasa ibuku mengerti alasanku untuk membuat keputusan yang cukup ekstrem untuk ukuran seorang gadis penyendiri berusia 17 tahun. Pada akhirnya mereka pun mengijinkanku untuk tinggal sendiri dengan syarat bahwa aku harus menelpon ibu setiap hari dan mereka masih memberiku uang jatah bulanan. Aku pun menyetujuinya dan bersiap untuk memulai hidup baru. Sendiri.


Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Aug 03, 2017 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

UglinessHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora