"Sungguh, ini benar-benar tidak adil!!!!!!" -batin gadis yang sedari tadi duduk diloteng.
Siang itu, awan seakan ikut runtuh ketika menyaksikan gadis berusia 19 tahun sedang menangis tersedu-sedu, seolah awan mengerti apa yang tengah dirasakan gadis yang setiap harinya selalu terlihat bahagia itu.
Salah seorang sahabat berjalan menuju gadis yang sedang asyik bercumbu dengan air mata yang sekarang membasahi pipi tembemnya.
Dengan sangat hati-hati, sahabat baik dari gadis itu pun berjalan dengan pelan dengan harapan gadis itu tidak mengetahui keberadaannya.
"Jangan mendekat!!!!!" -Gadis itu pun memberi intruksi tanpa menoleh, dengan harapan salah seorang sahabatnya tidak melanjutkan langkah.
Salah seorang sahabat itu mendengus kesal, langkah pelannya itu akhirnya terdengar gadis itu.
"Bentar lagi maghrib, apa ga sebaiknya kamu turun?" -jawab Lala salah satu sahabat gadis yang masih membeku itu.
*hening*
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gadis itu pun tak menjawab, masih mematung, hingga Lala mengurungkan niat mengajak gadis itu turun dari loteng.
Akhirnya, Lala mulai membuka mulut memecahkan keheningan diloteng itu.
"Aku juga tau, ini tempat favoritmu. Tapi, setidaknya kamu harus tau waktu. Kamu sudah ber jam-jam menghabiskan waktu diloteng ini, na. Apa yang kamu lakukan sedari tadi?"
Matahari mulai beranjak pergi, meninggalkan jejak lukisan jingga yang perlahan terkikis.
Gadis itu masih mematung menghiraukan Lala, yang kini sedang ada dibelakangnya dan mengajaknya bicara.
"Aku harus gimana lagi na supaya kamu mau turun denganku?" -batin Lala
Lala Jen, sahabat baik gadis itu. Lala sangat menyayangi gadis itu, Lala tau sahabatnya itu mempunyai rahasia besar yang tidak mau semua orang tahu termasuk dirinya. Tapi, Lala sama sekali tidak memikirkan rahasia yang disimpan gadis itu. Lala, hanya berpikiran bagaimana caranya agar gadis itu tidak bersikap aneh. Ya, gadis itu memang misterius. Tapi, Lala sangat menyayangi dan berharap gadis itu bisa berbagi cerita atas apa yang sedang gadis itu rasakan.
Gadis itu akhirnya membuka mulut. "Aku mau sendiri, pergilah! Ku harap, kau bisa mengerti" -timpal Ana
Yaa, gadis itu bernama Ana Pandini, gadis yang suka ngomong, selalu terlihat ceria dan suka bergaul itu dijuluki gadis misterius dan aneh oleh orang-orang yang berada disekelilingnya. Ana memang aneh, dia bisa sedih dan menangis tiba-tiba tanpa ada seorangpun yang tahu apa penyebabnya.
Ya, hanya Ana yang tau. Ana tidak pernah menceritakan masalah ini ke sahabat-sahabatnya. Jangankan sahabatnya, sama ibunya pun tidak.
Ana hanya menyimpannya rapih-rapih, meski menyimpan nya membuat ia rapuh setiap kali mengingatnya.
Ana menyimpan rahasia dan pertanyaan besar, hidupnya terus dikelilingi dengan pertanyaan besar itu. Entah, kapan pertanyaan itu akan terjawab. Yang jelas, aja lelah menyimpanya sendirian.
Pertanyaan itu muncul ketika takdir kejam itu terjadi 17 tahun yang lalu.
"Aku lelah, tiap kali memikirkan pertanyaan sialan ini" -batin Ana
Helloooowww readers😘😘 makasih yaa udah sempetin baca, jangan lupa tinggalkan jejak!
Jangan biasakan membaca tanpa meninggalkan jejak, hargai hayati yaaak! (Ciee mau dihargain) mwaaaaah salam manis dari author😍😍😍😍😍😍😍
YOU ARE READING
KENAPA?
Mystery / Thriller"Akan ada titik dimana aku merasa tidak tahu lagi harus berbuat apa, harus berkata apa, dan harus bagaimana. Sementara segala pertanyaan "kenapa" seakan menghajarku. Dan, penjelasan seolah memusuhi mengelak untuk ku ceritakan pada mereka yang peduli...
