"Sebaik apapun bulan menerangi malam dengan cahaya lembutnya, pasti akan ada saat dimana dia tergantikan oleh kehadiran matahari"
-Hryn
•
Berantakan. Baru kali ini penghuni kamar tersebut membiarkan kamarnya berantakan, bahkan dirinya sendiri yang membuat kamarnya terlihat seperti kapal pecah.
Kini, dia sedang duduk ditepi ranjang berukuran big size miliknya. Matanya agak meredup, kepalanya sangat pusing, dia merasa sesak karena apa yang baru saja terjadi pada dirinya tadi malam.
"Untuk kesekian kalinya........ gue harus ngerasain yang namanya kecewa!"
ucapnya pelan.
Vanilla Hryn. Remaja berusia 15 tahun itu kini sedang menatap pantulan wajahnya dicermin. Mencoba mengingat apa yang membuat matanya terlihat sembab.
Kejadian semalam tiba tiba saja terulang di kepalanya dengan sangat jelas, pertemuannya dengan orang itu ternyata malah membuat jantungnya remuk seperti sekarang.
"Ni, kenalin, ini cewe gue, namanya zyla"
Hanya kalimat itu yang dia ingat. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa kini orang yang selama bertahun tahun dia jadikan alasan untuk tetap tenang menjalani kehidupannya, malah menjadi orang yang kini membuatnya kalut dan berantakan.
Matanya memanas menahan rasa sesak di dadanya, sekeras mungkin dia berusaha mengontrol dirinya agar tenang, namun rekaan kejadian semalam itu kembali terulang.
"Al! Kalo kehadiran gua dihidup lo, cuma lo anggep sebagai pajangan hidup lo, yang selalu ada buat lu dan cuma dianggap kalau lu lagi sedih doang, harusnya lo itu mikir! Mana ada benda mati yang punya perasaan setulus gua!"
Sedih? Benarkah dia bersedih? Tapi perasaannya saat ini tak hanya merasakan rasa sedih, entah apa namanya, mungkinkah 'benci'?
Entahlah dia juga tak mengerti.
Kini dia sedang menatap lusuh ke arah lantai,dia kembali tersenyum sinis dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Kepingan beling berwarna hijau gelap berserakan dimana mana, dia benar benar mengingat jelas apa yang terjadi samalam.
"Gue bodoh? " tanyanya kepada diri sendiri.
"Bukan! tapi gue terlalu TULUS! ". Ucapnya lirih namun penuh penekanan pada kata terakhirnya
Dia bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap cermin datar berukuran besar yang terdapat di atas meja rias berwarna putih susu beecorak kraton miliknya,
Dia menatap teduh dirinya yang sekarang terlihat seperti orang gila dipantulan cermin tersebut, menggunakan kaos putih polos selengan, celana jeans pendek, rambutnya yang acak acakan, matanya sembab, dan keadaan kamarnya yang semakin memperburuk suasana
"Lo nyata kan Al selama ini? Terus kenapa sekarang lu mendadak jadi mimpi terburuk buat gue?" Suaranya mulai melemah di penghujung kalimatnya
dan sekektika....
'PPRRAAANNKKKK'
Dengan meluapkan segala emosinya dia mengahantam cermin dihadapannya dengan tangannya sendiri. Dia melihat darah yang keluar dari tangannya yang terluka akibat pecahan kaca dipunggung tangannya.
Dia membayangkan satu satunya orang yang benar benar dia harapkan dalam hidupnya,
yang bisa membuatnya bahagia sepanjang waktu,
Orang itu adalah orang yang sama yang telah membuatnya sekacau ini.
"Al, Gue butuh lo......"
Cairan sebening kristal itu yang tadinya menumpuk di kelopak matanya telah terjun ke pipi cabi milik wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Briefly
Teen FictionLo harus tau, kapan saatnya Lo diatur, kapan saatnya Lo yang ngatur.
